Wednesday, February 20, 2013

Bagaimana Gue Bisa Menjadi Seorang Juventini dan Gooner

Pertama kali gue mengenal sepakbola, Juventus adalah klub pertama yang gue ketahui. Itu pada saat gue masih kelas 1 SD, atau sekitar tahun 1992/1993. Karena Juventus adalah klub yang pertama gue kenal, maka dengan sendirinya darah Juventus mengalir di dalam diri gue. Sampai saat ini gue masih tetap sebagai tifosi Juventus.

Seiring berjalannya waktu, sekiranya tahun 1998/1999, saat Liga Inggris sudah termasuk sebagai Liga yang menarik di Indonesia, gue mengikuti MU. Terlebih saat gue dan kakak gue menonton bagaimana heroiknya para pemain MU saat merebut juara Liga Champions (saat itu masih Piala Champions) dengan mengalahkan Bayern Muenchen (atau Bayern Munich, atau FC Bayern, atau terserah lah pada mau nyebut apa) di final dalam waktu hanya 2 menit. Gue mulai mendukung MU, tapi Juventus tetap gue dukung, walaupun saat itu Juventus sedang mengalami musim yang buruk.

Seiring berjalan waktu, MU membeli Juan Sebastian Veron, yang mana sebetulnya gue kurang suka pemain ini. Alasannya simple, waktu itu dia main di Lazio, yang merupakan salah satu rival Juventus dalam perebutan Scudetto saat itu. Kekurang sukaan gue dengan MU mulai muncul. Plus ditambah menurut gue waktu itu permainan MU cenderung sedikit membosankan.

Lalu, pada November 2003, pada sebuah pertandingan Liga Champions antara Inter Milan melawan Arsenal, ada perubahan dalam hal dukung-mendukung tim ini. Sebelumnya, gue memang sudah beberapa kali melihat permainan Arsenal yang sebetulnya adalah rival MU, tapi gue akui Arsenal bermain lebih cantik dibandingkan MU. Pada pagi hari sambil sahur (karena saat itu bulan Ramadhan), gue menonton pertandingan tersebut. Dan di situ gue sangat-sangat terpesona dengan permainan Arsenal yang mampu mengalahkan Inter Milan (yang kebetulan salah satu tim yang paling gue benci) dengan skor bukan hanya 0-1, atau 0-2, tapi hingga 1-5! Bagaimana gol-gol dari Henry (2 gol, 2 assist), Ljunberg, Edu, dan Pires hanya mampu dibalas 1 gol oleh Vieri buat gue adalah sesuatu yang magis. Saat itu gue menonton salah satu sejarah sepakbola. Dan saat itu juga gue mulai mendukung Arsenal. Gue menjadi seorang Gooner pada hari itu.

Seperti yang diketahui, Arsenal mengakhiri musim tersebut dengan menjuarai Liga Primer Inggris tanpa terkalahkan, yang mana akhirnya menjadi rekor hingga tulisan ini dibuat sebanyak 49 pertandingan tidak terkalahkan. Tapi saat itu juga gue terakhir melihat Arsenal meraih gelar Liga Primer Inggris, setidaknya sampai saat tulisan ini diposting. Karena sudah dapat diketahui para pengamat sepakbola, musim selanjutnya Arsenal hanya mampu menjuarai Piala FA. Dan setelah itu hingga saat ini, Arsenal nihil gelar.

Sebagai pendukung sepakbola, gue cukup diuji dalam mendukung dua tim luar yang sampai saat ini masih dengan setia gue dukung. Juventus, terlibat skandal Calciopoli yang menyebabkan Juventus harus terdegradasi ke Serie-B pada tahun 2006. Sebuah pukulan yang sangat telak bagi para pendukung Juventus. Tapi, gue tetap setia mendukung Juventus, ga seperti para pemain-pemain pengkhianat macam Ibrahimovic si hidung baggy, Cannavaro si mata duitan, atau bahkan sang pelatih Fabio Capello, yang dengan egoisnya lebih baik cuci tangan demi menjaga nama baik diri sendiri.

Walau langsung promosi kembali ke Serie A pada musim selanjutnya, Juventus tetap kesulitan untuk kembali merebut gelar juara. Hingga, akhirnya pada tahun 2012 lalu, Juventus kembali meraih kejayaan di Serie A di bawah pimpinan Antonio Conte, salah satu legenda Juventus.

Di sini lain, di Arsenal, sebagai seorang Gooner, gue harus merasakan pahitnya tim yang gue dukung tanpa gelar hingga mungkin akan mencapai 8 musim. Hal ini semakin terasa, apabila gue sedang berbincang dengan pada pendukung tim lain, macam para pendukung MU yang beberapa gue temui sering berbicara sombong dan arogan, para pendukung Chelsea karbitan-yang-baru-gabung-pas-Chelsea-jadi-kaya-raya yang kurang menghargai tim lain, sama seperti pemiliknya yang kurang menghargai para pelatih dan pemainnya sendiri. Hal tersebut akan semakin pahit apabila melihat para pemain bintang Arsenal banyak yang pindah karena "katanya" ingin mendapat gelar, semacam Kolo Toure, Ad€ba¥or, Na$ri, dan yang paling terakhir plus paling gue harap ada pembunuh bayaran yang membunuhnya, Fuq Per$ie.

Tapi, dari situ, gue mendapat pelajaran tentang bagaimana gue harus berusaha loyal terhadap sesuatu, bagaimana gue harus sabar menghadapi sesuatu, bagaimana gue harus selalu bersikap rendah diri, dan bagaimana gue harus selalu menghargai orang maupun kelompok lain. Karena jadi pendukung setia Juventus maupun Arsenal itu bukanlah perkara mudah. Hanya orang tertentu yang mengerti.

Terutama para pendukung Arsenal, setelah kekalahan 8-2 dari MU musim lalu, terlihat which is the true gooner or not. Dan juga tadi malam, setelah dikalahkan Bayern Munich, yang mana secara tidak langsung memperpanjang catatan nihil gelar Arsenal semenjak 2005, mana para pendukung sejati, mana para pendukung karbitan. I'll always be a Gooner and Juventini.

2 comments:

Anonymous said...

http://zianagel.webs.com/#jojoba-oil-acne
ziana trial coupon [url=http://zianagel.webs.com/#acne-body-wash
] ziana side effects [/url] ziana side effects ziana gel for acne ziana price

Anonymous said...

ufmprmlxy www.louisvuittonhandbagsdiscountsale.com bobvbxban [url=http://www.louisvuittonhandbagsdiscountsale.com]discount louis vuitton bags[/url] fbhlqdzdp
gieldsdgf www.louisvuittonluggageonline.com tskvmujof [url=http://www.louisvuittonhandbagsdiscountsale.com]louis vuitton handbags outlet[/url] rutfjrdep
yttawthvo www.newdiscountlouisvuittonhandbags.com lwidptjbr [url=http://www.louisvuittonhandbagsdiscountsale.com]louis vuitton bags uk[/url] oqyjkruey
jfxwjgzwj www.newdiscountlouisvuittonhandbag.com nknvdmxqi [url=http://www.louisvuittonhandbagsdiscountsale.com]louis vuitton discount[/url] afetybnnk
tiaysduqv www.louisvuittonreplicbagsonline.com ojqjfkbwl [url=http://www.louisvuittonhandbagsdiscountsale.com]cheap louis vuitton[/url] opbymweuh