Saturday, December 31, 2011

(No) Fireworks For Me

Tinggal beberapa jam lagi tahun 2011 harus diganti secara paksa oleh tahun 2012. Di momen seperti ini akan muncul orang-orang sibuk. Entah sibuk nyiapin perayaan taun baru, sibuk tutup buku untuk pekerja keuangan, sibuk ngatur lalu lintas buat para polisi lalin, atau ada juga yang menyibukkan diri dengan mengumbar resolusi dan harapan untuk tahun 2012 di situs jeharing sosial.

Berbicara resolusi, seperti biasa gue tidak mengumbar dan justru ga mau repot mikirin resolusi. Gue ga mau rencana gue diliat orang, nanti kalo ide gue dicuri bisa bahaya (kepedean).

Menjelang tutup buku besar tahun 2011 yang (tampaknya) ga akan gue rayakan ini, gue ngeliat ke belakang kehidupan gue selama setaun ini. Apa yang udah gue perbuat dan apa yang udah gue dapat. Apakah seimbang?

Yah gue ga akan umbar, yang pasti tahun ini gue merasa sebagian percuma. Gue lewatin taun ini dengan merasa ga melakukan sesuatu yang signifikan. Terlalu stagnan. Dah gue cukup jengah dengan keadaan itu. Tapi di sisi positifnya tahun ini gue bertemu banyak teman baru lagi yang unik-unik, yang cukup lumayan ngebuat taun ini ada warna mejikuhibiniu sedikit.

Dari sisi perayaan pergantian tahun, tahun ini cukup berbeda. Dimana tahun-tahun sebelumnya gue selalu merayakan tahun api dengan orang dekat plus bunyi ledakan dan warna kembang api. Tahun ini ga akan ada orang dekat dan ga ada kembang api. Tapi yah mudah-mudahan sih tahun yang akan datang ga akan percuma seperti tahun ini. With possibly of January exit. (Lah, malah ngumbar harapan)

Happy new year, universe!


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, November 24, 2011

Title what?

Banyak orang bilang hidup itu adalah pilihan. Semua yang terjadi pada diri kita saat ini, itu adalah hasil dari pilihan kita di masa lalu. Mungkin saat ini gue ga akan menulis ini kalo gue memilih untuk ga menyalakan laptop gue. Mungkin juga gue ga akan menyalakan laptop gue kalo aja gue memilih ga minta tolong si pengurus rumah tangga buat ngerestart modem. Atau, lebih jauh lagi, mungkin gue ga akan di Semarang saat ini kalo gue memilih untuk menolak tawaran pekerjaan gue saat ini, hampir 3 tahun yang lalu. Bottom line, semua pilihan kita di masa lalu memang adalah inputan kita ke alam semesta untuk membentuk skenario kehidupan kita.

Tapi, semua pilihan kita di masa lalu itu tentu ada konsekuensinya. Baik itu sesuatu yang baik dan menyenangkan, atau malah bisa menjadi sesuatu yang buruk dan tidak mengenakan. Karena itu, manusia seringkali berpikir akan seperti apa kehidupan di masa depan apabila mereka memilih keputusan a atau memilih keputusan b.

Ada manusia yang tidak mau ambil pusing, langsung saja memilih sesuai naluri mereka. Orang yang seperti ini cenderung percaya bahwa takdir memang sudah dituliskan. Ada juga manusia yang terlalu memusingkan keputusan yang akan diambil dengan memikirkan matang-matang apa yang akan dilakukan. Terkadang orang seperti ini terlalu lama berpikir, sampai akhirnya pilhan tersebut hilang dengan sendirinya, dan mereka mau tidak mau harus menjalani kehidupan yang sudah terlanjur terbawa arus. Lalu, ada juga orang-orang tersesat, yang percaya terhadap perkataan orang lain yang dianggap "pintar", atau biasa disebut dengan para peramal. Orang-orang yang percaya pada peramal seperti ini sebagian besar adalah orang yang tidak punya pendirian.

Tapi, apa pun yang terjadi di ke depannya, pasti ada sisi positif dan negatifnya. Mungkin saat ini gue merasakan periode buruk dari salah satu keputusan hidup gue. Tapi, kalo mau diliat sisi lain, gue bisa mengambil banyak sisi positifnya. Gue bisa nambah ilmu banyak, gue bisa nambah banyak temen, gue bisa jalan-jalan ke tempat yang belom gue liat sebelomnya. Walaupun memang tetap ada sisi buruknya yang membuat gue merasakan sangat-sangat tidak nyaman untuk saat ini.

