Tuesday, December 3, 2013

Just Post

Entah mengapa, tiba-tiba gue ngebuka blog ini lagi dan tiba-tiba juga gue membuat postingan ini di pagi hari. Di saat kantor masih sepi. Iya, jam 07:29 tapi kantor masih sepi. Gue maklum. Jadi, berhubung kantor masih sepi, dan aktivitas kantor juga belum terlalu padat, gue tiba-tiba (lagi) iseng ngebuka beberapa socmed gue.

Yang pertama adalah Facebook (FB), dimana dulu jadi socmed andalan pada masanya. Sekarang FB hanya gue pake buat main beberapa game untuk sekedar mengisi waktu luang. Tapi, gue cukup jarang melihat timeline. Nah, pagi ini gue ngebuka home timeline FB gue. Di situ gue sedikit mengernyitkan dahi. Bukan, bukan karena status-status galau, sok bijak, pamer dan lain sebagainya (karena gue sudah cukup biasa melihat hal seperti itu dan hanya berlalu tanpa melemparkan sedikit kepedulian). Yang membuat gue mengernyitkan dahi adalah gue baru sadar ada beberapa yang gue sebenernya ga kenal dan dalam pikiran gue langsung bertanya, "Ini siapa? Kenapa gue bisa temenan sama dia di FB? Siapa yang add friend duluan? Dia atau gue?" Sampe detik gue nulis ini di blog, gue belom nemu jawabannya. Dan mungkin akan jadi pertanyaan sekelas, "Duluan mana ayam atau telur?"

Yang kedua, gue buka Twitter. Dan setelah gue sadari, timeline twitter gue menjadi lebih informatif. Iya, karena sekarang udah mulai jarang yang ngetweet, dan akhirnya timeline gue lebih banyak dari situs-situs berita baik dalam maupun luar negeri.

Yang ketiga, gue buka Google+, hasilnya cuma bingung.

Yang keempat, gue buka Path. Isinya, mirip sedikit dengan FB yang mana banyak postingan tentang bercandaan galau, emosi, sindiran, dan banyak sekali pamer-memamer di sana.

Well, namanya juga social media. Yang fungsinya adalah untuk manusia bersosialisasi di dunia digital ini dengan perlahan mengalienasikan manusia di kehidupan nyatanya.

Monday, April 29, 2013

Postingan di Bawah Pengaruh Obat Radang Tenggorokan

Hari ini gue izin ga masuk kerja. Izin karena sakit. Sakit yang lagi-lagi menyerang di saat musim pancaroba, radang tenggorokan. Sebenernya, tenggorokan gue udah membaik, cuma masih ada beberapa obat yang harus gue tenggak dan efek dari obat itu cukup membuat gue teler. Seperti yang gue rasakan sekarang saat menulis postingan ini via mail BB (akibat terlalu malas membuka laptop) sambil setengah teler, mata kurang fokus.

Well, kalau dianalisa lebih lanjut, berdasarkan pemantauan gue dan orang sekitar gue, umumnya gue akan terserang penyakit (umumnya masalah hidung dan tenggorokan, walau pernah juga jadi alergi gatal di sekujur tubuh) apabila gue sedang dalam keadaan stress. Dan fakta itu cukup valid menurut gue. Dulu pas stress kerjaan di luar kota, gue pilek parah sampe demam. Pernah juga pas di luar kota (juga), gue tiba-tiba alergi yang ga jelas kenapa. Tapi menurut diagnosa dokter, gue stress.

Err, memang gue itu termasuk orang yg overthinking terhadap suatu problem. Gue terlalu dalam memikirkan suatu masalah, sehingga seringkali ngelupain keadaan psikis gue yang ujungnya berimbas ke keadaan fisik gue, pilek umumnya.

Dan memang, penyakit yg sekarang gue rasakan, radang tenggorokan, selain faktor cuaca, menurut gue faktor stress bisa menjadi penyebab utama penyakit gue ini. Jadi, hari ini sengaja gue "meliburkan" diri untuk menghindari segala stress yang menekan gue. Gue habisin waktu dengan tidur, makan, pup, browsing via hp, dan main game full berotasi. Dan semuanya dibawah pengaruh obat yang membuat gue setengah sadar.

