Tuesday, July 19, 2011

The Wall and The Leap

Ceritanya adalah seminggu yang lalu, di hari yang panas terik menyengat, saat gue dan rekan kerja sedang berjalan kaki menuju sebuah tempat makan. Di tengah pancaran matahari tersebut, kami melewati sebuah gang perumahan, dimana ada sebuah tanah kosong yang dipagari tembok beton setinggi kurang lebih 2,5-3 M.

Tiba-tiba muncul sepasang tangan dari balik tembok tersebut, berusaha menarik tubuh si empunya tangan. Kemudian munculah sesosok bocah berusia sekitar 10 tahun. Dengan mudahnya dia memanjat tembok tersebut, lalu menggapai tiang listrik yang hampir menempel dengan tembok tersebut. Lalu sang anak tersebut meluncur ke bawah menggunakan tiang listrik tersebut, seperti adegan film-film aksi pemadam kebakaran ingin keluar markas. Tak lama kemudian munculah 2, eh bukan, 3 teman sebayanya dari tembok tersebut dan melakukan hal yang sama seperti si anak pertama.

Terakhir, muncul sepasang tangan lagi, namun entah mengapa si empunya tangan tidak muncul dari balik tembok. Kemudian tangan tersebut hilang kembali ditelan tembok. Temannya yang lain berusaha memanggil, tapi tampaknya si anak hilang tersebut mengurungkan niatnya. Dan gue tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena gue juga sedang menuju tempat makan. Laper atuh.

Pada saat melanjutkan perjalanan tersebut, seorang rekan bertanya kepada saya, "Lo berani manjat kaya mereka?" Merujuk kepada tingkah laku memanjat tembok anak-anak yang barusan kami lewati. "Berani," gue jawab dengan mantap, "tapi waktu seumuran mereka."

"Sekarang?" tanya lagi sang rekan kerja.
"Enggak," gue jawab lagi dengan mantap lagi tentunya.
Sang rekan kerja hanya tertawa.

Lalu, timbulah pikiran yang cukup menggelitik diri gue. Gimana bisa dulu gue berani manjat-manjat, tapi sekarang berdiri di balkon lantai 2 aja udah lumayan gemeteran?

Pikiran gue langsung flashback ke masa kecil gue, mengingat-ingat perasaan dan pikiran pada saat dulu gue manjat-manjat. Di saat gue mulai inget, gue menyadari sesuatu. Waktu kecil, gue ga tau yang namanya bahaya. Pikiran gue masih polos. Database di otak gue masih belom ada tabel khusus yang menyimpan apa bahaya yang terjadi kalo gue jatoh dari ketinggian.

Seiring berjalannya waktu, makin sering gue explore dunia ini, makin sering ketemu bahaya-bahaya yang dialami orang lain. Dari situ otak gue melakukan inputan akan bahaya-bahaya yang bisa gue alami, dari situ juga otak gue membentuk sebuah tembok. Tembok yang membatasi perilaku gue supaya tetep di jalan yang aman. Tembok yang menyamar sebagai sebuah "risk management", yang padahal malah membuat gue jadi ga berani mengambil resiko itu sendiri.

Dari situ gue berpikir, banyak hal-hal yang cukup berani kita lakukan saat masih kanak-kanak, namun menjadi urung untuk dilakukan saat sudah menginjak dewasa. Karena apa? Ya, karena tembok yang secara tidak sadar kita buat sendiri. The Wall.

(Exception: pemain sirkus dan stuntman)

Kita jadi kurang berani memanjat ke tempat yang tinggi, kurang berani melompat dari ketinggian, dan lain-lain. Hanya karena self-awareness kita yang terus menahan kita untuk bergerak. Dan yang tanpa disadari juga berpengaruh ke kehidupan kita.

Beranikah kita keluar dari zona yang menurut kita nyaman?

Pada salah satu episode film serial How I Met Your Mother yang bertajuk "The Leap", digambarkan bahwa kelima pemeran tersebut sangat ingin melompat dari atap apartemen yang biasa mereka tempati, ke atap apartemen di sebelahnya, yang menurut mereka lebih baik hanya karena memiliki jacuzzi. Salah satu tokoh dalam film tersebut, Marshall, digambarkan sepanjang episode tersebut sangat ingin melompat dengan terus berdiri di tepi tembok atap apartemen, sambil terus melihat jacuzzi di atap apartemen seberang. Setiap dia ingin melompat, sesaat sebelum melompat, dia selalu mengurungkan niatnya.

Hingga pada akhir episode, digambarkan kelima tokoh utama dalam serial tersebut memberanikan diri untuk melompat. Take the leap.

Mereka berani melompat dari tempat yang biasa mereka tempati, yang menurut mereka nyaman, demi mendapat kenyamanan yang lebih. Walaupun lompatan itu sendiri mengandung resiko yang besar, karena melompat dari ketinggian. Tapi, kepuasan terpancar dari wajah mereka. Selayaknya juara yang berhasil meraih piala kemenangan setelah melalui pertandingan yang berat.

Nah, apakah kita berani seperti mereka dan seperti anak-anak kecil yang memanjat tembok?
Beranikah kita memanjat untuk sesuatu yang lebih tinggi?
Beranikah kita kita melompat untuk sesuatu yang lebih baik?

You just need to climb the wall and then take the leap. Yes, that simple.