Well, tapi gue kembali lagi ke sisi positif yang udah gue dapet. Semua hal positif dan yang menyenangkan gue dapet saat ini bisa gue jadiin bekal buat mengeliminir hal negatif yang sedang gue rasain saat ini. Dan di saat seperti ini, gue merasa bahwa gue udah ketemu ke persimpangan kehidupan gue selanjutnya. Gue harus menentukan keputusan yang harus gue ambil. Apakah keputusan a, atau keputusan b. Waktu terus memperpendek jarak gue dengan persimpangan itu. Gue harus segera mengambil keputusan.

Tuesday, October 25, 2011

Site Dementia

Ide dari tulisan ini pertama kali muncul tadi siang, saat gue sedang berbincang dengan seorang kolega melalui Gtalk. Pada percakapan tersebut, gue menyatakan bahwa kondisi psikis gue saat ini sedang tidak baik. Dari kantor gue, hanya gue yang ditugaskan ke Paiton. Dan sekarang sudah minggu ke-3 gue berada di sini.

Walau memang pada saat jam kerja, gue ketemu banyak orang di lingkungan kerja. Tapi begitu pas pulang sampe di guest house, semua berubah 180 derajat. Gue sendiri, hiburan hanya ada di TV atau dunia internet yang untungnya tersedia di guest house ini.

Space Dementia
Space Dementia (walaupun masih diperdebatkan sebagai sesuatu yang fiktif) adalah gangguan psikologis yang biasa terjadi oleh para astronot yang sedang berada di luar angkasa. Biasanya terjadi apabila astronot sudah cukup lama di luar angkasa dan melihat bumi yang penuh peradaban dapat membuat dirinya menjadi gila. Istilah Space Dementia sendiri pernah digunakan pada film Armageddon, yaitu pada saat karakter yang diperankan oleh Steve Buschemi mendadak menjadi "gila" dan menembakkan senapan mesin secara tidak beraturan. Selain itu, Space Dementia juga merupakan salah satu judul lagu dari band terkenal di Inggris, Muse.
CMIIW.

Lalu apa hubungannya Space Dementia dengan kondisi gue saat ini?

Di sini gue mungkin menggambarkan keadaan gue saat malam seperti ini, sendiri, hanya terhibur oleh televisi, internet, atau telekomunikasi verbal maupun non verbal melalui telepon genggam. Saat sedang sendiri seperti ini, apabila gue lagi ngebuka situs jejaring sosial via internet, baik itu twitter, facebook, maupun Google+, gue akan menjadi sedikit gila.



Gue merasa sedikit gila karena dari situ gue bisa melihat "peradaban" dimana gue berasal. Gue bisa melihat kegiatan orang-orang terdekat gue, namun mirisnya gue ga bisa terlibat secara langsung. Gue hanya bisa memberikan komentar via situs jejaring sosial tersebut. Keberadaan gue pada peradaban tersebut menjadi semu. Begitu juga sebaliknya, gue hanya mengikuti pada peradaban yang semu.

Mungkin memang dengan internet gue bisa tetap saling berhubungan dengan orang-orang terdekat. Tapi, bukankah sebagai manusia yang makhluk sosial tetap butuh berkomunikasi langsung dengan makhluk hidup lainnya? Sesama manusia secara umum, bersama orang-orang terdekat secara khususnya.

Keadaan gue yang seperti ini gue sebut sebagai Site Dementia. Dimana gue akan menjadi gila kalau terlalu lama berada di site, dan hanya bisa melihat peradaban dari sudut pandang yang semu.

Sunday, October 23, 2011

Galasin

Tadi siang, saat lagi enak-enaknya tiduran di sofa sambil nonton tv, di benak gue terlintas sebuah permainan yang sering gue mainin sama temen-temen SD dulu di sekolah. Permainan itu adalah Galasin, atau juga dikenal sebagai Galah Asin, atau ada juga yang mengenalnya dengan Gobak Sodor. (Iya, emang banyak namanya).

Apa sih itu Galasin atau Galah Asin atau Gobak Sodor?
(Biar ringkas, di tulisan ini akan gue tulis sebagai Galasin).