Hasilnya, gue cukup relax, beberapa otot yang tegang mulai mengendur. Emosi sedikit ditekan. Cuma emang, efek obat bener-bener suka bikin gue disorientasi hari ini. Yah, tapi lumayan lah buat menghindari stress lingkungan sekitar yang menurut gue ga bisa menegakkan sila ke-5 dari Pancasila dengan baik.

Cheers!
May the force always be with me, not with those cunts.
Regards,
Bagus Saptopo
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, February 20, 2013

Bagaimana Gue Bisa Menjadi Seorang Juventini dan Gooner

Pertama kali gue mengenal sepakbola, Juventus adalah klub pertama yang gue ketahui. Itu pada saat gue masih kelas 1 SD, atau sekitar tahun 1992/1993. Karena Juventus adalah klub yang pertama gue kenal, maka dengan sendirinya darah Juventus mengalir di dalam diri gue. Sampai saat ini gue masih tetap sebagai tifosi Juventus.

Seiring berjalannya waktu, sekiranya tahun 1998/1999, saat Liga Inggris sudah termasuk sebagai Liga yang menarik di Indonesia, gue mengikuti MU. Terlebih saat gue dan kakak gue menonton bagaimana heroiknya para pemain MU saat merebut juara Liga Champions (saat itu masih Piala Champions) dengan mengalahkan Bayern Muenchen (atau Bayern Munich, atau FC Bayern, atau terserah lah pada mau nyebut apa) di final dalam waktu hanya 2 menit. Gue mulai mendukung MU, tapi Juventus tetap gue dukung, walaupun saat itu Juventus sedang mengalami musim yang buruk.

Seiring berjalan waktu, MU membeli Juan Sebastian Veron, yang mana sebetulnya gue kurang suka pemain ini. Alasannya simple, waktu itu dia main di Lazio, yang merupakan salah satu rival Juventus dalam perebutan Scudetto saat itu. Kekurang sukaan gue dengan MU mulai muncul. Plus ditambah menurut gue waktu itu permainan MU cenderung sedikit membosankan.

Lalu, pada November 2003, pada sebuah pertandingan Liga Champions antara Inter Milan melawan Arsenal, ada perubahan dalam hal dukung-mendukung tim ini. Sebelumnya, gue memang sudah beberapa kali melihat permainan Arsenal yang sebetulnya adalah rival MU, tapi gue akui Arsenal bermain lebih cantik dibandingkan MU. Pada pagi hari sambil sahur (karena saat itu bulan Ramadhan), gue menonton pertandingan tersebut. Dan di situ gue sangat-sangat terpesona dengan permainan Arsenal yang mampu mengalahkan Inter Milan (yang kebetulan salah satu tim yang paling gue benci) dengan skor bukan hanya 0-1, atau 0-2, tapi hingga 1-5! Bagaimana gol-gol dari Henry (2 gol, 2 assist), Ljunberg, Edu, dan Pires hanya mampu dibalas 1 gol oleh Vieri buat gue adalah sesuatu yang magis. Saat itu gue menonton salah satu sejarah sepakbola. Dan saat itu juga gue mulai mendukung Arsenal. Gue menjadi seorang Gooner pada hari itu.

Seperti yang diketahui, Arsenal mengakhiri musim tersebut dengan menjuarai Liga Primer Inggris tanpa terkalahkan, yang mana akhirnya menjadi rekor hingga tulisan ini dibuat sebanyak 49 pertandingan tidak terkalahkan. Tapi saat itu juga gue terakhir melihat Arsenal meraih gelar Liga Primer Inggris, setidaknya sampai saat tulisan ini diposting. Karena sudah dapat diketahui para pengamat sepakbola, musim selanjutnya Arsenal hanya mampu menjuarai Piala FA. Dan setelah itu hingga saat ini, Arsenal nihil gelar.

Sebagai pendukung sepakbola, gue cukup diuji dalam mendukung dua tim luar yang sampai saat ini masih dengan setia gue dukung. Juventus, terlibat skandal Calciopoli yang menyebabkan Juventus harus terdegradasi ke Serie-B pada tahun 2006. Sebuah pukulan yang sangat telak bagi para pendukung Juventus. Tapi, gue tetap setia mendukung Juventus, ga seperti para pemain-pemain pengkhianat macam Ibrahimovic si hidung baggy, Cannavaro si mata duitan, atau bahkan sang pelatih Fabio Capello, yang dengan egoisnya lebih baik cuci tangan demi menjaga nama baik diri sendiri.

