Wednesday, June 4, 2008

Bajaj Kecoa Grande

Setelah sekian lama, akhirnya kemaren gue sama temen-temen gue untuk pertama kalinya nonton di MPX Grande. Emang, gue sama temen-temen gue emang norak, tapi itu menandakan kalo kita termasuk kelompok penonton film yang loyal sama Cineplex 21. Eheheheheh.

Berhubung MPX Grande yang berada di Pasaraya Blok M itu dekat dari rumah salah satu temen gue, Fika, maka kita pun berkumpul di rumah Fika. Oiya, jangan berpikiran kalo temen-temen yang gue maksud ini jumlahnya banyak sampe belasan gitu. Enggak, gue sama temen-temen gue (yang dasarnya sebenernya banyak) tiap jalan pasti maksimal cuman berempat. Ga tau kenapa ya, jarang banget kalo jalan bisa lebih dari segitu. Pasti tiap kalo mau lagi jalan bareng, ada aja yang inilah, itulah, ginilah, gitulah, ketulah dan berbagai macam alesan lainnya.

Kemaren yang hadir dalam perkumpulan maniak bioskop esek-esek itu adalah gue, Dono, Ijul sama Fika. Lalu, dari rumah Fika kita berempat merencanakan untuk naik kendaraan umum menuju Pasaraya yang sebenernya jaraknya hanya selemparan kancut.

Akhirnya bajaj dipilih untuk mengantarkan kita.

Ada satu kesalahan yang tidak dipikirkan oleh kita berempat sebelum memanggil dan menawar bajaj, yaitu, kita ga sadar kalo kita berempat dan salah satu di antara kita berbadan bison berkepala kingkong (si Dono).

Strategi penempatan ruang bajaj pun dipikirkan dan segera dilaksanakan. Dono yang badannya paling gede masuk duluan. Dono yang nawarin diri buat mangku Fika langsung ditolak mentah-mentah. Akhirnya Ijul rela disodomi dipangku Dono. Fika duduk di sebelah Dono, menyisakan ruang yang cuman selebar pantat kodok buat gue. Setelah dipaksa-paksa akhirnya pantat gue berhasil mendapatkan tempat.

Perjalanan dengan bajaj pun dimulai.

Sebenernya ke Pasaraya dari rumah Fika ga nyampe lima menit, tapi berhubung pas gue berangkat jalanan macet banget, jadi ke Pasaraya memakan waktu kurang lebih setengah jam.

Di tengah kemacetan itu Dono yang badannya paling gede tetep ga bisa diem. Tetep banyak omong sama banyak tingkah. Tiba-tiba,
"AAAAAAA!" Dono treak, badannya langsung naek.
Ijul yang lagi dipangku kelempar ke depan, nyangsang di pembatas ruang penumpang sama ruang pengemudi bajaj. Fika langsung latah jorok. Gue ngeliatin Dono.

"Kenapa sih lo?" tanya gue ke Dono.
Dono cuman megap-megap, kayak pengen ngomong sesuatu tapi ga bisa. Gue takut kalo Dono kesurupan hantu bajaj, temennya hantu ambulance.

Gue perhatiin gerak bibirnya Dono yang ngebentuk satu kalimat. Kayanya sih kalimat itu, 'Ada kecoa di badan gue!'

"Serius lo?? Hiiiiyyyy!" Fika histeris.
Dono ngangguk-ngangguk.
Ijul benerin kacamatanya yang melorot sambil ngomong, "Santai...."
Biji lu santai!

"Dimana? Dimana?" gue nanya Dono.
Dono masih belom bisa ngomong, nunjuk ke arah pantatnya pake tangan.
"HUAAAAAA!" Dono treak lagi, badannya menggeliat lagi. Ijul kelempar lagi.
Bajaj yang kita tumpangin jadi goyang-goyang kayak bajaj mesum.

Dono langsung ngambil hapenya nyenterin ke arah bangku buat nyari sang tersangka yang dalam hal ini adalah: kecoa. Tiba-tiba sang kecoa menampakkan antenanya.
"Itu! Itu! Itu kecoanya!" Dono treak lagi. Badannya yang gede jadi kliatan ga ada apa-apanya di hadapan sang kecoa malang itu.
"Hiyaaaa!" gue yang jijik sama kecoa langsung naikin pantat gue juga.
"Pukul! Cepetan pukul!" Fika nyuruh salah satu dari gue sama Dono buat mukul kecoa. Ijul masih nyangsang.
"Hah? Ga ah! Geli gue!" gue nolak untuk menjadi pembasmi kecoa.
"Tapi itu dia lari-lari mulu! Cepet pukul!" Fika masih terus ngasih semangat sambil duduk di pembatas penumpang sama supir bajaj.
Gue heran sama supir bajajnya, udah tau penumpangnya pada panik, dia tetep stay cool aja kayak kuli nyetir bajaj.

Akhirnya gue ngambil keputusan yang cukup berani: dudukin kecoa itu pake pantat gue.
Blesss!

Abis dudukin kecoa gue langsung berdiri lagi, gue liat kecoa udah ga ada.
"Liat pantat gue! Liat!" gue nunjukin pantat gue ke anak-anak, "Ada kecoa mejret gak??"
"Ga ada!" treak Fika.
"APA?? KECOANYA DIMANA KALO GITU??" gue histeris karena pengorbanan gue untuk memenyetkan kecoa jadi sia-sia.
"Ga tau! Masih ada yang pasti!" kata Dono sambil terus nyenterin kursi.
"Nih pake sepatu gue kalo kecoanya muncul lagi!" Fika ngasih sepatunya ke gue.
Gue ambil sepatu Fika sambil standby kalo sewaktu-waktu kecoa itu muncul lagi. Setelah 5 menit kita semua berada dalam posisi siap tempur (ga ada yang duduk di bangku penumpang), sang kecoa ga muncul lagi. Kita semua memberanikan diri buat duduk kembali di kursi.

Gue ngeliat keluar, orang-orang dari mobil banyak yang ngeliatin ke arah bajaj kita. Heran ada bajaj mesum di tengah kemacetan itu.

Yang jadi misteri hingga kini adalah: kemanakah kecoa itu setelah gue dudukin?

Kita semua yang di bajaj ga tau, sampe sebuah teori mistis muncul. Kemungkinan, kecoa itu adalah penunggu bajaj itu. Dialah hantu bajaj itu. Dia menampakkan wujudnya karena marah bajaj yang ditungguinya telah dinaiki oleh kita berempat tanpa permisi terlebih dahulu. Semenjak kejadian itu, entah kenapa, di sekitar dapur rumah gue jadi banyak kecoa.

Emm, sebenernya sih udah lama banyak kecoanya, tapi gue cuman pengen bikin lebih mistis aja.

2 comments:

diana bochiel said...

hahahhahaha pantat lo ga bau apa?
dih kecoa kan baunya minta amit2..
hoek...

kecoa ilang misterius..
jgn2 masuk pantat lo lg...
gigitin gambris..

wakakakakakakak...

MACCHIATO said...

Kami mengundang temen-temen semua ke peluncuran buku ini.



http://gagasmedia.net
Book Launch & Book Discussion Ciao Italia!
Siapa juga yang nggak pengen ngerasain nikmatnya pizza asli Italia? Negara yang satu ini, emang banyak dilirik para turis sebagai salah satu negara yang eksotik dan kental nilai budayanya.

Tapi... kalo nggak kesampaian datang ke sana, jangan sedih! Karena di launching buku Ciao Italia, kamu bisa merasakan indahnya sensasi negara itu tanpa harus jauh-jauh datang ke sana. Nggak perlu takut dibohongin! Karena penulisnya adalah orang asli Indonesia yang sempat live in di Italia, lho. So, buruan catat agendanya ya!

Hari/tanggal: Selasa, 17 Juni 2008
Pukul: 14.00 WIB - selesai
Tempat: Pusat Kebudayaan Italia, Jl. HOS. Cokroaminoto 117, Menteng, Jakarta Pusat
Pembicara:
- Gama Harjono (Penulis Ciao Italia)
- Bella Saphira (Artis)
- Filomena Vaccaro (Warga Italia)