Galasin itu adalah sebuah permainan yang dilakukan di lapangan persegi panjang yang terbagi-bagi menjadi 6 kotak. Permainan ini dimainkan oleh dua tim. Di mana masing-masing tim umumnya terdiri dari 4 orang, dengan 1 orang sebagai ketua tim, atau mungkin biar keren kita sebut sebagai "kapten".

Lapangan Galasin


Melalui undian (yang terserah caranya bagaimana), salah satu tim akan bertugas sebagai penjaga yang berdiri di garis-garis horizontal. Kecuali kapten, dia memiliki kekuatan ekslusif dalam menjaga lapangannya, yaitu dia berhak juga berdiri di atas garis vertikal di tengah.

Tujuan permainan ini sih sederhana saja, tim yang tidak bertindak sebagai penjaga, (emm.. atau kita sebut mereka sebagai tim penyerang), harus melalui lapangan tersebut mulai dari garis awal sampai akhir, kemudian kembali ke garis awal lagi. Apabila salah seorang anggota dari tim penyerang berhasil melaluinya tanpa tersentuh oleh tim penjaga. Tim penyerang mendapat satu poin. (Kalau dulu gue main setiap finish pasti teriak "ASIIIINNNN!") *ketek lo asin*

Cara bermain Galasin


Namun, apabila kemudian di tengah penyerangan, tim penyerangan tersentuh oleh tim penjaga. Maka mereka akan bertukar posisi, tim penjaga menjadi tim penyerang, dan sebaliknya tim penyerang menjadi tim penjaga.

Sampai kapan permainan ini berhenti? Dulu sih gue sampe bel istirahat sekolah selesai.

Terus, kenapa tiba-tiba gue kepikiran ini?

Ini dimulai dari dua hari yang lalu di kafeteria kantor saat makan siang, gue berbincang dengan
seorang kolega. Pembicaraan tersebut mengenai permainan anak zaman sekarang yang kalau dipikir sudah tidak pernah lagi yang namanya main di luar. Coba ditanyakan, buat yang punya adek-adek atau keponakan atau anak yang masih SD. Kapan terakhir mereka main petak umpet? Kapan mereka keringetan main petak jongkok? Tau cara main benteng ga? Atau apa sih Galasin itu? Sedikit yang menjawab dengan apa yang kita harapkan.

Anak-anak zaman sekarang, berdasarkan pengalaman gue sebagai paman yang baik hati, sudah tidak mengenal lagi permainan di luar. Asik sendiri dengan permainan teknologi masa kini. Setiap ada acara keluarga kumpul di rumah gue, para keponakan sibuk dengan gadget masing-masing yang mana gue sendiri ga punya dengan gadget yang mereka miliki. Padahal umur mereka masih pada SD dan TK. Kecuali satu keponakan udah SMP, udah beda arah karena di pikirannya hanya ada Justin Bleber.

Gue sedikit miris ngeliat yang kaya gitu. Oke, mungkin orang tua mereka (yang notabene adalah kakak-kakak gue sendiri) bangga dan senang bisa membelikan anak-anaknya alat canggih untuk menghibur mereka. Tapi, sisi negatifnya adalah, anak-anak mereka jadi ga kenal dengan dunia luarnya. Ga ada lagi siang-siang panas bolong anak kecil cuek aja main di luar, entah main layangan, main petak umpet, main apa lah terserah. Yang penting permainan berkelompok dan ngeluarin keringet. Ga apa-apa deh mereka pada bau ketek, tapi yang penting otak kanan mereka juga harus bekerja, jangan hanya otak kiri. Mungkin baik kalau mereka memiliki daya analisa dan logika yang tinggi yang didapat dari permainan alat canggih, tapi jangan kesampingkan kemampuan untuk mengasah visi, spontanitas, maupun daya imajinasi yang bisa didapat dari permainan berkelompok.

Alangkah senangnya kalo lagi kumpul keluarga di rumah, yang lebih terdengar adalah teriakan "Asiiiiiinnn!!!" atau "Hooonnggg!", dibandingkan suara musik dan efek suara lainnya dari beberapa alat canggih.

Bagus out.

Friday, October 7, 2011

25

Hari ini adalah ulang tahun saya, yang ke-25. Di hari pertanda saya yang ke-25 tahun hidup di dunia ini, saya hanya ingin membuat tulisan sedikit pada blog saya.

