Sunday, December 30, 2012

Night Safari Taman Safari Indonesia

Ini postingan yang sangat telat, tapi daripada ga gue posting sama sekali, mendingan telat kan?

Jadi, ceritanya 3 minggu lalu gue lagi tamasya bersama rekan sejawat atau kelompok bermain gue ke puncak. Emang udah direncanain, kalo ke puncak, kami mau nyoba yang namanya Night Safari di Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua. Pengen tau, kaya apa sih rasanya ngeliatin satwa-satwa TSI di malem hari, yang kata mas-mas tour guidenya sebagian besar merupakan hewan nocturnal atau hewan yang mampu beradaptasi dengan baik justru di saat malam. Berangkatlah kami ke TSI jam 19.00 WIB. Makin penasaran karena katanya di Safari Night itu, kita ga akan naik mobi pribadi, tapi naik bus khusus yang disediakan oleh pihak TSI.

Setelah nyampe di pintu masuk TSI, kami bayar tiket seharga Rp.130.000,- per orang, plus mobil tetep dikenai charge seharga Rp.10.000,- walaupun nantinya kita keliling TSI ga naik mobil pribadi. Lalu kami diinstruksikan untuk langsung menuju parkiran TSI. Kemudian di dalem, gue register kelompok bermain gue di information center, dan dapet nomor urut 29 dan diminta menggunakan tiket yang kami dapat di loket masuk sebagai gelang. Pantesan itu tiket panjang.



Pas nomor kami dipanggil, ternyata kita bukan naik bus loreng-loreng a la TSI itu, tapi naik kereta bus gitu. Itu lho, semacem kereta, tapi ditarik sama truk semacam Optimus Prime. Dan yang membuat lebih seru adalah, kereta yang kami naiki itu terbuka! Jadi otomatis kalo nanti ada satwa mendekat, kita bakal deket banget. Kalo Jerapah deket-deket kita bisa kena jilat. Tapi karena terlalu excited, kami sampe lupa ngefoto itu kereta yang kami naikin, yang ada pas kami udah di atas kereta.


Trio homo dalam kelompok bermain

Berangkat lah kita ke tempat pelepasan satwa! Mas-mas tour guide bilang kalo mau foto satwa jangan pake blitz/flash. Oke, kami turutin, ini salah satu hasil foto yang diambil trio homo:



Iya, gelap, karena emang suasanya sangat-sangat gelap, hanya bergantung dari lampu sorot yang ada di kereta kita, dan itu pun hanya sesekali dinyalakan, tapi mata kita tetep bisa liat satwa-satwa itu kok. Dan ternyata, exhibit pelepasan di TSI ini udah direnovasi jadi keren! Jerapah jadi ga bisa ngejilat kita lagi. Exhibit hewan buas semacam singa dan macan, sekarang ga perlu lewat dua pintu elektrik lagi, karena sekarang exhibit mereka sudah dibatasi oleh parit dalam. Overall, exhibit dari pelepasan satwa di TSI ini udah keren.

Selesai muter-muter liat pelepasan satwa, kita akan diturunkan di Baby Zoo, yaitu exhibit untuk satwa-satwa yang belum cukup umur untuk dilepas di exhibit utama. Di Baby Zoo juga kita bisa foto bareng sama satwa, salah satu contohnya seperti di bawah ini.

Bayi singa foto sama Raja Hutan

Keluar dari Baby Zoo, kita bebas main wahana-wahana yang ada di dalam situ, kecuali ada beberapa permainan yang harus bayar tambahan. Tapi, anehnya setiap mau naik permainan, gelang tiket kita diberi tanda bahwa kita sudah main wahana itu. Semisal Rumah Hantu, nanti gelang kita diberi tanda bahwa kita sudah masuk ke dalam. Nah, gue belom ngecek apa kita cuma bisa sekali masuk ke situ atau sebenernya bisa lagi.

Semua wahana dapat dimainkan hingga pukul 21.00 WIB. Setelah itu kita bisa menonton atraksi satwa dan terakhir sebagai penutup ada atraksi fire dance. Well, overall Night Safari ini seru juga dan patut dicoba buat yang pengen ngerasain di hutan malem-malem, tapi ga punya nyali buat berpetualang di hutan beneran.