Walau langsung promosi kembali ke Serie A pada musim selanjutnya, Juventus tetap kesulitan untuk kembali merebut gelar juara. Hingga, akhirnya pada tahun 2012 lalu, Juventus kembali meraih kejayaan di Serie A di bawah pimpinan Antonio Conte, salah satu legenda Juventus.

Di sini lain, di Arsenal, sebagai seorang Gooner, gue harus merasakan pahitnya tim yang gue dukung tanpa gelar hingga mungkin akan mencapai 8 musim. Hal ini semakin terasa, apabila gue sedang berbincang dengan pada pendukung tim lain, macam para pendukung MU yang beberapa gue temui sering berbicara sombong dan arogan, para pendukung Chelsea karbitan-yang-baru-gabung-pas-Chelsea-jadi-kaya-raya yang kurang menghargai tim lain, sama seperti pemiliknya yang kurang menghargai para pelatih dan pemainnya sendiri. Hal tersebut akan semakin pahit apabila melihat para pemain bintang Arsenal banyak yang pindah karena "katanya" ingin mendapat gelar, semacam Kolo Toure, Ad€ba¥or, Na$ri, dan yang paling terakhir plus paling gue harap ada pembunuh bayaran yang membunuhnya, Fuq Per$ie.

Tapi, dari situ, gue mendapat pelajaran tentang bagaimana gue harus berusaha loyal terhadap sesuatu, bagaimana gue harus sabar menghadapi sesuatu, bagaimana gue harus selalu bersikap rendah diri, dan bagaimana gue harus selalu menghargai orang maupun kelompok lain. Karena jadi pendukung setia Juventus maupun Arsenal itu bukanlah perkara mudah. Hanya orang tertentu yang mengerti.

Terutama para pendukung Arsenal, setelah kekalahan 8-2 dari MU musim lalu, terlihat which is the true gooner or not. Dan juga tadi malam, setelah dikalahkan Bayern Munich, yang mana secara tidak langsung memperpanjang catatan nihil gelar Arsenal semenjak 2005, mana para pendukung sejati, mana para pendukung karbitan. I'll always be a Gooner and Juventini.

Monday, February 18, 2013

Emosi Tumbukan

"Lo ga mau cari kerjaan baru lagi? Biar weekend lo ga penuh emosi lagi."

***

Kutipan kalimat di atas terucap dari mulut Lanang, seorang teman gue dari semenjak SMA, di sebuah restoran soto kudus di Jakarta Selatan. Gue yang duduk di samping Lanang, yang pada SMA juga duduk di samping Lanang, kaget dengan kalimat itu. Kaget pertama dengan pertanyaan, "Lo ga mau cari kerjaan baru lagi?" Dan kaget kedua dengan alasan dari pertanyaan pertama, "Biar weekend lo ga penuh emosi lagi."

Kaget pertama: "Lo ga mau cari kerjaan baru lagi?"
Pertanyaan tersebut cukup menyentil pikiran gue, karena gue sendiri juga sedikit ragu dengan pekerjaan gue saat ini. Apakah gue sudah cukup nyaman dengan pekerjaan saat ini? Apakah gue sudah cukup puas dengan pekerjaan gue sekarang? Ya, pertanyaan dari temen gue itu justru menimbulkan pertanyaan lebih banyak di kepala mengenai pekerjaan gue.

Kaget kedua: "Biar weekend lo ga penuh emosi lagi."
Penyataan di atas menjadi sebuah inputan penilaian dari temen gue yang melihat keadaan gue sekarang. Memang, yang tau diri kita ya kita sendiri. Tapi yang melihat dan menilai perilaku dari output yang ada di dalam diri kita adalah orang lain di sekitar kita, yang dalam hal ini adalah temen gue sendiri. Dia mewakilkan penilaian temen-temen gue yang lain, yang melihat bahwa gue akhir-akhir ini ga pernah enjoy dalam menjalani weekend. Dan gue cukup tersentil untuk kemudian sadar.