Buat saya, saat ini ulang tahun bukanlah lagi momen yang perlu untuk dirayakan secara meriah dengan kue ulang tahun, banyak kado ulang tahun, penuh balon, pesta kejutan, dan banyak pernak-pernik ulang tahun lainnya. Saat ini, saya cenderung lebih ingin introspkesi diri saya sendiri.

Apa saja yang telah saya lakukan sampai angka keramat ke-25 ini? Apa saa yang telah saya hasilkan? Apa saja yang telah saya perbuat? Apa akibat dari semua perbuatan saya? Baik maupun buruk?

Saya sempat merenungkan itu semua di tengah malam saya menginjak umur ke-25. Hasil dari renungan itu tidak perlu saya jabarkan di tulisan ini. Saya rasa cukup untuk dipikirkan oleh diri saya sendiri. Cukup dipertanggung jawabkan oleh diri saya sendiri.

Yang pasti, hari ini saya sangat bersyukur karena dapat melalui momen ini dengan orang-orang terdekat. Sebelumnya saya sempat berpikir bahwa saya tidak dapat melewati momen ini di Jakarta, di tanah kelahiran saya (walaupun bukan tanah leluhur saya).

Apakah memang sudah saya diarahkan untuk berulang tahun di sini oleh Yang Maha Kuasa? Atau memang alam semesta yang selalu bermain dengan misterinya? Atau memang itu jalan hidup yang telah saya tentukan sendiri?

Saya yang memilih jadwal untuk dapat pulang hari ini, namun itu tidak luput dari alam semesta yang bermain dengan memberikan saya pilihan jadwal melalui salah seorang client, dan yang pasti tidak luput juga campur tangan dari Yang Maha Kuasa yang telah membuat skenario hidup saya yang luar biasa.

25, dimana saya harus bertindak lebih dewasa, dan melakukan apa yang harus saya lakukan. Melaksanakan apa yang sebelumnya saya ingin laksanakan. Saya harus memilih sendiri jalan hidup saya.

PS: Apa sih ini tulisan ga ada kerangkanya sama sekali?

"Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition." - Steve Jobs

PS #2: Quote Steve Jobs tersebut memotivasi saya untuk kembali ke Bagus yang penuh imajinasi. Tsahhh!

Friday, September 9, 2011

Adagio For Me

From Bagus Saptopo


Yak, yak, yak. Sampai saat ini masih aja gue jarang menyentuh blog gue untuk sekedar menulis barang 1 kata pun. Beda dengan semangat gue pada awal tahun ini yang berniat untuk mulai rajin nulis di blog ini lagi. Namun apa daya, lagi-lagi gue harus mengalah kepada kelemahan diri gue sendiri: malas.

Sebenernya, apa sih yang menyebabkan gue malas untuk menulis lagi?

Malam ini, di atas kasur kamar rumah dinas di Semarang, pikiran gue menerawang, menganalisa, mencari penyebab kenapa gue bisa malas untuk menulis? Tapi, gue masih aja belom bisa nemuin penyebab utamanya.

Gue bangkit dari tempat tidur gue, menghampiri laptop yang dari tadi menyala dan terus tersambung ke jaringan internet, walau secara ironis hanya gue diamkan. Gue browsing-browsing, gue mulai buka blog gue. Gue mulai menekan tombol new post. Tapi, lagi-lagi gue bingung mau nulis apa. Gue masih stuck. Yap, selalu stuck setiap menekan tombol new post.

Hingga gue mulai menulis kata "Yak, yak, yak," gue masih belom bisa tau kenapa gue stuck setiap mau nulis. Gue mencoba lanjut, sambil menyalakan soundtrack Tron Legacy (by Daft Punk). Gue mulai berpikir, apa mungkin ini karena lingkungan kerja gue? Apa mungkin ini karena lingkungan kerja gue yang bikin gue ga punya daya imajinasi buat menulis lagi?

Mungkin memang itu.

Kalau diterawang, semenjak gue bekerja, imajinasi gue jadi berkurang. Dulu yang gue suka mendramatisir segala kejadian yang gue liat menjadi sebuah adegan film di dalam kepala gue, menjadi berkurang. Gue terlalu banyak berpikir, dan ga memberikan ruang untuk daya imajinasi gue berkembang di dalam kepala gue.

Biasanya, kalau seperti ini gue lagi enggak dalam mood yang baik. Berarti kalau semenjak gue kerja daya imajinasi gue ga berkembang, pertanda bahwa gue ga punya mood baik di pekerjaan gue? Hmm, mungkin.

Mungkin emang udah saatnya gue nyari lingkungan kerja baru, yang lebih sehat, dan lebih baik. Bukan buat siapa-siapa, tapi buat diri gue sendiri. Mungkin emang terlihat egois, tapi bukankah pada dasarnya setiap manusia cenderung egois apabila itu sudah menyangkut tingkat kenyamanan diri sendiri?

Tuesday, July 19, 2011

The Wall and The Leap

Ceritanya adalah seminggu yang lalu, di hari yang panas terik menyengat, saat gue dan rekan kerja sedang berjalan kaki menuju sebuah tempat makan. Di tengah pancaran matahari tersebut, kami melewati sebuah gang perumahan, dimana ada sebuah tanah kosong yang dipagari tembok beton setinggi kurang lebih 2,5-3 M.

Tiba-tiba muncul sepasang tangan dari balik tembok tersebut, berusaha menarik tubuh si empunya tangan. Kemudian munculah sesosok bocah berusia sekitar 10 tahun. Dengan mudahnya dia memanjat tembok tersebut, lalu menggapai tiang listrik yang hampir menempel dengan tembok tersebut. Lalu sang anak tersebut meluncur ke bawah menggunakan tiang listrik tersebut, seperti adegan film-film aksi pemadam kebakaran ingin keluar markas. Tak lama kemudian munculah 2, eh bukan, 3 teman sebayanya dari tembok tersebut dan melakukan hal yang sama seperti si anak pertama.

Terakhir, muncul sepasang tangan lagi, namun entah mengapa si empunya tangan tidak muncul dari balik tembok. Kemudian tangan tersebut hilang kembali ditelan tembok. Temannya yang lain berusaha memanggil, tapi tampaknya si anak hilang tersebut mengurungkan niatnya. Dan gue tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena gue juga sedang menuju tempat makan. Laper atuh.

Pada saat melanjutkan perjalanan tersebut, seorang rekan bertanya kepada saya, "Lo berani manjat kaya mereka?" Merujuk kepada tingkah laku memanjat tembok anak-anak yang barusan kami lewati. "Berani," gue jawab dengan mantap, "tapi waktu seumuran mereka."

"Sekarang?" tanya lagi sang rekan kerja.
"Enggak," gue jawab lagi dengan mantap lagi tentunya.
Sang rekan kerja hanya tertawa.

Lalu, timbulah pikiran yang cukup menggelitik diri gue. Gimana bisa dulu gue berani manjat-manjat, tapi sekarang berdiri di balkon lantai 2 aja udah lumayan gemeteran?

Pikiran gue langsung flashback ke masa kecil gue, mengingat-ingat perasaan dan pikiran pada saat dulu gue manjat-manjat. Di saat gue mulai inget, gue menyadari sesuatu. Waktu kecil, gue ga tau yang namanya bahaya. Pikiran gue masih polos. Database di otak gue masih belom ada tabel khusus yang menyimpan apa bahaya yang terjadi kalo gue jatoh dari ketinggian.

Seiring berjalannya waktu, makin sering gue explore dunia ini, makin sering ketemu bahaya-bahaya yang dialami orang lain. Dari situ otak gue melakukan inputan akan bahaya-bahaya yang bisa gue alami, dari situ juga otak gue membentuk sebuah tembok. Tembok yang membatasi perilaku gue supaya tetep di jalan yang aman. Tembok yang menyamar sebagai sebuah "risk management", yang padahal malah membuat gue jadi ga berani mengambil resiko itu sendiri.

Dari situ gue berpikir, banyak hal-hal yang cukup berani kita lakukan saat masih kanak-kanak, namun menjadi urung untuk dilakukan saat sudah menginjak dewasa. Karena apa? Ya, karena tembok yang secara tidak sadar kita buat sendiri. The Wall.

(Exception: pemain sirkus dan stuntman)

Kita jadi kurang berani memanjat ke tempat yang tinggi, kurang berani melompat dari ketinggian, dan lain-lain. Hanya karena self-awareness kita yang terus menahan kita untuk bergerak. Dan yang tanpa disadari juga berpengaruh ke kehidupan kita.

Beranikah kita keluar dari zona yang menurut kita nyaman?

