Thursday, December 23, 2010

Susahnya Jadi Presiden

Dulu, gue pengen jadi presiden RI. Itu dulu. Sekarang, gue ga pengen lagi jadi presiden RI.

Apa sebab?
Sebab susah.

Kalo dipikir-pikir, jadi Presiden RI cenderung dimusuhin sama rakyatnya, sih. Contoh terakhir ya waktu RI 1 nonton pertandingan timnas langsung di GBK. Banyak yang negatif thinking. Yang katanya buang-buang duit negara lah (dicurigai bayar tiketnya pake duit negara), dibilang ga penting lah (katanya daripada nonton bola mending urus dulu negara), susah deh!

Kayanya kalo udah jadi presiden, ga boleh melakukan hal-hal yang merakyat. Harus ngurus negara terus, lha wong rakyatnya aja ga bisa diurus (sambil ngaca).

Kayanya kalo udah jadi presiden, ga boleh dinas keluar negeri (dibilang jalan-jalan), padahal rakyatnya aja doyan jalan-jalan keluar negeri.

Kayanya kalo udah jadi presiden, ga boleh curhat, padahal rakyatnya ngeluh melulu sama kerjaan mereka.

Kayanya kalo udah jadi presiden, apa aja yang dilakuin salah, padahal rakyatnya juga ga bener-bener amat (sambil ngaca lagi).

Yang pasti, kalo udah jadi presiden, ga boleh jadi orang kaya (karena dibilang masih banyak rakyat miskin), padahal banyak juga rakyatnya yang tiap taun ganti mobil baru.

Intinya, jadi presiden ga boleh keliatan hepi, tapi juga ga boleh bete. Aduh bingung.

Jadi presiden bagaikan punya bos jutaan (rakyat adalah bos).

Presiden juga manusia atuh. Kalo masih kaya gini terus, saya batal jadi presiden aja ah. Musuhnya banyak.

Susah lah jadi presiden!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Monday, October 25, 2010

Jakarta Terapung, Twitter Mengamuk


Semenjak sore tadi, timeline Twitter saya dipenuhi kecemasan rekan-rekan yang saya follow. Mereka cemas, karena cuaca di luar kantor/rumah mereka sudah gelap, padahal saat itu belum waktunya matahari beristirahat. Gelap yang mereka cemaskan bukan karena matahari menghilang begitu saja, melainkan karena matahari "disembunyikan" oleh awan gelap yang mulai berinisiatif menyelimuti langit Ibu Kota Jakarta.


Dan benar, tidak berapa lama kemudian tampaknya hujan turun di Jakarta, timeline kecemasan berubah menjadi kepanikan. Panik akan bagaimana mereka mengarungi jalanan menuju ke rumah masing-masing?

Kebetulan saat ini saya sedang tidak berada di Jakarta, kebetulan (kalau masih boleh dibilang begitu) saya sedang sedang di luar Jakarta. Jadi apa yang saya lihat di timeline Twitter saya tidak dapat saya rasakan langsung, namun cukup menarik untuk disimak. Saya yakin pada saat jam pulang timeline saya akan penuh makian. Dan benar saja, pada saat jam pulang banyak teman saya yang mengeluh karena: macet, kehujanan, tidak dapat kendaraan umum, dan rumahnya diteror air banjir.

Timeline saya lalu penuh dengan kemarahan dan kekecewaan terhadap kinerja pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tidak dapat menanggulangi banjir dengan baik. Namun, ada juga beberapa yang menyikapinya dengan bijak, yaitu dengan berpendapat bahwa banjir juga akibat dari keteledoran para penghuni Jakarta yang suka membuang sampah tidak pada tempatnya.

Salah seorang sahabat saya yang rumahnya menjadi langganan banjir, sudah mulai takut bahwa banjir akan menghinggapi rumahnya. Terlihat dari tweet beliau yang diselimuti kekhawatiran pada saat melihat genangan air mulai naik di depan rumahnya. Namun saat saya konfirmasi kembali barusan via bbm, air tidak masuk ke rumahnya, dan syukurlah tampaknya sudah mulai surut.

Yang menarik adalah, bagaimana suatu kejadian massal di dunia nyata dapat kita rasakan emosinya juga secara langsung di dunia maya, yang dalam hal ini adalah melalui Twitter. Layanan microblogging ini seakan menjadi sebuah wadah kekesalan dan kemarahan masyarakat Jakarta. Mereka terus "berteriak" tentang situasi yang sedang dihadapinya. Mereka terus menyalahkan pemerintah, yang walaupun mereka mau marah seperti apa pun, toh pemerintah tidak akan melihat.

