Wednesday, August 20, 2008

Ibuku seorang pembalap

Salah satu hal yang gue salut sama Nyokap gue adalah dalam hal setir-menyetir. Bisa dibilang, dia adalah seorang maestro dalam dunia persetiran di keluarga gue. Ga ada yang bisa ngalahin pengalaman setir dia. (Apalagi gue).

Nyokap gue, bisa dibilang pernah mengemudikan berbagai macam mobil (kecuali bus & truk). Dari mobil yang paling kecil berjenis city car macem Daihatsu Ceria, sampe mobil besar berjenis SUV macemnya Toyota Fortuner pernah dikemudikannya dengan mantap. Dari Honda Accord keluaran tahun 1970 sampe Honda Accord keluaran tahun 2008 pernah dibawanya.

Jam kemudinya juga sudah cukup banyak. Dulu, waktu jaman-jamannya gue masih kecil, keluarga gue sering mudik pake mobil. Dan yang menyupir mobil keluarga itu tidak lain dan tidak bukan adalah: Nyokap gue. Di samping itu, di umurnya yang udah mencapai 55 tahun ini, dia masih sering ke luar kota (Jawa Tengah) dengan mengemudikan mobil seorang diri. Yap, sendiri.

Terkadang, temen-temen Nyokap gue bertanya ke gue, "Loh, kok Ibunya yang nyetir?"
Belom sempet jawab, Nyokap gue langsung nyeletuk, "Halah, si Bagus ini mah payah, trotoar aja diinjek!"

Yup, Nyokap gue ga pernah memberikan kepercayaan kepada gue untuk membawa dia. Pernah sekali gue bawa dia, tapi selama perjalanan hanya berisi kritikan-kritikan dimana gue cuman bisa jawab, "Iya Bu.. Iya.."

Tapi emang bener, selama ini, dari beberapa orang yang pernah nyetirin gue, cuman Nyokap gue yang bisa ngebuat gue ngerasa relaxed jadi penumpang. Mau dibawa ngebut kayak apa pun, gue tetep ngerasa aman, nyaman, tentram.

Tadi sore, gue "nemenin" Nyokap nganterin Om+Tante gue ke Kelapa Gading. Pulangnya, tinggal gue berdua sama Nyokap. Di jalan tol, kepribadian pembalap dari Nyokap gue keluar lagi. Dengan santainya, sambil ngobrol bareng gue, dia mengemudikan mobil dengan kencang. Salip sana, salip sini.

Gue liat speedometer yang ada di dashboard depan muka Nyokap.
Uhh, oke. GUE LAGI DIBAWA DENGAN KECEPATAN 130KM/JAM!

Gue terus liatin speedometer. Ga ada tanda-tanda bahwa kecepatan mobil akan turun di bawah 120 km/jam.

Di saat yang membutuhkan konsentrasi tinggi seperti itu, Nyokap masih bisa ngeledekin orang. Ngajak gue bercanda. Tapi tangannya tetap mantap memegang kemudi. Gue, bener-bener serasa jadi co-drivernya Nyokap. Kayaknya kita cocok untuk ikutan Kejuaraan Reli Dunia.

Gue berharap, saat lagi di tol tadi, kita ga ketemu anak mobil yang doyan kebut-kebutan. Ga lucu aja, Nyokap gue berbekal sebuah mobil sedan ngalahin anak gaul yang sok oke dengan mobil cepernya. Bisa-bisa Nyokap gue jadi nenek-nenek gaul.

Yah, itulah Nyokap gue. Sang juara keluarga. Terhebat dalam hal setir-menyetir (buat gue).

Sayangnya, bakat hebatnya itu tidak menurun ke anaknya yang paling bungsu ini.

Saturday, August 9, 2008

Guru Les Privat

Buat gue, pelajaran matematika bagaikan sakit perut menahan boker (SPMB). Apa persamaannya?

Persamaannya adalah, sama-sama menyebalkan di saat-saat awal. Tapi sama-sama melegakan di saat akhir. Jadi gini maksudnya, kalo kita lagi sakit perut itu (atau bahasa gaul Saipul Jamilnya, mules), pasti kita akan merasakan saat-saat yang menyebalkan. Apalagi kalo ga ketemu kamar mandi. Tapi sekalinya ketemu kamar mandi, pasti kita bakal seneng banget. Terus begitu udah dikeluarin, jadi lega deh.

Gitu juga matematika. Pas lagi ngerjain soalnya, pasti awalnya kita males banget. Nyebelin banget deh pokoknya. Tapi begitu ngerti rumusnya, kita bakal girang, segirang tante girang nemu gigolo. Terus pas udah nemu jawabannya, bakal lega.

Kalo dianalogiin jadi gini:
- Sakit perut = Soal matematika
- Nemu WC = Nemu rumus pemecahan
- Slese boker = Berhasil nyelesein soal

Ihiy, bisa aja gue bikin analoginya. Walaupun sedikit menjijikkan.

***

Beberapa hari yang lalu, kakak gue minta gue buat nyariin guru les privat matematika buat anaknya, Saskia. Katanya, si Saskia itu matematikanya payah. Awalnya kakak gue nyuruh gue untuk jadi guru privat itu.

"Gus, kamu mau ngajarin Saskia matematika ga? Aku bayar deh," kata kakak gue.
"Emm, berapa bayarnya?" tanya gue.
"Bayar keperluan mandi kamu aja deh."
"..."
"Gimana mau ga?" kakak gue minta kepastian.
"Aku cariin aja deh guru les privat beneran buat Saskia," jawab gue dengan pasrah.

Akhirnya, gue mulai mencari guru les privat buat Saskia. Pertama, gue nyoba tanya temen-temen gue. Apa ada yang bisa.

"Lo bisa matematika ga?" tanya gue ke salah seorang temen.
"Bisa dong, kenapa emang?" kata temen gue.
"Itu, mau jadi guru les privat buat keponakan gue?"
"Emm, dibayarnya berapa?"
"Bukan dalam bentuk uang sih, tapi nanti lo bisa foto sama gue selama setaun."
"..." temen gue langsung diare.

Gue juga ceritain masalah ini ke cewe gue, Dian.

"Duh, aku disuruh nyariin guru les privat buat Saskia nih," curhat gue.
"Les privat apa?" tanya Dian.
"Matematika."
"Ohh, aku aja kalo gitu," katanya mantap.
"Serius kamu? Kamu bisa matematika?" gue mulai excited.
"Iya, serius. Ya, nilai matematika aku sih pasti selalu sesuai standar ujian," jawabnya dengan nada serius.
"Wahh, kamu hebat," gue manggut-manggut.
Gue berpikir sebentar, akhirnya gue menyadari sesuatu, "Bentar deh, kalo sesuai standar ujian, berarti nilai kamu berkisar di angka empat dong?"
"Iya lah," jawab Dian dengan santai.
"..."
Gue ngerasa dibegoin.
Dian ngetawain gue.

Akhirnya, gue nyari di internet. Gue search di Google. Dan, akhirnya gue menemukan banyak jasa guru les privat. Salah satu yang bikin gue tertarik adalah jasa guru les privat anak-anak UI. Gue langsung menghubungi kakak gue.

"Mba, aku udah dapet tuh guru les privatnya," lapor gue.
"Ohh, serius?"
"Iya," jawab gue semangat.
"Bagus deh, kalo gitu. Tapi, aku juga udah nemu guru les privat kok, Gus," kata kakak gue tanpa dosa.

Ternyata, pencarian akan seorang guru privat untuk keponakan gue berakhir sia-sia. Gue cuman bisa berharap, supaya guru les privat Saskia adalah guru yang benar-benar mengajarkan cara penyelesaian soal-soal matematika. Bukan mengajarkan cara boker yang baik.

Monday, August 4, 2008

Inikah sisi melankolis gue?