Pada salah satu episode film serial How I Met Your Mother yang bertajuk "The Leap", digambarkan bahwa kelima pemeran tersebut sangat ingin melompat dari atap apartemen yang biasa mereka tempati, ke atap apartemen di sebelahnya, yang menurut mereka lebih baik hanya karena memiliki jacuzzi. Salah satu tokoh dalam film tersebut, Marshall, digambarkan sepanjang episode tersebut sangat ingin melompat dengan terus berdiri di tepi tembok atap apartemen, sambil terus melihat jacuzzi di atap apartemen seberang. Setiap dia ingin melompat, sesaat sebelum melompat, dia selalu mengurungkan niatnya.

Hingga pada akhir episode, digambarkan kelima tokoh utama dalam serial tersebut memberanikan diri untuk melompat. Take the leap.

Mereka berani melompat dari tempat yang biasa mereka tempati, yang menurut mereka nyaman, demi mendapat kenyamanan yang lebih. Walaupun lompatan itu sendiri mengandung resiko yang besar, karena melompat dari ketinggian. Tapi, kepuasan terpancar dari wajah mereka. Selayaknya juara yang berhasil meraih piala kemenangan setelah melalui pertandingan yang berat.

Nah, apakah kita berani seperti mereka dan seperti anak-anak kecil yang memanjat tembok?
Beranikah kita memanjat untuk sesuatu yang lebih tinggi?
Beranikah kita kita melompat untuk sesuatu yang lebih baik?

You just need to climb the wall and then take the leap. Yes, that simple.

Tuesday, April 19, 2011

Stress Ball


Sebuah bola dengan tekstur yang elastis, kenyal, bagaikan jelly yang tidak bisa dihancurkan. Sebuah bola yang "tugasnya" adalah untuk digenggam, diremas, dimain-mainkan oleh tangan manusia. Sebuah bola yang digunakan para manusia untuk melepas stress yang berkecamuk di dalam pikiran mereka. Itulah stress ball.


Kenapa pada postingan kali ini gue membahas Stress Ball?
Hal itu dikarenakan gue baru saja membeli sebuah stress ball.

Apakah gue sedang dalam keadaan stress?
Tentunya, sangat stress. Stress karena hal yang lebih baik ga gue utarakan di dalam blog gue. Daripada nanti gue dicekal.

Well, balik ke stress ball. Benda kecil berbentuk bola ini bisa dibilang penemuan sederhana tapi mampu menyelamatkan hajat hidup orang banyak. Membantu melepas segala amarah dan stress yang ada pada orang yang tentunya menggenggamnya.

Dengan adanya stress ball, orang tidak perlu lagi membanting apa saja yang ada di depannya untuk melampiaskan amarah. Cukup dengan meremas bola tersebut, paling tidak amarah kita akan berkurang.

Bola kecil ini mengemban tugas yang sangat mulia. Walaupun sepanjang hidupnya harus terus menerus diperas, diremas, ditekan, dan bentuk lain pelampiasan amarah manusia, bola ini tetap tersenyum.

Bola ini mampu menjalankan tugas apa yang tidak mampu dilaksanakan manusia, ikhlas walau hidupnya tidak enak. Karena memang sudah seperti itu takdirnya.

Berbeda dengan manusia yang tidak bisa ditekan, diremas, dipukul, dilempar, dll. Manusia sangat rapuh. Karena manusia memang mempunyai perasaan.

Karena itu, jangan pernah samakan manusia dengan stress ball. Jika anda memang sedang memiliki masalah, lampiaskan pada stress ball yang memang bertugas sebagai tempat pelampiasan. Jangan pada manusia.

Kecuali jika anda memang terlalu bodoh untuk memahami perbedaan stress ball dan manusia. Terlalu bodoh untuk membedakan benda mati dengan manusia.

Wednesday, April 13, 2011

Rule of Dumb

Tadi pagi, sembari sarapan gue nonton tv. Spongebob Squarepants acaranya. Iya, emang jadinya kaya anak SD lagi sarapan. Tapi gue lebih bisa ngambil nilai positif disitu dibandingkan gue nonton berita atau bahkan acara gosip. Entah kenapa infotainment sekarang juga dapet porsi sebagai "berita" pagi.

Spongebob yang gue tonton adalah episode "Rule of Dumb". Dimana di situ diceritakan Patrick Star ternyata adalah keturunan bangsawan dari King Amoeba. Patrick pun dinobatkan menjadi raja. Dan setelah diberi tahu oleh Spongebob bahwa raja dapat meminta segala sesuatunya, Patrick pun mulai meminta hal-hal yang tidak masuk akal.