Sampai saat ini pukul 21.40, saya melihat timeline Twitter saya, terlihat teman-teman saya masih meluapkan emosinya. Banyak yang pada akhirnya menyalahkan Sang Gubernur. Salahkah beliau? Well, ga sepenuhnya Bang Kumis salah, karena kita juga harus melihat ke diri kita sendiri, apakah kita juga sudah menjaga keseimbangan alam untuk mencegah kebanjiran? Ohya, perlu diingat, saya bukan aktivis lingkungan hidup, jadi ini bukan kampanye lingkungan hidup. Bukan.

Kembali ke judul.

Banjir Jakarta seperti sekarang ini adalah contoh kecil potret kehidupan masyarakat Jakarta saat ini. Apapun yang sedang terjadi, saya justru lebih cepat dapat informasinya melalui Twitter, bukan melalui situs berita. Bahkan dengan Twitter, emosi para pembaca juga ikut hanyut terbawa dalam suasana yang sedang terjadi, walaupun sang pembaca tidak merasakan langsung kejadiannya. Yah, pada saat Jakarta Terapung, Twitter pun Mengamuk.

Wednesday, August 4, 2010

Futsalan dan Sepakbola

Hari ini gue abis futsalan, alias main futsal. Buat yang ga tau futsal itu apa berarti anda kebangetan. Gugling (googling) aja kalo ga tau. Kalo ga tau juga gugling itu apa, berdoa sama Tuhan, minta diberikan petunjuknya.

Oke kembali ke topik awal, futsalan. Gue dulu sering banget futsalan bareng temen-temen SMA gue. Sampe udah kuliah juga masih aja demen main futsal sama mereka. Ibaratnya kalo kita ga futsal minimum seminggu sekali pasti badan kita lemes kalo ga makan seharian. Iya, ga nyambung.

Nah jujur aja semenjak taun 2007 apa 2008 gitu gue udah mulai ga main futsal tuh. Antara temen-temen gue mulai pada males dan bosen, sama udah mulai sibuk ngerjain skripsi waktu itu. Sampe akhirnya gue kerja pun kita udah ga pernah main lagi.

Keadaan berubah (caelah keadaan berubah) setelah gue stand by di Cilacap setiap bulan. Gue jadi sering main futsal bareng rekan kerja di sini, dan itu rutin!

Awal pertama main, yang sebelumnya main terakhir sekitar taun 2007-2008, gue lupa cara nendang bola. Main pun 10 menit langsung mau pingsan. Makin ke sini skill bola gue yang beda tipis sama Ronaldikin makin terasah lagi, stamina gue juga makin baik. Gue balik ke performa (nyaris) terbaik.

Dan jujur aja emang futsal dan sepakbola itu olahraga favorit gue. Kalo gue nulis di biodata diary anak-anak SD, pasti hobi gue selain tidur adalah main sepakbola.

Sepakbola dan futsal itu olahraga sederhana, ga butuh alat tambahan (kecuali sepatu). Bahkan kalo mau telanjang kaki juga bisa, asal jangan telanjang badan, karena selain mengganggu norma susila juga menyebabkan bau ketek tersebar bebas.

Siapa aja boleh main sepakbola dan futsal, mereka ga mengenal kasta. Yang mereka tau adalah bermain bersama, untuk kebebasan bersama, untuk kegembiraan bersama.
Sent from my KarceBerry® smart calculator, Pake Karce Untung Teruuusss...!

Saturday, May 29, 2010

Twitter kills blog

Jujur aja gue ga tau mau nulis apaan setelah gue tekan tombol New Post pada blog gue ini. Dulu, dengan gampangnya gue menulis segala sesuatu yang ada di kepala gue setiap gue menekan tombol New Post. Sekarang, kayanya gue langsung ngeblank. Padahal ada beberapa topik yang pengen gue tulis di blog gue. Tapi itu semua ilang gitu aja begitu gue pencet New Post.

Emang keadaan ini aneh. Bener-bener aneh.

Jawaban dari keanehan ini mungkin ada di twitter. Iya, semenjak adanya twitter gue jadi males ngeblog. Soalnya situs microblogging itu bener-bener bisa menyampaikan segala unek-unek gue dalam satu kalimat aja. Tanpa harus nulis panjang-panjang, tanpa harus memikirkan struktur dari apa yang akan gue tulis. Cukup apa yang terlintas di pikiran gue, langsung gue post.

