Wednesday, July 2, 2008

Review Euro 2008

Piala Eropa 2008 emang udah selesai tiga hari yang lalu. Tapi ga ada salahnya kalo gue ngereview tentang perhelatan akbar bangsa Eropa itu. Ada satu fakta menarik yang muncul pas babak knock out. Dimana dari fakta itu kita bisa ngambil sebuah pesan moral yang berharga untuk dijalani dalam kehidupan kita.

Oke, mulai gue bahas.

Perempat Final

Pertandingan perempat final yang pertama, Portugal v Jerman.
Semua orang udah meng-underestimate Jerman. Banyak yang bilang kalo Portugal bakal melangkah mulus ke Semifinal, melihat performa Jerman pada babak grup yang kurang meyakinkan. Portugal memang tidak begitu sesumbar, tapi ada satu kesombongan pada diri pemain Portugal, teruatama Christiano Ronaldo. Akhirnya, karena kesombongan itu, mereka takluk dengan kegigihan para pemain Jerman.

Pertandingan kedua, Kroasia v Turki.
Kroasia, sebuah kekuatan baru di Eropa. Sebuah kekuatan yang sudah terbukti dalam menyingkirkan Inggris di babak kualifikasi, juga mengalahkan Jerman pada fase grup. Dari dua fakta itu, Kroasia lalu merasa sudah di atas angin. Merasa dengan mengalahkan dua tim dengan tradisi cukup kuat, mereka tidak akan dapat dihentikan lagi, oleh siapapun. Sayangnya, lagi-lagi karena kesombongan, mereka akhirnya harus mengakui semangat juang pantang menyerah dari Turki.

Pertandingan ketiga, Belanda v Rusia.
Penampilan gemilang tim oranye di fase grup cukup mengundang perhatian publik sepakbola. Banyak yang langsung menjagokan mereka sebagai sang juara turnamen ini. Bahkan, Marco Van Basten, sang pelatih Belanda pun sesumbar, mereka saat ini mencari lawan yang sepadan. Karena selama babak grup, mereka tidak dapat menemukan lawan yang sepadan. Maksudnya, semua levelnya di bawah mereka. Akhirnya, di babak perempat final ini mereka bertemu lawa yang sebetulnya tidak sepadan, tetapi mempunyai semangat juang yang lebih tinggi, Rusia. Alhasil, kesombongan Belanda ditaklukkan oleh teamwork Rusia. One man show Wesley Sneijder dikalahkan permainan teroganisir Rusia yang dikomandani oleh Andrey Arshavin.

Pertandingan keempat, Spanyol v Italia.
"Kami sudah bangkit kembali. Saat kami bangkit, kami sudah tidak dapat dihentikan lagi oleh siapapun," itulah kira-kira sesumbar yang dikeluarkan oleh Christian Panucci, bek Italia. Tanpa penjelasan panjang lebar, kita semua akhirnya melihat, lagi-lagi kesombongan harus kalah. Kesombongan Italia harus kalah dengan sikap merendah para pemain muda Spanyol.

Semi Final

Pertandingan pertama, Jerman v Turki.
Turki, yang dalam tiga pertandingan terakhirnya sebelum melangkah ke Semi Final, selalu berhasil memutar balikkan keadaan. Dari tertinggal menjadi balik meraih kemenangan. Mereka percaya, saat melawan Jerman, kejadian itu akan terulang lagi. Namun, tampaknya kali ini mereka harus menerima karma dari tiga tim sebelumnya. Kali ini, Jerman bisa membalikkan keadaan hingga mereka akhirnya menang. Bukti bahwa sepakbola sebenarnya tidak dapat dengan mudah ditaklukkan oleh sepakbola tidak jelas ala Turki.

Pertandingan kedua, Rusia v Spanyol.
Entah mengapa, Rusia setelah mengalahkan Belanda seakan-akan sudah yakin akan menjadi juara turnamen. Tampaknya mereka tidak belajar dari Belanda yang harus keluar turnamen karena lupa diri. Alhasil, mereka diingatkan akan jati diri mereka lagi oleh Spanyol. Rusia bertekuk lutut di bawah para matador Spanyol.

Final

Jerman v Spanyol.
Kedua tim ini, pada awalnya tidak sesumbar untuk menang. Mereka sama-sama memuji calon lawannya masing-masing. Tetapi, pada akhirnya Jerman keluar juga angkuhnya. Mereka sangat yakin akan menjungkirkan Spanyol karena secara mental mereka merasa sudah terbukti tangguh. Namun, mental saja ternyata tidak cukup. Spanyol, dengan kepercayaan diri yang tinggi berhasil memenangi partai final karena mereka tahu cara berorganisasi dalam permainan sepakbola. Mereka tahu cara bermain indah.


Akhirnya, sepakbola lah yang menang. Tim yang mampu memainkan permainan indah akhirnya yang keluar sebagai juara. Akhirnya Michel Platini harus menyerahkan trofi kepada Casillas, dimana 24 tahun yang lalu dialah yang mengangkat trofi itu sebagai kapten tim juara, Perancis, yang mengalahkan Spanyol.

Hikmah dari Euro 2008?
Janganlah sombong.
Oke!

* image embedded from http://www.euro2008.uefa.com/

2 comments:

Viandika Fauzi said...

pertamax ! !

diana bochiel said...

keduax...
hahahaha...
keren yak spanyol menang..
tapi kasian gw ma jerman...
tapi gw menang taruhan..he