Setelah disadari, ternyata gue udah lama juga meninggalkan blog gue. Gue membiarkan blog gue terbengkalai. Rentetan kesibukan mulai muncul satu persatu buat gue selesein satu-satu. Mulai dari urusan kuliah sampe urusan suatu project dengan teman-teman gue. Gue cuman berharap, gue masih bisa fokus sama semuanya.

Dari segala rentetan kesibukan itu, gue masih sempet buat nonton. Salah satunya adalah The Dark Knight, tiga minggu yang lalu. Jujur aja, itu klimaks gue buat nonton film. Untuk saat ini, itu film terbaik yang pernah gue tonton.

Adegan demi adegan disuguhin Christopher Nolan ke penonton. Mengundang segala macam decak kagum, hingga klimaksnya pada sebuah aplaus panjang. Baru kali ini, gue nonton film sambil denger aplaus panjang dari seluruh penonton. Aplaus tersebut diberikan saat adegan truk yang dikemudikan Joker dijungkirbalikkan 90 derajat tegak lurus oleh Batman. What a scene? Gue, jujur langsung mangap ngeliat adegan itu.

Selesai nonton film itu, gue cuman bisa bengong, terdiam, terkagum, tersenyum, lalu bertanya. Buat apa sih selama ini gue nonton film?

Selama dua hari gue ga bisa nemuin jawabannya. Setiap gue tanyain ke temen-temen gue. Jawabnya simple, buat menghibur diri. Oke, jawabannya bener, tapi tetep ga menjawab pertanyaan gue. Itu bener, tapi ga tepat.

Gue terus berpikir.
Berpikir.
Berpikir.

Hingga akhirnya gue menyadari sesuatu. Gue nonton film itu untuk ngeliat segala macam kecanggihan dan segala macam ide gila campur jenius dari sang sutradara yang bercampur dengan akting sang aktor/aktris.

Lalu berlanjut dengan menyadari, bahwa semua itu adalah karya Tuhan. Sutradara jenius itu, yang nyiptain adalah Tuhan. Semua aktor/aktris itu, yang menciptakan mereka tentunya Tuhan. Dan semua elemen yang ada di film itu, semua ciptahan Tuhan.

Kesimpulan gue, gue menonton film itu untuk mensyukuri nikmat Tuhan.

Sebuah jawaban yang cukup menyadarkan gue tentang bersyukur. Gue sadar, masih banyak yang belum gue syukuri di hidup gue.

Dan kalo gue mau bersyukur, ternyata setiap saat gue harus bersyukur sama yang di Atas.

Gue bersyukur masih dikasih penglihatan untuk menonton film. Diberi pendengaran untuk mendengar suara-suara megah yang keluar dari film. Diberi penciuman untuk mencium bau khas bioskop dengan aroma popcorn para pengunjung. Diberi indera perasa untuk merasakan empuknya kursi bioskop. Diberi mulut untuk mengutarakan komentar film yang selama ini gue sadari gue banyak mengkritisi dari sisi negatif.

Selain itu, masih banyak yang bisa gue syukuri.

Gue bersyukur keluarga gue mampu membelikan gue komputer dan memakai internet untuk menulis blog. Walaupun kadang, sebagai manusia biasa yang ga pernah luput dari kesalahan, gue buka hal yang negatif. Gue ga munafik, gue akuin itu.

Gue bersyukur masih bisa sekolah sampe sekarang. Gue bersyukur, keluarga gue masih mampu untuk beli makanan dan segala macam kebutuhan, dimana masih banyak orang yang sebenernya lebih membutuhkan daripada gue.

Gue bersyukur, diberi keluarga yang selalu mendukung gue di setiap kondisi yang gue hadapi.
I love you all.

Gue bersyukur, punya teman-teman yang membantu gue dalam proses pendewasaan gue sebagai manusia.
I love you all.

Gue bersyukur, punya seseorang yang gue sayang, yang dia juga sayang gue.
I love you hun.

Gue bersyukur, sampai saat ini masih dikasih kesempatan untuk mensyukuri segala macam pemberianNya, bertobat untuk kembali ke jalanNya, terus menyembahNya, hingga akhir hidup gue.
I love my God.

Huff.