Friday, September 9, 2011

Adagio For Me

From Bagus Saptopo


Yak, yak, yak. Sampai saat ini masih aja gue jarang menyentuh blog gue untuk sekedar menulis barang 1 kata pun. Beda dengan semangat gue pada awal tahun ini yang berniat untuk mulai rajin nulis di blog ini lagi. Namun apa daya, lagi-lagi gue harus mengalah kepada kelemahan diri gue sendiri: malas.

Sebenernya, apa sih yang menyebabkan gue malas untuk menulis lagi?

Malam ini, di atas kasur kamar rumah dinas di Semarang, pikiran gue menerawang, menganalisa, mencari penyebab kenapa gue bisa malas untuk menulis? Tapi, gue masih aja belom bisa nemuin penyebab utamanya.

Gue bangkit dari tempat tidur gue, menghampiri laptop yang dari tadi menyala dan terus tersambung ke jaringan internet, walau secara ironis hanya gue diamkan. Gue browsing-browsing, gue mulai buka blog gue. Gue mulai menekan tombol new post. Tapi, lagi-lagi gue bingung mau nulis apa. Gue masih stuck. Yap, selalu stuck setiap menekan tombol new post.

Hingga gue mulai menulis kata "Yak, yak, yak," gue masih belom bisa tau kenapa gue stuck setiap mau nulis. Gue mencoba lanjut, sambil menyalakan soundtrack Tron Legacy (by Daft Punk). Gue mulai berpikir, apa mungkin ini karena lingkungan kerja gue? Apa mungkin ini karena lingkungan kerja gue yang bikin gue ga punya daya imajinasi buat menulis lagi?

Mungkin memang itu.

Kalau diterawang, semenjak gue bekerja, imajinasi gue jadi berkurang. Dulu yang gue suka mendramatisir segala kejadian yang gue liat menjadi sebuah adegan film di dalam kepala gue, menjadi berkurang. Gue terlalu banyak berpikir, dan ga memberikan ruang untuk daya imajinasi gue berkembang di dalam kepala gue.

Biasanya, kalau seperti ini gue lagi enggak dalam mood yang baik. Berarti kalau semenjak gue kerja daya imajinasi gue ga berkembang, pertanda bahwa gue ga punya mood baik di pekerjaan gue? Hmm, mungkin.

Mungkin emang udah saatnya gue nyari lingkungan kerja baru, yang lebih sehat, dan lebih baik. Bukan buat siapa-siapa, tapi buat diri gue sendiri. Mungkin emang terlihat egois, tapi bukankah pada dasarnya setiap manusia cenderung egois apabila itu sudah menyangkut tingkat kenyamanan diri sendiri?