Auuuuummmm!

Tuesday, December 18, 2012

Setelah menonton buku yang difilmkan itu...

Pre -notes,
for that spoiled brat:
No, it was never a joke. Yes, I just really mean. Then, go cry to your mom, go tell to your dad to punish me, or even all of my friends for being really mean to you. YOU. SUCH. A. F*CK*N. DOUCHE.

***

Jadi, akhir pekan kemarin gue nonton '5 cm.'. Itu tuh, film yang berasal dari buku dengan judul yang sama karya Donny Dhirgantoro. Dari apa yang gue baca dari bukunya, sebetulnya cerita di buku ini bagus. Tapi... (semua selalu ada tapinya). Tapi, sayangnya setelah gue selesai membaca buku tersebut. Gue ga bisa menemukan inti dan maksud dari si judul itu sendiri (5cm.). Malahan, gue merasa isi cerita sama judulnya itu ga ada hubungannya. Yah ada sih sedikit, tetapi terlalu dipaksakan.

Dari buku juga, kalau gue kesampingkan ceritanya, tulisan di dalam buku ini sangat lebay. Banyak kata-kata mutiara diapksakan yang ditulis berulang yang membuat gue berkali-kali mengernyitkan dahi saat membacanya karena seringkali berpikir, "Ini norak amat?"

Tapi tetep, gue suka sama ceritanya, gue suka sama petualangannya. Walau lagi-lagi ending di bukunya ngebuat gue mengernyitkan dahi, "Kenapa endingnya dipaksakan begini sih?"

Nah, sebelom gue nonton kemaren, ada beberapa ekspektasi gue, yaitu:

  1. Semoga adegan lebay Zafran jadi eminem ga ada.
  2. Semoga adegan lebay Ian ngomong sama komputer ga ada.
  3. Semoga adegan lebay Ian jadi teletubbies ga ada.
  4. Semoga kata-kata mutiaranya ga terlalu norak dan ga banyak diulang.
  5. Semoga endingnya ga terlalu dipaksakan lagi.
Lalu, menonton lah gue film '5cm.' di Pondok Indah.

Dari segi cerita, seperti biasa, film itu selalu lebih ringkas dari bukunya. Jadi buat para pembaca '5 cm.' yang budiman dimohon jangan terlalu berharap banyak detail cerita akan sama persis. Dan, please, jangan juga dikit-dikit nyeletuk, "Ihh, di buku ga kaya gini!" Atau nyeletuk, "Lah? Harusnya kan ceritanya kaya begini kalo di buku?" Please, please, please jangan nyeletuk membandingkan buku dan film selama pertunjukan film berlangsung. SO. DAMN. ANNOYING.

Akting para pemain juga terbilang cukup baik. Walau di beberapa adegan terlihat Pevita Pearce terlalu kaku untuk memerankan Arinda (iya, Arinda memang di buku dikisahkan memiliki pembawaan kaku, tapi akting Pevita kadang terlalu kaku dan terlihat dibuat-buat), juga Raline Shah yang sempat gagal menangis.

Akting Junot bisa dibilang cukup baik kalau tidak bisa dikatakan yang terbaik dalam film ini. Dia mampu membuat Zafran a.k.a Juple yang di buku memang dikisahkan humoris tetapi sisi melankolisnya cenderung norak, di film Junot mampu memerankan melankolis sekaligus humoris dengan cukup modern, sehingga tidak terlihat norak. Akting dari Igor dan Denny Sumargo juga cukup baik menurut gue. Namun, sayang Fedi Nuril diberikan script dengan dialog yang terlalu kaku dan lagi-lagi memiliki kata-kata mutiara yang norak.

Berdasarkan apa yang gue lihat, maka dari ekspektasi gue dihasilkan:
  1. Syukurlah adegan lebay Zafran dan Ian tidak ada.
  2. Ahh, ternyata masih ada kata-kata mutiara yang sedikit norak dan diulang.
  3. Syukurlah endingnya ga begitu dipaksakan, walau tetap harus sedikit dipaksakan agar tidak terlalu melenceng dari film.
  4. Syukurlah bisa lihat adegan Pevita Pearce pake G-string.
Umumnya, kisah di buku yang kemudian dijadikan film itu cenderung kurang memenuhi ekspektasi para pembaca buku tersebut, contoh Harry Potter Saga, Da Vinci Code, dan Vampire Homo Saga. Namun, menurut gue, film '5 cm.' ini lebih baik dari bukunya yang gue sendiri bingung mengkategorikan sebagai karya sastra atau sekedar novel jayus remaja. Tapi, sayangnya, gue tetep ga bisa mendalami filosofi dari '5 cm.' itu sendiri. Kurang greget aja menurut gue filosofinya. Menurut gue lhooooooooo, kalo menurut yang lain greget dan dipakai sehari-hari, ya maap!

Sekian review gue setelah menonton film '5 cm.' Maaf kalau gue terlalu banyak mengkritik bukunya, gue suka kok bukunya, cuma kurang srek aja sama kalimat puitis nan norak nan lebay di dalemnya.

Ciao!

Wednesday, November 7, 2012

26 + 0.083

Update: DAFUQ salah nulis juduuuulll! Harusnya 26, bukan 25!

Seharusnya, tulisan ini dibuat sebulan yang lalu, tepat di hari saya berulang tahun yang ke-26. Ya, ya, ya, makasih-makasih. (Pede!)

Namun, apa daya, kembali lagi kemalasan saya dalam menulis blog menghampiri saya dengan lancangnya beberapa saat kemarin. Alhasil, baru dapat ditulis hari ini, tepat sebulan setelah saya berulang tahun.

Pada tulisan tahun lalu, terlihat jelas bahwa saya saat itu sedang dalam masa kesepian dalam artian sebenarnya. Saya sedang berada di luar kota, tepatnya di Paiton kalau tidak salah, dan melewatkan hari ulang tahun sendirian. Walau tetap ada client saya yang tahu, itu pun sepertinya tahu dari jejaring sosial Facebook.

Tahun lalu, saya seperti sudah tidak ingin berekspektasi lebih terhadap keadaan pekerjaan saya waktu itu yang memang mengharuskan saya sering keluar kota. Tapi, siapa sangka, sebulan setelah saya berulang tahun, saya mendapat tantangan pekerjaan baru di Jakarta. Walau, kenyataannya saya baru dapat resmi pindah 5 bulan setelahnya dan sempat melewati hal-hal yang kurang mengenakan dan saya rasa kurang pantas saya paparkan di sini demi menghormati nama baik tempat lama tersebut.

Memang, saat itu saya sudah tidak berharap lagi terhadap kehidupan pekerjaan saya, kalau memang harus sering berada di luar ya sudah tidak masalah. Walaupun, dalam hati kecil masih ada keinginan untuk dapat bekerja dengan lokasi yang lebih sering di Jakarta. Memang, Tuhan itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Alhamdulillah, saya diberikan jalan tersebut.

Dan Alhamdulillah, saya dapat melewati ulang tahun saya tahun ini dengan keluarga, teman-teman terdekat, teman-teman baru, dan tentunya si calon nyonyanya saya sendiri. Buat saya, hal seperti itu tidak dapat dialihkan dengan kado apa pun juga. Yah, tahun ini lebih baik, semoga tahun depat lebih spektakuler lagi dari tahun ini. Dan semoga segala keinginan yang terpendam di hati kecil saya dapat terwujud. Kalau pun tidak, tentunya Tuhan punya hadiahnya sendiri yang lebih baik untuk saya rasakan dan nikmati.

Don't postpone happiness!


Monday, September 24, 2012

Just a Passenger of Pale Blue Dot

Oke, gue kurang suka dengan settingan baru blogger untuk custom domain. Yang mana hasilnya adalah blog gue harus diakses dengan alamat lengkap menggunakan "www" menjadi www.bagusaptopo.com, dan ga bisa naked doamin sekedar bagusaptopo.com. Ga masalah sih, cuma sedikit risih aja.

***

Seperti biasa, postingan pendek aja, karena kalo kepanjangan nanti bayar pulsanya mahal. (Dikata sms bayar per karakter??!)


