Sunday, October 23, 2011

Galasin

Tadi siang, saat lagi enak-enaknya tiduran di sofa sambil nonton tv, di benak gue terlintas sebuah permainan yang sering gue mainin sama temen-temen SD dulu di sekolah. Permainan itu adalah Galasin, atau juga dikenal sebagai Galah Asin, atau ada juga yang mengenalnya dengan Gobak Sodor. (Iya, emang banyak namanya).

Apa sih itu Galasin atau Galah Asin atau Gobak Sodor?
(Biar ringkas, di tulisan ini akan gue tulis sebagai Galasin).

Galasin itu adalah sebuah permainan yang dilakukan di lapangan persegi panjang yang terbagi-bagi menjadi 6 kotak. Permainan ini dimainkan oleh dua tim. Di mana masing-masing tim umumnya terdiri dari 4 orang, dengan 1 orang sebagai ketua tim, atau mungkin biar keren kita sebut sebagai "kapten".

Lapangan Galasin


Melalui undian (yang terserah caranya bagaimana), salah satu tim akan bertugas sebagai penjaga yang berdiri di garis-garis horizontal. Kecuali kapten, dia memiliki kekuatan ekslusif dalam menjaga lapangannya, yaitu dia berhak juga berdiri di atas garis vertikal di tengah.

Tujuan permainan ini sih sederhana saja, tim yang tidak bertindak sebagai penjaga, (emm.. atau kita sebut mereka sebagai tim penyerang), harus melalui lapangan tersebut mulai dari garis awal sampai akhir, kemudian kembali ke garis awal lagi. Apabila salah seorang anggota dari tim penyerang berhasil melaluinya tanpa tersentuh oleh tim penjaga. Tim penyerang mendapat satu poin. (Kalau dulu gue main setiap finish pasti teriak "ASIIIINNNN!") *ketek lo asin*

Cara bermain Galasin


Namun, apabila kemudian di tengah penyerangan, tim penyerangan tersentuh oleh tim penjaga. Maka mereka akan bertukar posisi, tim penjaga menjadi tim penyerang, dan sebaliknya tim penyerang menjadi tim penjaga.

Sampai kapan permainan ini berhenti? Dulu sih gue sampe bel istirahat sekolah selesai.

Terus, kenapa tiba-tiba gue kepikiran ini?

Ini dimulai dari dua hari yang lalu di kafeteria kantor saat makan siang, gue berbincang dengan
seorang kolega. Pembicaraan tersebut mengenai permainan anak zaman sekarang yang kalau dipikir sudah tidak pernah lagi yang namanya main di luar. Coba ditanyakan, buat yang punya adek-adek atau keponakan atau anak yang masih SD. Kapan terakhir mereka main petak umpet? Kapan mereka keringetan main petak jongkok? Tau cara main benteng ga? Atau apa sih Galasin itu? Sedikit yang menjawab dengan apa yang kita harapkan.

Anak-anak zaman sekarang, berdasarkan pengalaman gue sebagai paman yang baik hati, sudah tidak mengenal lagi permainan di luar. Asik sendiri dengan permainan teknologi masa kini. Setiap ada acara keluarga kumpul di rumah gue, para keponakan sibuk dengan gadget masing-masing yang mana gue sendiri ga punya dengan gadget yang mereka miliki. Padahal umur mereka masih pada SD dan TK. Kecuali satu keponakan udah SMP, udah beda arah karena di pikirannya hanya ada Justin Bleber.

Gue sedikit miris ngeliat yang kaya gitu. Oke, mungkin orang tua mereka (yang notabene adalah kakak-kakak gue sendiri) bangga dan senang bisa membelikan anak-anaknya alat canggih untuk menghibur mereka. Tapi, sisi negatifnya adalah, anak-anak mereka jadi ga kenal dengan dunia luarnya. Ga ada lagi siang-siang panas bolong anak kecil cuek aja main di luar, entah main layangan, main petak umpet, main apa lah terserah. Yang penting permainan berkelompok dan ngeluarin keringet. Ga apa-apa deh mereka pada bau ketek, tapi yang penting otak kanan mereka juga harus bekerja, jangan hanya otak kiri. Mungkin baik kalau mereka memiliki daya analisa dan logika yang tinggi yang didapat dari permainan alat canggih, tapi jangan kesampingkan kemampuan untuk mengasah visi, spontanitas, maupun daya imajinasi yang bisa didapat dari permainan berkelompok.

Alangkah senangnya kalo lagi kumpul keluarga di rumah, yang lebih terdengar adalah teriakan "Asiiiiiinnn!!!" atau "Hooonnggg!", dibandingkan suara musik dan efek suara lainnya dari beberapa alat canggih.

Bagus out.

No comments: