Saturday, April 26, 2008

Happy Birthday Nasya!

Hari ini merupakan hari ulang tahun keponakan gue, Nasya, yang ke-5. Gila ya, tuh anak makin gila. Eh bukan, maksud gue, tuh anak cepet banget numbuhnya, ga kerasa udah 5 taun aja. Padahal, kayaknya baru aja kemaren gue ajarin cara berak yang bener di kloset duduk itu gimana, sekarang dia udah bisa nyikatin kamar mandi sendiri malahan. Eheheh.

Acara awal ulang taun Nasya ini pun diadakan secara sederhana di rumahnya, yang masih satu kompleks sama rumah gue juga. Adapun acara puncak diadakan di sekolahnya Nasya, pada hari Senin, tanggal 28 April 2008, dari pukul 10:00 WIB sampai selesai. Penting? Buat temen sekolahannya, iya.

Di hari yang sangat spesial ini, selain Nasya dan Saskia (kakaknya Nasya), turut hadir juga Bapak Presiden kita. Duhh, bukan. Maksud gue, keponakan gue yang lain (Ada, Dimas sama Naba) dateng juga. Ayo kita absen satu-satu.

1. Saskia!
Duh, makin gendut aja nih anak. Ckckck.

2. Si kembar! (Adam+Dimas)
Tenang-tenang! Jangan ngambil batu! Ga ada anak STM ngajak tawuran!

3. Naba!

Naba! Ilernya dielap!



Setelah Power Rangers berkumpul, akhirnya acara tiup lilin pun dimulai. Oiya, selain para Power Rangers, datang juga sepupu-sepupu Nasya yang lain, yang dari keluarga kakak ipar gue. Pas acara tiup lilin, sempet terjadi kerusuhan sedikit. Dimana selain Nasya yang memunyai hajat untuk meniup lilin, Adam, Dimas dan Naba saling berebut untuk ikutan meniup lilin juga demi membasmi Babi Ngepet yang berkeliaran. Akhirnya, peniupan lilin pun harus dilakukan berkali-kali sampe tuh lilin mejret. Hati gue iba ngeliat sang lilin dizalimi oleh para Power Rangers tidak berperikelilinan. Oh lilin sungguh kasian nasibmu! Semoga engkau dapat masuk surga setelah kejadian ini. Dan untuk para Babi Ngepet yang berkeliaran, maafkan para keponakan saya yang telah meniup lilin. Semoga kalian tidak tertangkap massa ketika sedang beroperasi. Semangat! UOOOHHH!

Pas lagi acara makan, Saskia yang temennya juga dateng (namanya Jennifer), gue liat lagi gosip berdua di sofa ruang tivi. Di situ juga ada Nasya. Gue pun akhirnya duduk di sebelah saskia, berusaha untuk mengikuti tren gosip anak SD.
"Ngapain Om Bagus ke sini?" tanya Saskia judes.
"Om Bagus mau ikutan gosip!" kata gue sambil melahap cake ulang taun Nasya.
"Ga mau ah, Om Bagus kan belom mandi!" bentak Saskia yang lagi makan Sate.
"Iya, Om Bagus kan belom mandi," kali ini Nasya yang biasanya jadi pengikut gue malah ikutan menyerang gue sambil makan Bakwan. Penghianat!
Tiba-tiba, kakak gue, Mas Feri (bokapnya Naba), ikutan duduk di situ juga. Mas Feri dengan hebohnya langsung nanya ke Jennifer, "Jen, Saskia di sekolah cowoknya siapa?"
"Wawan!" jawab Jennifer semangat.
"Cie Wawan!" ejek gue sama Mas Feri barengan ke Saskia.
Saskia cuman bisa teriak-teriak kayak Kuntilanak 3. Terus dia ngajak Jennifer masuk ke kamarnya, "Udah yuk Jen, kita gosip di kamar aja."
Dasar anak SD.

