Tuesday, December 18, 2012

Setelah menonton buku yang difilmkan itu...

Pre -notes,
for that spoiled brat:
No, it was never a joke. Yes, I just really mean. Then, go cry to your mom, go tell to your dad to punish me, or even all of my friends for being really mean to you. YOU. SUCH. A. F*CK*N. DOUCHE.

***

Jadi, akhir pekan kemarin gue nonton '5 cm.'. Itu tuh, film yang berasal dari buku dengan judul yang sama karya Donny Dhirgantoro. Dari apa yang gue baca dari bukunya, sebetulnya cerita di buku ini bagus. Tapi... (semua selalu ada tapinya). Tapi, sayangnya setelah gue selesai membaca buku tersebut. Gue ga bisa menemukan inti dan maksud dari si judul itu sendiri (5cm.). Malahan, gue merasa isi cerita sama judulnya itu ga ada hubungannya. Yah ada sih sedikit, tetapi terlalu dipaksakan.

Dari buku juga, kalau gue kesampingkan ceritanya, tulisan di dalam buku ini sangat lebay. Banyak kata-kata mutiara diapksakan yang ditulis berulang yang membuat gue berkali-kali mengernyitkan dahi saat membacanya karena seringkali berpikir, "Ini norak amat?"

Tapi tetep, gue suka sama ceritanya, gue suka sama petualangannya. Walau lagi-lagi ending di bukunya ngebuat gue mengernyitkan dahi, "Kenapa endingnya dipaksakan begini sih?"

Nah, sebelom gue nonton kemaren, ada beberapa ekspektasi gue, yaitu:

  1. Semoga adegan lebay Zafran jadi eminem ga ada.
  2. Semoga adegan lebay Ian ngomong sama komputer ga ada.
  3. Semoga adegan lebay Ian jadi teletubbies ga ada.
  4. Semoga kata-kata mutiaranya ga terlalu norak dan ga banyak diulang.
  5. Semoga endingnya ga terlalu dipaksakan lagi.
Lalu, menonton lah gue film '5cm.' di Pondok Indah.

Dari segi cerita, seperti biasa, film itu selalu lebih ringkas dari bukunya. Jadi buat para pembaca '5 cm.' yang budiman dimohon jangan terlalu berharap banyak detail cerita akan sama persis. Dan, please, jangan juga dikit-dikit nyeletuk, "Ihh, di buku ga kaya gini!" Atau nyeletuk, "Lah? Harusnya kan ceritanya kaya begini kalo di buku?" Please, please, please jangan nyeletuk membandingkan buku dan film selama pertunjukan film berlangsung. SO. DAMN. ANNOYING.

Akting para pemain juga terbilang cukup baik. Walau di beberapa adegan terlihat Pevita Pearce terlalu kaku untuk memerankan Arinda (iya, Arinda memang di buku dikisahkan memiliki pembawaan kaku, tapi akting Pevita kadang terlalu kaku dan terlihat dibuat-buat), juga Raline Shah yang sempat gagal menangis.

Akting Junot bisa dibilang cukup baik kalau tidak bisa dikatakan yang terbaik dalam film ini. Dia mampu membuat Zafran a.k.a Juple yang di buku memang dikisahkan humoris tetapi sisi melankolisnya cenderung norak, di film Junot mampu memerankan melankolis sekaligus humoris dengan cukup modern, sehingga tidak terlihat norak. Akting dari Igor dan Denny Sumargo juga cukup baik menurut gue. Namun, sayang Fedi Nuril diberikan script dengan dialog yang terlalu kaku dan lagi-lagi memiliki kata-kata mutiara yang norak.

Berdasarkan apa yang gue lihat, maka dari ekspektasi gue dihasilkan:
  1. Syukurlah adegan lebay Zafran dan Ian tidak ada.
  2. Ahh, ternyata masih ada kata-kata mutiara yang sedikit norak dan diulang.
  3. Syukurlah endingnya ga begitu dipaksakan, walau tetap harus sedikit dipaksakan agar tidak terlalu melenceng dari film.
  4. Syukurlah bisa lihat adegan Pevita Pearce pake G-string.
Umumnya, kisah di buku yang kemudian dijadikan film itu cenderung kurang memenuhi ekspektasi para pembaca buku tersebut, contoh Harry Potter Saga, Da Vinci Code, dan Vampire Homo Saga. Namun, menurut gue, film '5 cm.' ini lebih baik dari bukunya yang gue sendiri bingung mengkategorikan sebagai karya sastra atau sekedar novel jayus remaja. Tapi, sayangnya, gue tetep ga bisa mendalami filosofi dari '5 cm.' itu sendiri. Kurang greget aja menurut gue filosofinya. Menurut gue lhooooooooo, kalo menurut yang lain greget dan dipakai sehari-hari, ya maap!

Sekian review gue setelah menonton film '5 cm.' Maaf kalau gue terlalu banyak mengkritik bukunya, gue suka kok bukunya, cuma kurang srek aja sama kalimat puitis nan norak nan lebay di dalemnya.

Ciao!

No comments: