Tuesday, October 25, 2011

Site Dementia

Ide dari tulisan ini pertama kali muncul tadi siang, saat gue sedang berbincang dengan seorang kolega melalui Gtalk. Pada percakapan tersebut, gue menyatakan bahwa kondisi psikis gue saat ini sedang tidak baik. Dari kantor gue, hanya gue yang ditugaskan ke Paiton. Dan sekarang sudah minggu ke-3 gue berada di sini.

Walau memang pada saat jam kerja, gue ketemu banyak orang di lingkungan kerja. Tapi begitu pas pulang sampe di guest house, semua berubah 180 derajat. Gue sendiri, hiburan hanya ada di TV atau dunia internet yang untungnya tersedia di guest house ini.

Space Dementia
Space Dementia (walaupun masih diperdebatkan sebagai sesuatu yang fiktif) adalah gangguan psikologis yang biasa terjadi oleh para astronot yang sedang berada di luar angkasa. Biasanya terjadi apabila astronot sudah cukup lama di luar angkasa dan melihat bumi yang penuh peradaban dapat membuat dirinya menjadi gila. Istilah Space Dementia sendiri pernah digunakan pada film Armageddon, yaitu pada saat karakter yang diperankan oleh Steve Buschemi mendadak menjadi "gila" dan menembakkan senapan mesin secara tidak beraturan. Selain itu, Space Dementia juga merupakan salah satu judul lagu dari band terkenal di Inggris, Muse.
CMIIW.

Lalu apa hubungannya Space Dementia dengan kondisi gue saat ini?

Di sini gue mungkin menggambarkan keadaan gue saat malam seperti ini, sendiri, hanya terhibur oleh televisi, internet, atau telekomunikasi verbal maupun non verbal melalui telepon genggam. Saat sedang sendiri seperti ini, apabila gue lagi ngebuka situs jejaring sosial via internet, baik itu twitter, facebook, maupun Google+, gue akan menjadi sedikit gila.



Gue merasa sedikit gila karena dari situ gue bisa melihat "peradaban" dimana gue berasal. Gue bisa melihat kegiatan orang-orang terdekat gue, namun mirisnya gue ga bisa terlibat secara langsung. Gue hanya bisa memberikan komentar via situs jejaring sosial tersebut. Keberadaan gue pada peradaban tersebut menjadi semu. Begitu juga sebaliknya, gue hanya mengikuti pada peradaban yang semu.

Mungkin memang dengan internet gue bisa tetap saling berhubungan dengan orang-orang terdekat. Tapi, bukankah sebagai manusia yang makhluk sosial tetap butuh berkomunikasi langsung dengan makhluk hidup lainnya? Sesama manusia secara umum, bersama orang-orang terdekat secara khususnya.

Keadaan gue yang seperti ini gue sebut sebagai Site Dementia. Dimana gue akan menjadi gila kalau terlalu lama berada di site, dan hanya bisa melihat peradaban dari sudut pandang yang semu.

Sunday, October 23, 2011

Galasin

Tadi siang, saat lagi enak-enaknya tiduran di sofa sambil nonton tv, di benak gue terlintas sebuah permainan yang sering gue mainin sama temen-temen SD dulu di sekolah. Permainan itu adalah Galasin, atau juga dikenal sebagai Galah Asin, atau ada juga yang mengenalnya dengan Gobak Sodor. (Iya, emang banyak namanya).

Apa sih itu Galasin atau Galah Asin atau Gobak Sodor?
(Biar ringkas, di tulisan ini akan gue tulis sebagai Galasin).

Galasin itu adalah sebuah permainan yang dilakukan di lapangan persegi panjang yang terbagi-bagi menjadi 6 kotak. Permainan ini dimainkan oleh dua tim. Di mana masing-masing tim umumnya terdiri dari 4 orang, dengan 1 orang sebagai ketua tim, atau mungkin biar keren kita sebut sebagai "kapten".

Lapangan Galasin


Melalui undian (yang terserah caranya bagaimana), salah satu tim akan bertugas sebagai penjaga yang berdiri di garis-garis horizontal. Kecuali kapten, dia memiliki kekuatan ekslusif dalam menjaga lapangannya, yaitu dia berhak juga berdiri di atas garis vertikal di tengah.

Tujuan permainan ini sih sederhana saja, tim yang tidak bertindak sebagai penjaga, (emm.. atau kita sebut mereka sebagai tim penyerang), harus melalui lapangan tersebut mulai dari garis awal sampai akhir, kemudian kembali ke garis awal lagi. Apabila salah seorang anggota dari tim penyerang berhasil melaluinya tanpa tersentuh oleh tim penjaga. Tim penyerang mendapat satu poin. (Kalau dulu gue main setiap finish pasti teriak "ASIIIINNNN!") *ketek lo asin*

Cara bermain Galasin


Namun, apabila kemudian di tengah penyerangan, tim penyerangan tersentuh oleh tim penjaga. Maka mereka akan bertukar posisi, tim penjaga menjadi tim penyerang, dan sebaliknya tim penyerang menjadi tim penjaga.

Sampai kapan permainan ini berhenti? Dulu sih gue sampe bel istirahat sekolah selesai.

Terus, kenapa tiba-tiba gue kepikiran ini?

Ini dimulai dari dua hari yang lalu di kafeteria kantor saat makan siang, gue berbincang dengan
seorang kolega. Pembicaraan tersebut mengenai permainan anak zaman sekarang yang kalau dipikir sudah tidak pernah lagi yang namanya main di luar. Coba ditanyakan, buat yang punya adek-adek atau keponakan atau anak yang masih SD. Kapan terakhir mereka main petak umpet? Kapan mereka keringetan main petak jongkok? Tau cara main benteng ga? Atau apa sih Galasin itu? Sedikit yang menjawab dengan apa yang kita harapkan.

Anak-anak zaman sekarang, berdasarkan pengalaman gue sebagai paman yang baik hati, sudah tidak mengenal lagi permainan di luar. Asik sendiri dengan permainan teknologi masa kini. Setiap ada acara keluarga kumpul di rumah gue, para keponakan sibuk dengan gadget masing-masing yang mana gue sendiri ga punya dengan gadget yang mereka miliki. Padahal umur mereka masih pada SD dan TK. Kecuali satu keponakan udah SMP, udah beda arah karena di pikirannya hanya ada Justin Bleber.

Gue sedikit miris ngeliat yang kaya gitu. Oke, mungkin orang tua mereka (yang notabene adalah kakak-kakak gue sendiri) bangga dan senang bisa membelikan anak-anaknya alat canggih untuk menghibur mereka. Tapi, sisi negatifnya adalah, anak-anak mereka jadi ga kenal dengan dunia luarnya. Ga ada lagi siang-siang panas bolong anak kecil cuek aja main di luar, entah main layangan, main petak umpet, main apa lah terserah. Yang penting permainan berkelompok dan ngeluarin keringet. Ga apa-apa deh mereka pada bau ketek, tapi yang penting otak kanan mereka juga harus bekerja, jangan hanya otak kiri. Mungkin baik kalau mereka memiliki daya analisa dan logika yang tinggi yang didapat dari permainan alat canggih, tapi jangan kesampingkan kemampuan untuk mengasah visi, spontanitas, maupun daya imajinasi yang bisa didapat dari permainan berkelompok.

Alangkah senangnya kalo lagi kumpul keluarga di rumah, yang lebih terdengar adalah teriakan "Asiiiiiinnn!!!" atau "Hooonnggg!", dibandingkan suara musik dan efek suara lainnya dari beberapa alat canggih.

Bagus out.

Friday, October 7, 2011

25

Hari ini adalah ulang tahun saya, yang ke-25. Di hari pertanda saya yang ke-25 tahun hidup di dunia ini, saya hanya ingin membuat tulisan sedikit pada blog saya.

Buat saya, saat ini ulang tahun bukanlah lagi momen yang perlu untuk dirayakan secara meriah dengan kue ulang tahun, banyak kado ulang tahun, penuh balon, pesta kejutan, dan banyak pernak-pernik ulang tahun lainnya. Saat ini, saya cenderung lebih ingin introspkesi diri saya sendiri.

Apa saja yang telah saya lakukan sampai angka keramat ke-25 ini? Apa saa yang telah saya hasilkan? Apa saja yang telah saya perbuat? Apa akibat dari semua perbuatan saya? Baik maupun buruk?

Saya sempat merenungkan itu semua di tengah malam saya menginjak umur ke-25. Hasil dari renungan itu tidak perlu saya jabarkan di tulisan ini. Saya rasa cukup untuk dipikirkan oleh diri saya sendiri. Cukup dipertanggung jawabkan oleh diri saya sendiri.

Yang pasti, hari ini saya sangat bersyukur karena dapat melalui momen ini dengan orang-orang terdekat. Sebelumnya saya sempat berpikir bahwa saya tidak dapat melewati momen ini di Jakarta, di tanah kelahiran saya (walaupun bukan tanah leluhur saya).

Apakah memang sudah saya diarahkan untuk berulang tahun di sini oleh Yang Maha Kuasa? Atau memang alam semesta yang selalu bermain dengan misterinya? Atau memang itu jalan hidup yang telah saya tentukan sendiri?

Saya yang memilih jadwal untuk dapat pulang hari ini, namun itu tidak luput dari alam semesta yang bermain dengan memberikan saya pilihan jadwal melalui salah seorang client, dan yang pasti tidak luput juga campur tangan dari Yang Maha Kuasa yang telah membuat skenario hidup saya yang luar biasa.

25, dimana saya harus bertindak lebih dewasa, dan melakukan apa yang harus saya lakukan. Melaksanakan apa yang sebelumnya saya ingin laksanakan. Saya harus memilih sendiri jalan hidup saya.

PS: Apa sih ini tulisan ga ada kerangkanya sama sekali?

"Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition." - Steve Jobs

PS #2: Quote Steve Jobs tersebut memotivasi saya untuk kembali ke Bagus yang penuh imajinasi. Tsahhh!