Di keluarga gue, diantara para Power Rangers, yang lagi jadi idola sekarang si Naba. Ini dikarenakan dia yang paling kecil, bukan tititnya, tapi umurnya yang baru 1 taun 8 bulan. Jadi masih dalam taraf yang bego tapi lucu. Sungguh, Naba emang lucu. Baru kali ini gue denger anak kecil yang lahir dan dibesarkan di Jakarta tapi bisa menggunakan 3 bahasa. Selain bahasa planet bebih dan bahasa Indonesia, dia juga bisa bahasa Jawa. Ya, betul! Bahasa Jawa! Gue sebagai orang Jawa bangga keponakan gue akhirnya ada yang bisa bahasa Jawa! Karena selama ini, perkawinan kakak gue yang semuanya gabungan Jawa-Padang, gak satupun dari anak mereka yang bisa Bahasa Jawa. Umumnya Bahasa Padang lebih ngerti. Emang, mas Feri sebagai ayah telah sukses menjawanisasi Naba. Alhasil, tiap Naba ngomong pun semuanya pada ketawa. Banyak juga yang mau foto sama dia. Naba, memang primadono keluarga gue.

Yah, pada acara terakhir, saat semuanya berkumpul, terjadilah poto-bareng-keluarga-jawa-dan-padang. Inilah hasilnya:

Saat Jawa dan Padang berkumpul.

Selamat ulang taun Nasya!

Thursday, April 24, 2008

Player meets Player

Udah jadi kodratnya hidup ini diciptakan berpasang-pasangan. Dalam hal ini gue akan membahas pasangan antara cowok sama cewek. Berdasarkan pengamatan gue, ada beberapa hal yang menarik buat gue bahas. Yaitu, tentang sifat berpasang-pasangan itu.

Banyak orang bilang, kalo cewek cakep pasti dapetin cowok jelek, terus kalo cewek jelek pasti dapetin cowok cakep. Alasannya, itu karena Tuhan maha adil. Cuman menurut gue, kalo kaya gitu Tuhan bukan maha adil namanya. Kenapa? Karena ada ketidaksesuaian di situ. Ga ada persamaan yang bisa dibilang sebagai sesuatu yang adil. Banyak yang bilang, kalo perbedaan justru membuat pasangan menjadi lebih saling melengkapi.

Buat gue, itu bullshit.

Apalagi kalo perbedaan itu udah sesuatu perbedaan yang sangat mendasar. Karena itu, gue berpikiran kalo persamaan dalam berpasangan itu justru lebih adil dan saling melengkapi. Dan itulah kenyataan yang ada, yang membuktikan kalo Allah itu emang adil.

Contohnya, orang baik Insya Allah akan mendapatkan orang baik juga. Orang yang setia akan mendapatkan orang yang setia juga. Sebaliknya, orang yang jahat akan mendapatkan orang yang jahat juga. Yang ga setia akan mendapatkan yang ga setia juga. Player meets Player.

Gue secara menghususkan akan membahas Player ketemu Player ini.

Menurut teori yang ada di otak gue, kenapa seorang pria Player akan mendapatkan seorang wanita Player juga, dikarenakan mereka tidak pernah menggunakan perasaan mereka dalam berhubungan. Mereka tidak pernah menggunakan perasaan tersebut dikarenakan secara tidak sadar mereka sendiri bahkan tidak punya perasaan.

Kenapa gue bisa punya teori yang arogan kayak gitu?

Oke, gini deh contohnya, kata-kata dari seorang yang Player itu sejatinya penuh dengan omong kosong belaka. Pasangannya, yang seorang Player juga, tentunya mengetahui kalo omongannya itu hanyalah omong kosong belaka, maka dia tidak akan memperdulikan omongan dari pasangannya itu.

Coba sekarang kita pasangkan seorang Player dengan seorang yang setia. Saat seorang player mengumbar omong kosongnya kepada seorang yang setia, orang yang setia itu akan sepenuhnya percaya begitu saja pada omongan dari Player tersebut. Ini dikarenakan seorang yang setia menggunakan perasaan mereka dalam menjalankan hubungan. Mereka sering dianggap bodoh dalam hal ini, tapi itulah idealisme mereka yang sangat amatlah langka di jaman sekarang.

Setelah seorang yang setia percaya terhadap setiap pembicaraan sang Player. Maka dengan sepenuh jiwa, orang yang setia tersebut rela melakukan apa saja demi seorang Player yang busuk itu. Sedangkan Player itu tidak sepenuhnya melakukan untuk orang setia itu. Karena mereka tidak memiliki perasaan untuk melakukan itu. Sungguh ironis bukan?

Banyak yang bilang orang setia ini termasuk orang yang sering dibutakan oleh cinta. Gue pun mengiyakan itu. Itulah mereka, mereka buta karena mereka setia. Mereka bodoh karena mereka setia. Mereka rela dimanfaatkan demi menyenangkan orang yang dicintainya. Tapi apa balasannya? Si Player akan pergi begitu saja tanpa jejak. Leave without a trace. Hanya sedikit dari Player yang berubah pikiran untuk menjadi seorang setia.

Karena itu, menurut gue, Tuhan itu pasti maha adil. Ia akan memberikan seorang yang setia dengan pasangan yang setia juga. Ia akan memberikan seorang Player dengan pasangan yang Player juga.

Sekarang, tergantung dari anda. Anda mau memilih menjadi setia atau Player?

Atau mungkin pertanyaan gue diganti jadi: Anda termasuk golongan setia atau Player?

Cuma diri lo sendiri yang tau. Yang pasti lo tau mana yang baik dan mana yang buruk dalam menjalani sebuah hubungan.

Wednesday, April 23, 2008

Kibul vs Bokis

Hari ini, gue baru bangun jam dua belas siang. Hehe. Dimana-mana, orang dibangunin sama adzan subuh, tapi gue dibanguninnya sama adzan dzuhur. Durhaka.

Seharian di rumah, gue mestinya belajar buat ujian besok. Tapi, sindrom ogah belajar masih aja menyelimuti pikiran gue. Gue heran sama diri gue sendiri. Dulu waktu pas mau UAN SMA, gue autis banget buat urusan belajar. Gue bener-bener bisa ngurung diri di kamar buat belajar. Sekarang gue ngurung diri di kamar malah buat ngajo (ngayal jorok). Dongo.

Saking ga ada kerjaannya, dan gue udah bosen ngayak jorok, gue akhirnya keluar dari Goa Persetubuhan (baca: kamar). Gue turun ke bawah buat nonton tivi. Berhubung ga ada acara yang oke, gue akhirnya milih buat baca koran.

Tiba-tiba di luar ada suara orang,
"Permisi!" kata suara asing bernada pria itu.
Kalo orang normal, mestinya langsung keluar dan mencari tahu siapa yang mengeluarkan suara asing tersebut. Berhubung gue orang yang baru belajar untuk jadi normal, gue ga langsung keluar. Gue mikir dulu di dalem hati, "Permisi itu artinya apa ya? Emm, apa yang harus gue lakukan kalo ada suara permisi?"

Setelah gue mikir selama 30 detik, baru gue keluar. Di luar pager ada mas-mas dengan rambut jabrik pake baju rapih. Ciri khas seseorang yang baru aja dinobatin menjadi seonggok selesmen (Salesman). Ngeliat ada selesman di luar, niat iseng gue keluar. Iseng kenapa? Iya, biasanya selesmen itu bakal berusaha memanipulasi otak sasaran, yang dalam kasus ini adalah gue, supaya mau membeli barang dagangannya. Tapi, berhubung gue tukang manipulasi pikiran orang juga, terutama pikiran temen-temen gue, gue yakin bisa ngatasinnya.

"Sore mas, kami dari Indo-Star ingin menawarkan alat pijat dari Jepang aseli," kata selesmen itu.
"Kami? Kok kami sendirian aja mas?" tanya gue dari balik pager. Gue emang ga buka pager.
"Hah?" selesmen itu bingung.
"Iya kata mas kami, tapi mas sendirian aja, mestinya pake kata saya bukan kami," gue serasa jadi guru Bahasa Indonesia. Padahal gue juga tau tu selesmen pake kata kami emang udah aturannya gitu. Biar sopan atuh.

Ngedenger penjelasan ga penting gue mas-mas selesmen itu diem aja, dia langsung ngeluarin brosur yang udah lecek dari tasnya, "Ini mas silahkan diliat dulu brosurnya."

Gue pun mengambil brosur lecek itu, "Apaan nih mas?"
"Itu alat pijat dari Jepang aseli mas, bla..bla..bla.." gue ga ngedengerin penjelasan textbook mas-mas selesmen itu. Gue udah paham, ujung-ujungnya cuman nyuruh gue beli, tapi pasti awalnya ngomongnya gratis nih. Liat aja.

"Sebenarnya harga alat ini dua juta rupiah, tapi nanti hari minggu ada acara promosi kami di jaian (Giant) Lebak Bulus, jadi alat ini kami turunkan harganya, menjadi harga promosi yaitu satu setengah juta rupiah saja. Dan sekarang, mas beruntung, karena kami mendatangi langsung dari rumah ke rumah, hanya untuk memberikan alat ini kepada lima orang yang beruntung secara gratis!" jelas selesmen itu sampe berbusa.
"Gratis?" tanya gue sok kepancing.
"Iya, mas cukup membayar pajaknya saja," katanya. Kan, bener kan, ada bayaran juga.
"Lah, katanya gratis?" gue nanya lagi.
"Iya, tapi mas cukup bayar pajaknya saja."
"Pajak apaan? Pajak bumi dan bangunan?"
"Bukan mas, tapi pajak biaya masuk barang ini. Soalnya ini barang impor aseli dari Jepang."
"Kok saya yang bayar pajak? Enak aja," gue mulai melakukan perlawanan.
"Murah kok pajaknya mas, dibandingin harga alatnya, pajaknya cuman tiga ratus ribu. Tapi ada syarat lainnya mas," lanjut selesmen itu. Kan ada syarat lagi, pasti aneh deh.
"Apaan syaratnya?" tanya gue.
"Kalo tiga huruf dari nama KTP mas ada di dalam kata INDO-STAR, mas bisa mendapatkan alat ini hanya dengan tiga ratus ribu," kata selesmen itu. Gue kira syaratnya suruh striptease di pohon taman kompleks gue dulu.

Gue langsung mikir, kali ini otak gue bekerja cepet. Nama gue Bagus Saptopo, dan gue langsung ngecek apa tiga huruf dari nama gue ada di kata INDO-STAR itu. Iya ada. Huruf: A, S, T sama O. Brarti, gue harus mikir nama lain, nama samaran.

"Nama mas siapa?" tanya selesmen itu.
"Jono," gue malsuin nama gue.
"Nama lengkap KTPnya?" tanya selesmen itu lagi keukeuh.
"Jonojon," gue melanjutkan pemalsuan nama gue.
"Serius mas namanya itu?"
"Ho oh", kata gue.
"Wah, sayang sekali mas. Nama mas ga sesuai," kata selesmen itu dengan muka penyesalan yang dibuat-buat.
"Wah sayang juga mas, coba geratis ga pake syarat, ga pake bayar pajak," gue juga masang muka penyesalan yang dibuat-buat.
"Ya kalo begitu saya permisi mas, terima kasih."

Akhirnya, selesmen itu pun pergi.

Hari gue yang hampa diisi dengan menipu orang yang akan menipu gue. Tukang ngibul berani ngelawan tukang bokis. Hueheh.

Dah ah, berhubung hati gue galau lagi untuk kesekian kalinya, gue jadi kurang asoy buat nulis. Semoga gue cepet sembuh dari kegalauan ini. Biasa, masalah tai kotok, alias cinta tai.

CIAATTT!

Monday, April 21, 2008

ATSE

Bukanlah nama panggilan dari Tao Ming Se. Bukan nama penyakit menular seksual. Bukan juga nama sekte sesat baru. Tapi, merupakan kependekan dari salah satu nama mata kuliah gue: Advanced Topics in Software Engineering. Nah, kagak ngarti dah itu gue maksudnya apaan. Kalo dibahasa Indonesiain, artinya: Topik lanjutan dalam rekayasa piranti lunak. Gue taunya Bandeng duri lunak, alias Bandeng Presto. Nah, mulai deh ga nyambung.

Lagi, sebuah mata kuliah yang harus gue ulang di semester delapan ini. Parahnya, udah gue ga ngerti itu mata kuliah apaan, gue harus ngulang, dan ditambah dapet dosen yang ga jelas maunya apaan. Heran gue. Pernah pada suatu kasus, tiap kelompok yang ada di kelas disuruh bikin sayur asem (ini cuman perumpamaan, dikarenakan bahasa IT bukanlah bahasa yang manusiawi). Terus pas minggu depannya tiap kelompok mau ngumpulin sayur asem buatan masing-masing, sang dosen malah marah-marah. Katanya dia ga nyuruh anak-anak bikin sayur asem, tapi bikin sayur lodeh. Aneh kan? Ga jelas maunya apaan. Mukanya juga ngeselin, minta dicelupin ke larutan penyegar cap kaki tiga biar segeran dikit.

Hari ini, gue UTS mata kuliah ATSE ini. Seperti biasa, dalam menghadapi ujian, gue ga pernah serius belajar. Untuk kali ini gue ga nonton bokep lagi, tapi gue main gemboi. Maen Mario Bros pula, mati mulu lagi. Heran gue, susah amat itu mainan. Keponakan gue aja jago bener, kok gue bego bener ya?

Di saat-saat terakhir dimana gue mestinya udah ngereview apa yang gue pelajarin, gue malah baru buka bahan pelajaran. Gue buka slide presentasi dosen yang semuanya pake bahasa Inggris. Sangat tidak mendukung pembelajaran sekali, bukan? Alhasil, sebelom jadi imbisil gara-gara baca presentasi yang penuh bahasa Inggris ditambah bahasa IT yang sangat alien, gue brenti belajar. Ngehe.

Dengan muka melas, gue nelfon temen gue, Asep.
"Cep, lo ada bahan-bahan?" tanya gue.
"Wah, ga ada Gus, gue sendiri juga bingung mau belajar dari mana," jawab Asep.
"Bukan bahan belajar Cep, tapi bahan kain kafan. Gue minta dikubur aja deh daripada harus ujian."
"Yee, kunyuk!" Asep sewot.
"Eheheh," gue ketawa slengean, "serius lo ga ada bahan belajar?"
"Ga ada Gus, gue cuman belajar dari slide dosen aja," kata Asep pasrah.
"Yah..." gue juga ikutan pasrah, pasrah kayak abis ejakulasi dini, "tapi lo ada catetan kodingan ga Cep? Biar bisa gue apal mati tuh kodingan."
"Ada Gus, ada. Lo mau?" Asep memberi harapan.
"Mau dong, lo kapan ke kampus?"
"Ni gue udah di kosan temen gue," kata Asep.
"Ya udah lo ke kampus jam empat ya, gue mau mandi terus berangkat!"
"Oke!"

Akhirnya, gue langsung buru-buru mandi, terus siap-siap berangkat ke kampus. Tapi berhubung keponakan gue, si Nasya dateng ke rumah. Gue malah main-main dulu sama dia sampe jam empat. Nah, kan, lupa waktu. Jam empat lewat gue baru berangkat. Sampe kampus pun, baru jam lima kurang seperempat. Lima belas menit sebelum masuk ujian. Leng, geleng, geleng.

Gue langsung menuju ke ruang ujian gue di lantai dua, ruang 201. Pas nyampe depan ruangan ada tulisan: "Ruangan Ujian Pindah ke 701."
Curut.

Gue akhirnya naik ke lantai tujuh tanpa menggunakan lift, tapi naik eskalator. Sialnya, eskalator dari lantai lima mati. Jadi, menuju ke lantai tujuh gue harus manjat lewat pinggiran tembok. Enggaklah dul. Gue harus menapaki eskalator yang mati itu satu persatu tiap anak tangga. Sampe di lantai tujuh, udah ada beberapa anak kelas gue yang lagi belajar pake muka kusut di depan ruangan ujian. Tapi, ga ada si Asep di depan kelas itu. Emang kampret ya tu anak.

Gue telfon lagi si Asep.
"Eh busik! Dimana lo?" tanya gue.
"Di kosan temen gue, lo gue tungguin dari jam setengah empat ga dateng-dateng!" kata Asep.
"Eheheheheh, mangap! Gue abis ngangon bocah di rumah, ya udah buruan lo kesini."
"Iya, ni gue jalan."

Tapi, sampe ujian mau mulai, si Asep belom nunjukin bulu jembutnya juga. Pengawas ujian pun akhirnya lewat di depan anak-anak sambil senyum, "Udah pada siap?" tanya sang pengawas.
Spontan anak-anak menjawab, "Beluuuummmmm!" termasuk gue.

Pengawas yang sok ramah gini nih yang bahaya. Biasanya, ujung-ujungnya malah sangar. Bener kan, pas gue masuk ruangan, muka dia udah berubah jadi kayak Hulk. Beringas, kayak anjing rabies. Dan dia pun langsung bikin peraturan aneh: Tas Taro di Depan!

Selama empat taun gue kuliah di kampus ini, baru kali ini gue nemu pengawas ujian kayak gini.

Ujian pun dimulai. Ngeliat soal, hati gue bagai diiris sama piso roti. Ga tajem, bergerigi, artinya: disiksa pelan-pelan. PG dua puluh soal, bobot 40%. Essay satu soal, bobot 60%. Uhuh. Kunyuk banget tu essay.

Itu mah bukan essay, tapi kasus. Masa ya, gue disuruh bikin sebuah web. Sebenernya, soalnya gampang, tapi berhubung guenya emang geblegh, gue cuman bisa meringis.

Selama empat puluh menit gue cuman stuck bolak balik kertas sambil terus ngupil. Nebak-nebak jawaban pege pake feeling sambil terus dzikir dalem ati. Pas udah hampir satu jam, pege gue slese. Tapi ada satu mahasiswa yang keluar, tanda udah slese. Gue yakin dia slese, bukan cuman sok-sokan keluar cepet buat ngejatohin mental yang lain. Soalnya dia emang termasuk jajaran makhluk Jenius, bukan Idiot kayak gue. Iya, gue udah jadi idiot, bukan imbisil lagi.

Gue pun akhirnya mulai menulis kodingan web dengan asal-mengasal. Apa yang terlintas di kepala gue, langsung gue coret di lembar jawaban ujian dengan rapihnya. Akhirnya, setelah sepuluh menit gue melukis abstrak di lembar jawaban, gue berdiri dengan angkuhnya. Gue kumpulin lembar jawaban sama soal gue. Gue melangkah keluar ruangan dengan senyum kemenangan. Begitu diluar, gue langsung mau nangis meraung-raung, kayak Simba keilangan bokapnya. Huaaaaaaaa!

Itulah UTS gue hari ini. Dijalani dengan penuh keikhlasan dan berserah diri kepada yang di Atas. Dalam arti lain: PASRAH.

Udah ah, besok gue ada UTS lagi. Gue (kayaknya) mau belajar dulu. Daaaaaa!

Eh ada gemboi, maen ah!

Sunday, April 20, 2008

Deuteranopia

Tenang-tenang, judul postingan ini bukanlah sebuah negara baru dari Afrika. Tapi merupakan sebuah kekurangan yang ada pada beberapa orang manusia, termasuk gue. Manusia emang ga ada yang sempurna ya kan. Gue aja biarpun bisa ngupil sempurna, tapi tetep aja blom sempurna dalam hal korek-mengorek congek gue dari kuping. Yang pasti, Deuteranopia itu ga ada hubungannya sama upil juga congek. Ga ada hubungannya juga sama impotensi atau lemah syahwat. Eheh.

Waktu kecil, pas gue TK, gue paling sering diikutin lomba mewarnai sama emak babeh gue. Dan perjuangan mereka untuk ngikutin gue yang masih ingusan itu ke dalam persaingan lomba mewarnai pun tidak sia-sia. Hasilnya, gue sering menang. Gue udah sering nerima penghargaan dalam bidang warna-mewarnai. Dibandingin gue yang dulu, yang banyak dapet piala, gue yang sekarang ga ada apa-apanya. Ngadu gundu sama anak bocah aja kalah mulu. Ngadu layangan telap mulu. Ikutan lomba makan kerupuk pas tujuh belasan juga kalah sama keponakan gue, Saskia. Yang bisa gue banggain sekarang cuma upil gue. Ga keren kan?

Pas masuk SD, gue masuk dengan predikat juara bertahan lomba mewarnai antar anak TK. Tapi, setelah gue mulai masuk ke kelas 4, keanehan mulai terjadi. Keanehan itu bukan di sekolahan, tapi di rumah gue. Ceritanya, waktu itu gue sama kakak-kakak gue lagi dikasih oleh-oleh tasbih sama tante gue. Sebagai bontot, gue disuruh milih warna tasbih yang pertama. Gue milih warna biru.
"Ih Gus, kamu kok ngambil warna pink sih?" tanya Mba Vina, kakak gue.
Pink? Buta warna apa ya tu Mba Vina? Jelas-jelas biru juga.
"Apanya yang pink? Ini kan biru!" gue sewot.
"Itu pink!" Mba Vina tetep ngotot.
"Biru!" gue ga mau kalah.

Akhirnya, asisten rumah gue (biasa disebut pembokat, tapi buat gue kurang sopan kalo nyebut mereka itu pembokat), Mba Wayan, yang waktu itu ada di situ berusaha melerai gue dari pertengkaran kakak beradik itu.
"Kenapa sih?" tanya Mba Wayan.
"Itu warnanya pink kan Yan?" tanya Mba Vina ke Mba Wayan.
"Biru!" gue membentak.
"Pink," jawab Mba Wayan kalem.
Apa??? Di rumah gue, ternyata ada dua orang buta warna.

Kejadian aneh selanjutnya terjadi saat gue kelas 1 SMA. Waktu itu, guru Geografi gue, Pak Munadi, nyuruh anak-anak bikin gambar pulau Sumatera. Buat gue, yang udah biasa gambar pulau dari kecil(baca: ngompol) dan berbekal pengalaman sebagai juara mewarnai waktu TK, itu hal mudah. Minggu depannya, pas dikumpulin, gue udah yakin bakal disanjung-sanjung sama Pak Munadi. Gue juga yakin Pak Munadi langsung bikin pengumuman di radio sekolah, juga gambar pulau gue bakal dipajang di mading sekolahan.

"Bagus!" panggil Pak Munadi.
Gue yang udah ngebayangin bakal dipuji langsung maju ke meja guru dengan semringah, "Ada apa pak?"
"Ini gambar kamu?" tanya Pak Munadi sambil nunjukin kertas yang berisi gambar pulau hasil bikinan gue.
"Iya Pak!" jawab gue mantab.
"Nih saya balikin, minggu depan kamu bikin lagi yang bener," Pak Munadi ngasih kertas gambar gue.
"Hah? Emang kenapa pak? Ini kan udah bener gambar pulau Sumatera," gue heran, alis nyatu di tengah, mulut manyun.
"Iya, itu emang bener pulau Sumatera. Tapi pulau Sumatera ga dikelilingin sama laut yang warnanya ijo!"
"..."

Semenjak saat itu, gue sadar kalo ternyata, buta warna itu berada pada diri gue. Bukan Mba Vina atau Mba Wayan yang gue curigain selama ini. Akhirnya, dalam pengerjaan ulang gambar pulau Sumatera itu, gue minta bantuan nyokap gue buat nyari warna laut (baca: biru). Sebuah hal yang sangat memalukan bagi mantan juara mewarnai tingkat TK.

Temen-temen gue yang tau keadaan gue, ga ninggalin gue gitu aja. Gue ga dikucilin gitu aja dari pergaulan. Gue ga dianggap sebagai sampah masyarakat yang ga berguna. Sebaliknya, gue malah didukung penuh sama mereka.
"Gus!" panggil Lanang yang duduk sebangku sama gue waktu itu.
"Iya nang?" tanya gue.
"Ni warna apaan?" Lanang nanya warna spidol yang lagi dipegang tangan kanannya.
"Emm, pink!" tebak gue. Iya, semenjak itu gue cuman bisa nebak warna.
"Muahahahahahahahahahaha! Abu-abu bego! Muahahahahaha!" Lanang ketawa puas. Idungnya kembang kempis, bibirnya geter-geter, tititnya konak sampe ngecrit.

Ya, seperti itulah terapi yang diberikan oleh temen-temen gue dalam menyembuhkan penyakit gue ini. Untungnya, ada temen gue yang senasib sama gue juga, Gerry. Dia juga buta warna. Gue sama dia akhirnya ikut "Bimbingan Mengenal Warna" yang diadakan oleh temen sekelas gue waktu SMA, Farah. Farah ngajarin kita berdua dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Sampe gue lulus SMA, kita selalu ikut pelajaran tambahan dari Farah. Hasilnya: NIHIL.

Beberapa hari yang lalu, gue semakin penasaran sama penyakit gue ini. Gue pun akhirnya gugling, terus buka wikipedia buat nyari masalah buta warna ini. Disitu ada beberapa tes gambar, isinya kita dicek, apa bisa kita ngeliat angka yang udah disamarkan itu.

Di gambar pertama, kita disuruh nyari angka 37. Gue bisa. Gambar kedua, suruh nyari angka 56. Jelas banget! Ihihihihihih! Gambar ketiga, disuruh nyari angka 44 atau 49.

BABI NGEPET!

KAGA ADA ITU ANGKA EMPAT EMPAT ATO EMPAT SEMBILAN!

Gue langsung liat penyakit apa gue? Deuteranopia. Ya itu namanya. Hiks. Gue langsung sakit hati ngebaca itu. Berarti bener gue sakit. Gue buta warna. Huaaaaaaaa!

Mau gue kemanain predikat mantan juara mewarnai tingkat TK gue? Mau dikemanain harga diri gue? Rasanya udah kayak kehilangan harapan hidup! Udah kayak dicabulin Saipul Jamil!

