Wednesday, April 23, 2008

Kibul vs Bokis

Hari ini, gue baru bangun jam dua belas siang. Hehe. Dimana-mana, orang dibangunin sama adzan subuh, tapi gue dibanguninnya sama adzan dzuhur. Durhaka.

Seharian di rumah, gue mestinya belajar buat ujian besok. Tapi, sindrom ogah belajar masih aja menyelimuti pikiran gue. Gue heran sama diri gue sendiri. Dulu waktu pas mau UAN SMA, gue autis banget buat urusan belajar. Gue bener-bener bisa ngurung diri di kamar buat belajar. Sekarang gue ngurung diri di kamar malah buat ngajo (ngayal jorok). Dongo.

Saking ga ada kerjaannya, dan gue udah bosen ngayak jorok, gue akhirnya keluar dari Goa Persetubuhan (baca: kamar). Gue turun ke bawah buat nonton tivi. Berhubung ga ada acara yang oke, gue akhirnya milih buat baca koran.

Tiba-tiba di luar ada suara orang,
"Permisi!" kata suara asing bernada pria itu.
Kalo orang normal, mestinya langsung keluar dan mencari tahu siapa yang mengeluarkan suara asing tersebut. Berhubung gue orang yang baru belajar untuk jadi normal, gue ga langsung keluar. Gue mikir dulu di dalem hati, "Permisi itu artinya apa ya? Emm, apa yang harus gue lakukan kalo ada suara permisi?"

Setelah gue mikir selama 30 detik, baru gue keluar. Di luar pager ada mas-mas dengan rambut jabrik pake baju rapih. Ciri khas seseorang yang baru aja dinobatin menjadi seonggok selesmen (Salesman). Ngeliat ada selesman di luar, niat iseng gue keluar. Iseng kenapa? Iya, biasanya selesmen itu bakal berusaha memanipulasi otak sasaran, yang dalam kasus ini adalah gue, supaya mau membeli barang dagangannya. Tapi, berhubung gue tukang manipulasi pikiran orang juga, terutama pikiran temen-temen gue, gue yakin bisa ngatasinnya.

"Sore mas, kami dari Indo-Star ingin menawarkan alat pijat dari Jepang aseli," kata selesmen itu.
"Kami? Kok kami sendirian aja mas?" tanya gue dari balik pager. Gue emang ga buka pager.
"Hah?" selesmen itu bingung.
"Iya kata mas kami, tapi mas sendirian aja, mestinya pake kata saya bukan kami," gue serasa jadi guru Bahasa Indonesia. Padahal gue juga tau tu selesmen pake kata kami emang udah aturannya gitu. Biar sopan atuh.

Ngedenger penjelasan ga penting gue mas-mas selesmen itu diem aja, dia langsung ngeluarin brosur yang udah lecek dari tasnya, "Ini mas silahkan diliat dulu brosurnya."

Gue pun mengambil brosur lecek itu, "Apaan nih mas?"
"Itu alat pijat dari Jepang aseli mas, bla..bla..bla.." gue ga ngedengerin penjelasan textbook mas-mas selesmen itu. Gue udah paham, ujung-ujungnya cuman nyuruh gue beli, tapi pasti awalnya ngomongnya gratis nih. Liat aja.

"Sebenarnya harga alat ini dua juta rupiah, tapi nanti hari minggu ada acara promosi kami di jaian (Giant) Lebak Bulus, jadi alat ini kami turunkan harganya, menjadi harga promosi yaitu satu setengah juta rupiah saja. Dan sekarang, mas beruntung, karena kami mendatangi langsung dari rumah ke rumah, hanya untuk memberikan alat ini kepada lima orang yang beruntung secara gratis!" jelas selesmen itu sampe berbusa.
"Gratis?" tanya gue sok kepancing.
"Iya, mas cukup membayar pajaknya saja," katanya. Kan, bener kan, ada bayaran juga.
"Lah, katanya gratis?" gue nanya lagi.
"Iya, tapi mas cukup bayar pajaknya saja."
"Pajak apaan? Pajak bumi dan bangunan?"
"Bukan mas, tapi pajak biaya masuk barang ini. Soalnya ini barang impor aseli dari Jepang."
"Kok saya yang bayar pajak? Enak aja," gue mulai melakukan perlawanan.
"Murah kok pajaknya mas, dibandingin harga alatnya, pajaknya cuman tiga ratus ribu. Tapi ada syarat lainnya mas," lanjut selesmen itu. Kan ada syarat lagi, pasti aneh deh.
"Apaan syaratnya?" tanya gue.
"Kalo tiga huruf dari nama KTP mas ada di dalam kata INDO-STAR, mas bisa mendapatkan alat ini hanya dengan tiga ratus ribu," kata selesmen itu. Gue kira syaratnya suruh striptease di pohon taman kompleks gue dulu.

Gue langsung mikir, kali ini otak gue bekerja cepet. Nama gue Bagus Saptopo, dan gue langsung ngecek apa tiga huruf dari nama gue ada di kata INDO-STAR itu. Iya ada. Huruf: A, S, T sama O. Brarti, gue harus mikir nama lain, nama samaran.

"Nama mas siapa?" tanya selesmen itu.
"Jono," gue malsuin nama gue.
"Nama lengkap KTPnya?" tanya selesmen itu lagi keukeuh.
"Jonojon," gue melanjutkan pemalsuan nama gue.
"Serius mas namanya itu?"
"Ho oh", kata gue.
"Wah, sayang sekali mas. Nama mas ga sesuai," kata selesmen itu dengan muka penyesalan yang dibuat-buat.
"Wah sayang juga mas, coba geratis ga pake syarat, ga pake bayar pajak," gue juga masang muka penyesalan yang dibuat-buat.
"Ya kalo begitu saya permisi mas, terima kasih."

Akhirnya, selesmen itu pun pergi.

Hari gue yang hampa diisi dengan menipu orang yang akan menipu gue. Tukang ngibul berani ngelawan tukang bokis. Hueheh.

Dah ah, berhubung hati gue galau lagi untuk kesekian kalinya, gue jadi kurang asoy buat nulis. Semoga gue cepet sembuh dari kegalauan ini. Biasa, masalah tai kotok, alias cinta tai.

CIAATTT!