Saturday, May 29, 2010

Twitter kills blog

Jujur aja gue ga tau mau nulis apaan setelah gue tekan tombol New Post pada blog gue ini. Dulu, dengan gampangnya gue menulis segala sesuatu yang ada di kepala gue setiap gue menekan tombol New Post. Sekarang, kayanya gue langsung ngeblank. Padahal ada beberapa topik yang pengen gue tulis di blog gue. Tapi itu semua ilang gitu aja begitu gue pencet New Post.

Emang keadaan ini aneh. Bener-bener aneh.

Jawaban dari keanehan ini mungkin ada di twitter. Iya, semenjak adanya twitter gue jadi males ngeblog. Soalnya situs microblogging itu bener-bener bisa menyampaikan segala unek-unek gue dalam satu kalimat aja. Tanpa harus nulis panjang-panjang, tanpa harus memikirkan struktur dari apa yang akan gue tulis. Cukup apa yang terlintas di pikiran gue, langsung gue post.

This is how twitter kills all the blogs in around the world.

Monday, May 17, 2010

If you can drive well in Jakarta, can you drive anywhere else in the world?

Ada kalimat yang pernah gue denger seperti ini, "If you can drive well in Jakarta, you can drive anywhere else in the world." Yang artinya kira-kira, "Kalau anda bisa menyetir dengan baik di Jakarta, anda bisa menyetir di tempat lain seluruh dunia."

Benarkah statement itu?

Menurut sebagian besar pengemudi di Jakarta mungkin akan beranggapan YA. Tapi gue pribadi menilai statement itu belum tentu benar sepenuhnya.

Kenapa?

Kita tau, memang jalanan di Ibu Kota Jakarta itu sangat-sangat-super-duper-extra-hyper-padat. Macet dimana-mana, jam berapapun. Kayanya kemacetan di Jakarta itu bagai pembunuh yang tidak pandang bulu. Tidak pandang bulu, dimana aja pasti macet, perlahan membunuh para pemakai jalan secara psikologis.

Tapi dari kepadatan dan kemacetan itulah yang menyebabkan para pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta memiliki semacam sixth sense dalam mengemudi. Feeling mereka sangat kuat, midi-chlorian mereka sangat tinggi apabila gue boleh mengambil istilah dalam film Star Wars.

Semua orang Jakarta tau, kalo lagi padet-padetnya, jarak antara satu kendaraan dengan kendaraan lain udah bukan dalam ukuran meter lagi, tapi mereka memakai ukuran centimeter (cm). Yap, cm. Bahkan seorang teman pernah saking stressnya menghadapi kemacetan sampai-sampai mendempetkan mobilnya dengan mobil di depannya hingga jarak sekitar 5-10 cm saja.

Kalo diliat awalnya temen gue itu: jago.
Setelah dipikir ulang, taunya dia: tolol.

Orang Jakarta bangga dengan keahlian mereka menghadapi padatnya jalanan Jakarta. Mereka bangga dengan kegesitan mereka, salip-salipan, terobos-menerobos, dan lain-lain.

Mereka merasa skill udah paling hebat. Tapi sadarkah mereka (juga termasuk gue), kalo mereka sering melanggar peraturan?

Mungkin banyak yang ga sadar dan ga merasa. Tapi yang jelas ada satu peraturan yang mereka dan juga gue selalu langgar: batas kecepatan.

Memang di Jakarta seperti yang tadi gue bilang keadaan jalannya selalu padet dan macet. Tapi bukan berarti di semua tempat macet kan? (Paling enggak untuk saat ini, ga tau 5 taun ke depan gimana).

Begitu lepas dari kemacetan dan ketemu jalan yang lapang dikit, umumnya para pengendara akan menancap gas, seakan melampiaskan hasrat yang terpendam karena macet. Justru di situ mereka tidak lagi memperhatikan peraturan lalu lintas, ya salah satunya itu tadi, batas kecepatan maksimum.

Mungkin mereka bisa bilang diri mereka (mungkin termasuk gue) jago dalam hal berkendara. Tapi apakah mereka (dan juga gue) paham akan peraturan berkendara yang baik dan benar?

Apakah jago nyetir menjamin taat peraturan?
Di sini gue jawab: belom tentu.

Mungkin oke di Jakarta mereka santai aja. Kalo ditangkep karena ngelanggar tinggal bayar. Gampang.

Tapi ga akan segampang itu kalo bukan di Indonesia. Sejago apa pun skill mengemudi, kalo ga paham peraturan sama aja nol.

Jadi, betulkah statement di awal tulisan ini tadi?

Belom tentu, balik ke pribadi masing-masing.


PS: Jempol berotot gara-gara nulis pake hp.

Sent from my KarceBerry® smart calculator, Pake Karce Untung Teruuusss...!