Gambar di atas sengaja gue setting X-Large (khusus untuk yang buka via desktop browser),  karena di situ ada sebuah titik. Titik berwarna biru keputihan. Terletak di sekitar tengah garis coklat di kanan. Kalau sudah ketemu, gue beri tahu, titik itu adalah.. bumi. Bumi, tempat planet kita tinggal sekarang.

Foto di atas diambil dari jarak sekitar 6 milyar kilometer jauhnya dari bumi. Diambil oleh sebuah satelit buatan bernama Voyager 1, pada tahun 1990. Memerlukan waktu sekitar 13 tahun bagi satelit tersebut untuk mencapai titik tersebut, berputar, dan mengambil foto bumi dari jarak tersebut. Foto tersebut merupakan permintaan dari seorang penulis buku sekaligus astronom Amerika bernama Carl Sagan.

Terlepas dari data teknis dan bagaimana foto tersebut diambil, ada baiknya kita dalami baik-baik makna dari foto tersebut. Bayangkan, bumi yang sampai saat ini kita tempati sebagai rumah kita, yang kita anggap sangat luas, sangat besar, ternyata hanyalah sebuah titik pada jarak pandang seperti itu. Sebesar apa pun Tembok China, setinggi apa pun Burj Khalifa, tetap tidak akan terlihat. Tetap hanya bagian kecil dari titik tersebut.

Karena itu, gue coba selalu ingat titik di foto ini apabila gue merasa bahwa gue sudah menganggap diri gue paling hebat. Foto ini akan segera mengingatkan kembali, betapa hebatnya seseorang, tetap tidak ada apa-apanya apabila kita mau menyadari bahwa kita hanyalah bagian kecil dari titik tersebut. Tidak lebih. Mengapa harus selalu merasa paling hebat kalau ternyata kita hanyalah bagian titik kecil dari ciptaan Tuhan yang luas dan tanpa batas ini? ;)

Till next post!

"Consider again that dot. That's here. That's home. That's us. On it everyone you love, everyone you know, everyone you ever heard of, every human being who ever was, lived out their lives. The aggregate of our joy and suffering, thousands of confident religions, ideologies, and economic doctrines, every hunter and forager, every hero and coward, every creator and destroyer of civilization, every king and peasant, every young couple in love, every mother and father, hopeful child, inventor and explorer, every teacher of morals, every corrupt politician, every "superstar," every "supreme leader," every saint and sinner in the history of our species lived there – on a mote of dust suspended in a sunbeam."
-Carl Sagan, Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space

Image source:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/73/Pale_Blue_Dot.png
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/71/PaleBlueDot.jpg

Wednesday, September 19, 2012

Bersihin Debu Dan Surat Suara

Jadi ceritanya ini gue baru sadar bahwa blog gue ternyata sempet ga bisa diakses. Entah mengapa, Google ternyata merubah settingan CNAME untuk DNS bagi pengguna domain pribadi. Untungnya ga ribet buat setting DNS supaya bisa sesuai sama settingan Google. Google sendiri ngasih penjelasan yang cukup.

Nah, perkara di atas itu ketauan karena pada akhirnya, terhitung sejak bulan April, gue mencoba mengakses blog gue kembali. Ini kalo ibarat rumah, udah berdebu sama bersarang laba-laba. Kalo ibarat mobil udah pada karatan semua mesinnya. Kalo ibarat perjaka/gadis, udah pada bunuh diri disangka ga laku.

Busway, besok itu adalah Pemilihan Gubernur DKI putaran ke-II. Namun, hingga saat jari telunjuk gue selesai mengklik mouse dengan pointer di atas button "Publish", rasanya gue belom bisa menentukan pilihan siapa Calon Gubernur yang akan gue coblos besok. Sulit, belom bisa gue lihat mana yang benar-benar baik, mana yang benar-benar buruk. Mungkin lebih tepatnya, gue belom mendalami masing-masing calon. Jadi, gue masih punya waktu buat mikir, mendalami, (kalo perlu Shalat Istikharah), buat nentuin siapa yang akan gue coblos besok.

Terus, misalkan nih ya, sampe besok di bilik suara gue belom bisa menentukan pilihan gimana? Masalahnya adalah gue ga mau golput. Gue bukanlah orang yang akan menyia-nyiakan hak pilih gue demi keegoisan pikiran gue semata. Solusi dari problem di atas ke depannya mungkin bisa diatasi dengan solusi yang gue buat. Yaitu dengan surat suara yang lebih fleksibel seperti di bawah ini:


Pada surat suara di atas, gue menambahkan pilihan lainnya apabila pilihan yang tersedia ga ada yang menarik. Dan hebatnya lagi dari solusi gue adalah, kita bisa mengisi sendiri siapa calon yang menurut kita cocok sebagai calon gubernur. Brilian kan? Hebat kan? Wow kan? Iye kan? Hooh kan?

Well, well, well, tampaknya ide brilian gue itu ga akan bisa terealisasi dalam waktu dekat, atau bahkan selamanya. Jadi, mending sekarang gue semedi dulu cari petunjuk siapa yang bakal gue pilih besok. Mumpung libur juga, yuk ah. Eh, maaf buat yang ga libur. Salam kasur.

Monday, April 9, 2012

The Laffan


Gue punya keponakan, 6 keponakan hingga saat ini. Yang terkecil adalah Laffan, balita laki-laki berumur 2 tahun 5 bulan, mirip bule, rajin ngiler, suka nonton Mickey Mouse. Karena status Laffan merupakan anak kecil yang termuda di keluarga gue, maka saat ini posisi idola cilik keluarga dipegang oleh Laffan, menggantikan posisi kakaknya Naba. Hal ini mengakibatkan Naba sering jealous dengan Laffan. Hal seperti ini sudah biasa di bisnis idola cilik keluarga gue.


Akhir pekan kemarin, Laffan main ke rumah gue. Di situ dia meninggalkan noda iler pada kasur gue. Tapi ga masalah, beruntung noda iler tersebut dapat dihilangkan setelah dicuci dengan air tanah 7 rupa.

Hal yang gue suka dari Laffan adalah kejeniusan dia dalam bermain alat canggih macam tablet. Dari umur 1 setengah tahun, Laffan sudah dikenalkan dengan alat canggih bertipe tablet. Dan lucunya, baru melihat beberapa saat ayahnya bermain tablet, Laffan dengan fasihnya dapat mengoperasikan alat canggih tersebut. Dimana, ia mengalahkan ibu saya sendiri yang notabene adalah neneknya yang sampai saat ini masih belum bisa mengoperasikan alat canggih tersebut.

Apabila Laffan menangis, cukup berikan dia tablet, maka berhentilah dia. Bahkan sampai ayahnya harus membelikan dia sebuah tablet khusus untuk dia sendiri agar tidak rebutan dengan kakaknya, Naba.

Namun, gue sedikit kasian sama Laffan ini. Masa kecilnya malah dihabiskan dengan sebuah alat permainan yang dapat membuat dia menjadi seorang anak yang anti sosial. Yah, walaupun pada akhirnya memang dia sekarang setiap hari diikutkan I-LEaD, sebuah preschool yang berada satu gedung dengan kantor ayah-ibunya. Dan, lumayan hasilnya, saat ini Laffan menjadi anak yang lebih aktif dan mau bermain dengan semua orang. Tapi, kembali lagi, bukankah permainan berkelompok natural itu lebih baik bila dibandingkan dengan alat canggih apa pun juga?

Till next post.

Sunday, March 11, 2012

Legendaddy

Legendaddy merupakan salah satu judul episode dari serial How I Met Your Mother (HIMYM). Mungkin kependekan dari Legendary Daddy, seorang ayah yang melegenda. Melegenda entah karena kehebatannya, kekerenannya, kebijakannya, ketampanannya, semua nilai positif secara relatif yang mampu membuat sang anak menobatkan ayahnya seorang ayah legendaris.

Pada serial HIMYM tersebut, Barney Stinson menilai ayahnya seorang yg legendaris dikarenakan kenakalan ayahnya itu sendiri. Mabuk-mabukan, menggoda wanita, dan segala macam kriteria untuk menjadi seorang brengsek dianggap Barney sebagai sesuatu yang keren. Terutama sikap ayahnya tersebut sangat mirip dengan dirinya sendiri. Ditambah dirinya baru bertemu kembali dengan ayahnya. Yap, Barney Stinson besar dibawah asuhan single mother seorang Loretta Stinson.