This is how twitter kills all the blogs in around the world.

Monday, May 17, 2010

If you can drive well in Jakarta, can you drive anywhere else in the world?

Ada kalimat yang pernah gue denger seperti ini, "If you can drive well in Jakarta, you can drive anywhere else in the world." Yang artinya kira-kira, "Kalau anda bisa menyetir dengan baik di Jakarta, anda bisa menyetir di tempat lain seluruh dunia."

Benarkah statement itu?

Menurut sebagian besar pengemudi di Jakarta mungkin akan beranggapan YA. Tapi gue pribadi menilai statement itu belum tentu benar sepenuhnya.

Kenapa?

Kita tau, memang jalanan di Ibu Kota Jakarta itu sangat-sangat-super-duper-extra-hyper-padat. Macet dimana-mana, jam berapapun. Kayanya kemacetan di Jakarta itu bagai pembunuh yang tidak pandang bulu. Tidak pandang bulu, dimana aja pasti macet, perlahan membunuh para pemakai jalan secara psikologis.

Tapi dari kepadatan dan kemacetan itulah yang menyebabkan para pengemudi kendaraan bermotor di Jakarta memiliki semacam sixth sense dalam mengemudi. Feeling mereka sangat kuat, midi-chlorian mereka sangat tinggi apabila gue boleh mengambil istilah dalam film Star Wars.

Semua orang Jakarta tau, kalo lagi padet-padetnya, jarak antara satu kendaraan dengan kendaraan lain udah bukan dalam ukuran meter lagi, tapi mereka memakai ukuran centimeter (cm). Yap, cm. Bahkan seorang teman pernah saking stressnya menghadapi kemacetan sampai-sampai mendempetkan mobilnya dengan mobil di depannya hingga jarak sekitar 5-10 cm saja.

Kalo diliat awalnya temen gue itu: jago.
Setelah dipikir ulang, taunya dia: tolol.

Orang Jakarta bangga dengan keahlian mereka menghadapi padatnya jalanan Jakarta. Mereka bangga dengan kegesitan mereka, salip-salipan, terobos-menerobos, dan lain-lain.

Mereka merasa skill udah paling hebat. Tapi sadarkah mereka (juga termasuk gue), kalo mereka sering melanggar peraturan?

Mungkin banyak yang ga sadar dan ga merasa. Tapi yang jelas ada satu peraturan yang mereka dan juga gue selalu langgar: batas kecepatan.

Memang di Jakarta seperti yang tadi gue bilang keadaan jalannya selalu padet dan macet. Tapi bukan berarti di semua tempat macet kan? (Paling enggak untuk saat ini, ga tau 5 taun ke depan gimana).

Begitu lepas dari kemacetan dan ketemu jalan yang lapang dikit, umumnya para pengendara akan menancap gas, seakan melampiaskan hasrat yang terpendam karena macet. Justru di situ mereka tidak lagi memperhatikan peraturan lalu lintas, ya salah satunya itu tadi, batas kecepatan maksimum.

Mungkin mereka bisa bilang diri mereka (mungkin termasuk gue) jago dalam hal berkendara. Tapi apakah mereka (dan juga gue) paham akan peraturan berkendara yang baik dan benar?

Apakah jago nyetir menjamin taat peraturan?
Di sini gue jawab: belom tentu.

Mungkin oke di Jakarta mereka santai aja. Kalo ditangkep karena ngelanggar tinggal bayar. Gampang.

Tapi ga akan segampang itu kalo bukan di Indonesia. Sejago apa pun skill mengemudi, kalo ga paham peraturan sama aja nol.

Jadi, betulkah statement di awal tulisan ini tadi?

Belom tentu, balik ke pribadi masing-masing.


PS: Jempol berotot gara-gara nulis pake hp.

Sent from my KarceBerry® smart calculator, Pake Karce Untung Teruuusss...!

Sunday, April 4, 2010

Ohh, megle.

Ga ada kerjaan, sebenernya udah ngantuk, tapi otak tiba-tiba pengen ngisengin orang-orang di Omegle.

Tau kan Omegle?
Itu loh situs dimana kita bisa chating sama orang lain secara ramdom. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri, pokoknya bener-bener random deh. Kita ga bakal tau bakalan chating sama siapa. Bisa sama orang normal, orang horny, gay horny, penipu, hacker, cracker, abg labil, sampe orang tolol.

Nah, mungkin gue termasuk di kategori yang terakhir. Yak, orang tolol.

Langsung aja dah, liat percakapan di bawah ini.

Keterangan:
- You = Gue
- Stranger = Korban


Dari awal gue juga ga ngerti dia ngomong apaan, gue bales aja kaya gitu.



Langsung kabur, takut diculik alien.


Gue sangka ketemu Michael Essien, ahh!


Dimintain tolong malah ketawa!


Saat Zeus ketemu the Flash.

Saturday, April 3, 2010

Lagi-lagi, Apa Kabar?

Sadis.

Itu kata yang cocok buat gue apabila blog gue bisa ngomong. Yap, sadis, karena gue jarang ngepost blog lagi. Bukannya sok sibuk ya blog, tapi emang gue sibuk beneran. Sumpah deh. Ditambah lagi dengan serangan micro blogging dari twitter, gue jadi lebih sering nge-tweet. Kenapa? Karena ide-ide iseng gue bisa di post secara simple di twitter.

Sebenernya gue juga banyak ide tentang apa yang akan gue tulis di blog gue. Tapi buat gue duduk, di depan laptop/komputer/hp, nulis sesuatu di blog, kayanya keburu diserang setan mager (malas gerak -red.).

Mungkin ga banyak yang bisa gue tulisin di postingin gue kali ini. Mungkin gue nulis apa yang terjadi sama sekarang:
- Gue makin sering ke bolak-balik Jakarta-Cilacap
- Keponakan gue udah nambah satu lagi, namanya Laffan.
- Gue masih cowo, dan akan terus cowo. Ga ada niat buat ganti kelamin.
- Gue tetep normal, sayang sama cewe gue, ga berubah haluan.
- Apalagi ya? Oh, ya, gue tetep pengen jadi presiden.

Dah ah, kalo niat nanti gue mau post sesuatu yang lain.

Tuesday, March 16, 2010

Ahh, apa kabar lagi?

Hahahahahaha!

Ternyata jarak postingan ini dengan postingan sebelumnya masih cukup jauh juga. Kayanya gue emang lagi ga punya ide sama sekali buat nulis di blog gue nih. Tapi sampai saat ini gue masih belom pengen untuk menutup blog gue.

***

Ga tau kenapa, gue cuman bisa nulis blog pas gue lagi di Jakarta, lagi masa off dari kerjaan gue. Mungkin pas di Jakarta doang gue bisa santai sesantai-santainya.

Gue baru dateng tadi pagi naik kereta yang ga ada enak-enaknya. Kapan sih perkeretaan kita enak?

Hari pertama off gue (yang sebenernya bukan off, melainkan ada meeting untuk hari Kamis), dilewati dengan berkumpul bersama keluarga yang ramai bagaikan pasar malam. Bukan keluarga gue yang kaya pasar, tapi suasananya aja yang kaya pasar. Keponakan gue berkumpul, minus 2 Naba dan Laffan (sang idola baru).

Dah ah, cukup sekian dulu, semoga besok malem gue ga males buat nulis blog lagi.

NB: Kalo dipikir-pikir, ga penting banget ini postingan.

Sunday, January 3, 2010

Kapasitas Otak yang Terkuras

Dear blog,

Sebenernya gue lagi pengen nulis, tapi begitu laptop udah di atas paha, jari-jari udah di atas keyboard, mata tertuju ke monitor, otak gue langsung blank. Gue langsung ga tau mau nulis apa lagi.

Kejadian kaya gini udah sering banget, itu yang bikin gue pada akhirnya jarang ngeblog lagi. Pada awalnya gue mengira ini hanyalah fase writer's block. Tapi kayanya terlalu lama juga buat berada di fase writer's block.

Yang ada di pikiran gue selanjutnya adalah, bisa jadi karena gue terlalu asik menggunakan otak gue untuk berpikir di pekerjaan yang lagi gue gelutin. Di pekerjaan gue, otak gue dituntut buat berpikir terus dalam waktu yang cepat, jadi ada kemungkinan pada saat malem-malem gue pengen nulis sesuatu, otak gue udah keburu capek. Dan itu adalah jawaban paling logis dari otak ngeblank gue.

Mungkin, gue harus berpikir lebih ringan lagi, mumpung lagi libur juga. Gue harus mulai mengistirahatkan otak gue dulu, dan ga terlalu keras digunakan untuk berpikir. Karena gue pengen terus nulis blog gue.

Dan semoga jarak antara tulisan terakhir gue ini ke selanjutnya ga terlampau jauh, semoga.


Regards,
Bagus Saptopo