Mulai dari memesan Krabby Patty dalam porsi yang banyak secara gratis, mengambil lolipop anak-anak kecil, mengambil dot bayi, bahkan sampai mengangkat rumah Squidward untuk kemudian lahannya dijadikan taman bermain Sang Raja. Squidward pun protes, mengajak semua masyarakat Bikini Bottom yang seakan takut pada Raja Patrick untuk berani melawan Sang Raja.

Ajakan Squidward berhasil, masyarakat pun berani melawan dan tidak mau menuruti raja lagi. Patrick yang kesal dengan sikap Squidward karena menghasut masyarakat Bikini Bottom pun marah. Patrick menyalahkan Squidward, kemudia dia meminta suara dari Spongebob yang entah bagaimana menjadi ajudan Raja Patrick. Spongebob yang merasa tidak enak hati karena Patrick sejatinya adalah sahabatnya sendiri, akhirnya setuju dengan pendapat Patrick.

Lalu cerita pun berlanjut sesuai khas serial Spongebob Squarepants. Ternyata terjadi kesalahan, dimana raja yang sesungguhnya adalah Gary, siput peliharaan Spongebob. Cerita selesai.

Dimana menariknya hingga gue memutuskan untuk menuliskannya dalam sebuah postingam di blog gue?

Cerita itu bener-bener cerminan kehidupan nyata.

Dimana orang dapat menjadi pemimpin dengan mudahnya meskipun dirinya tidak qualified sebagai pemimpin, hanya karena faktor keturunan.

Dimana pemimpin tersebut bertindak sesukanya karena merasa itu adalah hak mutlak dari jabatannya. Keputusan-keputusan tidak bijak dan cenderung bodoh karena memang dirinya tidak pantas menjadi pemimpin.

Dimana rakyat takut pada pemimpin tersebut, meskipun sesungguhnya mereka lebih takut terhadap jabatan sang pemimpin dibandingkan pemimpinnya itu sendiri. Hingga pada akhirnya ada suatu gerakan pemberontak (Squidward), yang membuat mereka sadar dan berani melawan.

Dimana orang terdekat tidak bisa melawan dan tidak berani menentang keputusan pemimpin, hanya karena tidak mau menyakiti perasaan sang teman.

Itulah sindiran dari kisah Spongebob yang disamarkan dalam selimut humor. Dimana saat si bodoh memimpin. Rule of Dumb.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Saturday, February 19, 2011

Initial Statement of bagusaptopo.com

Welcome!

Selamat datang di blog saya. Iya emang sama aja kaya yang kemaren-kemaren. Bedanya cuma dikit. Yap, sekarang domain blog ini udah berubah jadi http://bagusaptopo.com/.

Tujuannya sederhana aja: supaya gue bisa rajin ngeblog lagi.

Well, selamat tinggal domain bodoh yang lama. Selamat datang bagusaptopo.com!

Enjoy.

Merci beaucoup.

Regards,
Bagus Saptopo

Notes: Masih akan ada beberapa perubahan di profile, tapi besok pagi aja ah.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

La Vie En Rose

Di sini gue duduk. Iya, di sini, di kursi. Di kursi di dalam sebuah ruangan. Ruangan server namanya. Tempat nyimpen server-server. Sendirian. Gue yang sendirian, kalo servernya rame-rame. Iya, mereka emang culas.


Sendirian, earphone di kuping kanan sama kiri, kalo cuma sebelah ga enak. Earphone ngeluarin lagu La Vie En Rose. Bukan, bukan versi asli dari Edith Piaf, tapi cover Louis Armstrong. Entah kenapa ini laptop gue random playing-nya ke sini. Lagunya mendukung suasana gue lagi sendirian.

Sendirian, ini minggu ke dua gue sendirian. Enggak sendirian sebenernya, banyak orang di sini. Tapi dari kantor cuma gue sendirian yang dikirim ke sini, Paiton. Siang banyak ketemu orang, malem sendirian. Malem gue ngerasain fase solitude.

Tapi itu cuma 3 minggu. Itu berarti, minggu depan gue pulang. Ke Jakarta. Ibu kota. Ke keramaian. Ke kemacetan. Ke polusi. Ke banjir. Kesian kalo dipikir-pikir.

Well, udah ah, lanjut kerja lagi.
La fin.