Back to me.

Gue sendiri juga besar dibawah asuhan nyokap gue yang single mother semenjak gue kelas 6 SD. Walaupun sebenarnha kedua orang tua gue baru resmi berpisah secara hukum pada saat gue SMP. Semenjak saat itu gue jarang ketemu bokap. Yah, mungkin hitungan jari. Ada alasan sendiri kenapa gue jarang ketemu bokap. Mungkin di postingan lain bisa gue tuliskan.

Tapi, walau jarang ketemu bokap, setiap ketemu bakal jadi waktu yang berharga buat gue, dan tentunya bokap gue sendiri. Di situ gue dan bokap bisa menikmati quality time sebagai anak-ayah. Suatu hal yang mungkin akan mudah didapatkan oleh keluarga normal, tapi sering disia-siakan.

Gue selalu kagum atas apa yang udah diraih bokap gue, baik yang gue liat sendiri. Maupun berdasarkan cerita dan foto yang beliau tunjukkan. Kagum atas semangatnya, loyalitasnya kepada pekerjaannya yang gue duga dan ga duga. Kagum atas kecemerlangan pikirannya di umurnya yang sudah semakin tua. Buat gue, itulah sisi positif yang membuat gue menobatkan beliau menjadi seorang Legendaddy.

Yah, setiap orang bisa memberikan parameter positifnya masing-masing untuk membuat ayahnya sebagai seorang Legendaddy. Buat gue hal-hal di atas cukup membuat bokap gue seorang Legendaddy di hidup gue, dengan tidak menolak untuk menerima bahwa dia juga memiliki sisi buruk. Tapi, selalu melihat sisi positif adalah salah satu yang selalu diingatkan oleh bokap gue, an imperfect Legendaddy in my imperfect legendary life.

Till next post.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Wednesday, January 11, 2012

First 2012: Family Refreshed

First post in 2012. Sedikit telat 11 hari untuk melakukan postingan pertama di tahun ini. Tapi daripada ga ada post sama sekali, kan?


Setelah melalui masa pengasingan bintin pengisolasian di suatu planet bernama Paiton, akhirnya gue pulang juga ke Jakarta hari Sabtu kemarin. Dan hari Minggunya langsung berlibur dengan keluarga. Ini merupakan liburan bareng keluarga pertama gue setelah entah kapan terakhir gue berlibur bareng mereka. Seringnya, gue selama ini justru lebih sering berlibur sama temen.

Walau mungkin emang ga bisa ketawa atau menggila kaya liburan sama temen-temen, tapi liburan bareng keluarga ini ga kalah serunya, terutama dengan tingkah aneh para keponakan gue yang kadang nyebelin tapi sekaligus juga menggelitik.

Salah satu contoh adalah keponakan gue yang kembar, Adam dan Dimas, masing-masing berumur 6 tahun, dua-duanya sangat bandel dan ga bisa dibilangin. Pernah suatu ketika lagi di hotel, posisi gue lagi cape berat, mereka berinisiatif bikin Milo sendiri dengan memakai pemanas air yang emang tersedia di dalam kamar. Selesai air mendidih, entah apa yang ada di pikiran mereka, mereka malah menuangkan Milo ke dalam cangkir berisi air teh, bukan ke dalam cangkir berisi air panas. Rasa lelah gue ngebuat gue antara pengen marah sekaligus pengen ketawa ngeliatnya. (Yang pada akhirnya justru gue malah ketawa)

Yah, dan bermacam lagi kejadian unik yang gue lalui bareng keluarga gue di liburan kemarin. Di situ gue sadar, betapa menyenangkannya keluarga gue. Walaupun terkadang menyebalkan, tapi kalo lagi duduk bareng, dan mengulang cerita menyebalkan itu lagi, kita semua justru ketawa.

Ah, sudahlah, saya bingung sebenernya mau post apa. Masih lelah juga baru nyampe rumah tadi sore, tapi secara psikis I'm fully refreshed!

Revolution 2012!