Gue menyadari, kalo di pekerjaan saat ini gue emang bisa lebih deket sama orang-orang terdekat. Lebih mudah ketemu mereka tepatnya. Tapi di sisi lain, ternyata mungkin gue kurang bisa mengikuti keadaan lingkungan yang mungkin menurut gue chaos, jauh dari keteraturan seperti yang biasa gue alami dulu. Dan hal seperti itu yang menyebabkan gue diakrabi oleh stress yang lebih besar dibandingkan dulu.

Ada yang bilang, bahwa gue terlalu tancap gas di lingkungan sekarang. Sehingga gue lebih stress dibandingkan dulu. Gue tancap gas karena memang kebiasaan gue di lingkungan lama yang selalu mengharuskan gue tancap gas, dan lingkungan sekitar pun mendukung. Sekarang, gue tancap gas di lingkungan yang terlalu chaos. Banyak tumbukan yang mau ga mau harus gue alami. Di fisika, tumbukan yang gue alami mungkin adalah semacam tumbukan lenting sebagian. Tidak beraturan, chaos, ada energi yang terbuang. Menyebabkan stress. Menghasilkan emosi.

Jadi, kembali ke pertanyaan utama, apakah gue ga mau cari kerjaan baru lagi? Keinginan seperti itu pasti ada melihat situasi yang seperti sekarang. Tapi, gue ga mau terlalu cepat ambil keputusan. Paling enggak, gue ga mau kejadian seperti di tempat lama terulang. Gue harus menyelesaikan tanggung jawab gue dulu di sini. Datum perficiemus munusWe shall accomplish the mission assigned.

Thursday, January 3, 2013

2012 Summary

Pre-post: Ini nih ya, sebenernya gue udah ngedraft tulisan ini dari akhir tahun 2012. Tapi ya, tapi lagi, namanya manusia selalu aja ada penundaan, dan akhirnya baru bisa ngelanjutin setelah hari ke-3 di awal tahun 2013 ini. Ha!

***

2012 akan segera sudah lengser, digantikan oleh 2013. Tahun ini lalu kerasa cepet banget kelewatnya, yang tanpa gue sadari ternyata banyak momen yang gue hadapi di tahun ini lalu. Oke langsung to the point, momen-momen tahun 2012 ini kemarin adalah: *ba dum tss*

  1. Tahun baru 2012 di site, merana.
  2. Liburan awal tahun bareng keluarga, termasuk keponakan.
  3. Andhy & Fika akhirnya nikah.
  4. Big Guy & Afhie akhirnya juga nikah seminggu kemudian.
  5. Dibikin susah keluar dari perusahaan lama.
  6. Akhirnya keluar dari perusahaan lama.
  7. Memulai pekerjaan di tempat baru.
  8. Ketemu temen kerja baru.
  9. Liburan bareng temen-temen ke Bandung.
  10. Liburan tengah tahun bareng keluarga lagi, termasuk keponakan lagi dan lebih lengkap.
  11. Juventus akhirnya juara Serie A lagi, unbeatable!
  12. Arsenal finish top 3.
  13. Sp*rs ga lolos Champions.
  14. Spanyol juara Piala Eropa lagi.
  15. Fuq Per$ie membelot ke lingkaran setan dari Arsenal.
  16. Pertemuan keluarga.
  17. Adit si sepupu nikah.
  18. Juventus lolos grup, ngalahin Chel$hit.
  19. Night Safari.
  20. Kiamat batal/diundur.
  21. Flu akhir tahun (lagi).
Summary dari perjalanan hidup gue selama setaun bisa dibilang hampir sesuai keinginan gue yang ada di postingan akhir tahun 2011 sebelumnya. Walau nyatanya exit itu muncul di akhir Maret. Yap, akhirnya ada revolusi dalam hidup gue, khususnya pekerjaan.

Untuk tahun ini, harapan gue mungkin hanya apa yang gue rencanakan dapat berjalan dengan baik. Walaupun ada mungkin sedikit hambatan, semoga gue bisa mengatasi segala hambatan itu. Dan yang paling pasti, gue berharap tahun ini gue bisa menjadi ORANG YANG LEBIH SABAR! MERDEKA!