Ya, hidup gue berwarna, tapi gue ga tau apa itu warna.


Coba liat ada angka 44 atau 49 gak???


* Image embedded from Wikipedia.

Genjotan si Mister

Satu kendaraan yang pengen gue milikin saat ini buat nganterin gue kemana-mana yaitu sepeda. Iya, sepeda. Yang digenjot itu. Dibandingin mobil, motor, bajaj, kancil, rusa, kuda, kijang, monyet dan kendaraan motor lainnya, menurut gue sepeda paling yang ga ada matinya. Kenapa ga ada matinya? Soalnya emang dia benda mati. Eheheheh.

Bukan, bukan. Soalnya, sepeda itu kendaraan yang menurut gue ga perlu ribet buat ngerawatnya. Ga perlu isi bensin, ga perlu ganti oli, ga perlu tune up, ga perlu dipanasin dulu dan yang pasti ga perlu cape-cape ngedorong pas mogok. Soalnya emang ga mungkin mogok. Yaiyalaaahhhhh. Bege.

Dari pertama gue masuk kuliah, empat taun yang lalu, gue udah punya niat buat naik sepeda ke kampus. Tapi berhubung sepeda gue udah dihibahkan ke satpam komplek, jadi mimpi basah gue buat naek sepeda ke kampus blom kesampean. Mau beli yang baru, kok kayaknya mahal-mahal ya, mending buat beli kolor jitimen yang baru. Kan ga mungkin gue minta sepeda lagi ke emak babeh. Tar dibeliinya malah Wim Cycle. Heeeboooohhh! Malu ah, udah gede.

Jadi, gue mundurin target gue buat naek sepeda sebagai kendaraan utama untuk beberapa taun ke depan. Yaitu: pas gue kerja. Gue pun terinspirasi sama om gue, Om Wahyu. Om Wahyu ini emang anggota Bike To Work (BTW). Dia pernah malem-malem nelfon ke rumah gue, cuman pengen pamer kalo dia masuk tipi gara-gara komunitas BTWnya lagi diliput dan dia diwawancarain. Pernah juga, ga ada angin mamiri atau angin semilir atau angin kentut, dia dateng ke rumah gue bawa majalah. Di situ, dia diwawancarain eksklusif sama majalah itu cuman gara-gara BTWnya. Tapi gue kagum sama om gue, biar kurus kerempeng kayak pohon cabe. Tapi kalo udah urusan genjot-menggenjot sepedah, dia juaranyah! Salut gue.

Selain Om Wahyu, kemaren gue nemuin satu lagi orang yang jadi inspirasi gue untuk bisa menjadikan sepeda sebagai kendaraan utama. Sebut aja orang itu Mister. Kenapa gue sebut Mister?

Pertama, dia cowok.
Kedua, dia lebih tua dari gue.
Ketiga, ga mungkin gue nyegat dia di depan kayak polisi-polisi cuman buat nanyain nama.
Keempat, dan yang paling pasti, dia bule.

Oke, mungkin dia bukan anggota BTW kayak om gue. Tapi soal semangat, gue akuin bisa kayak om gue.

Jadi ceritanya gini. Kemaren sore, gue mau ke rumah kakak gue di daerah Kalibata naik motor. Sore-sore gitu, apalagi hari Jumat, jalanan Jakarta pasti macet banget ya kan, ga mungkin enggak. Naik motor aja udah sikut-sikutan, apalagi naek mobil, bisa pecut-pecutan tuh. Setaaaasss!

Nah, pas gue lagi terjebak lampu merah di perempatan Melawai. Lewatlah seorang bule bersepeda (si Mister) di trotoar. Dengan lihaynya dia nyempal-nyempil di jalan, sedangkan gue cuman lihay buat ngupal-ngupil sambil hasilnya dilempar ke motor atau mobil orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Di depan Optik Seis, si Mister brenti nungguin lampu merah juga. Kakinya ga turun pas brenti. Hebat kan. Iyalah, orang tangan kanannya megang tiang listrik, tangan kirinya tolak pinggang. Udah kayak Malin Kundang yang lagi membelah angin di ujung kapal.

Pas lampu berubah jadi ijo. Si Mister langsung ngegenjot sepedanya dengan penuh birahi. OSSSHHH! Dia langsung ngebut sekebut-kebutnya. Gue berusaha ngejar, tapi apa daya gue ga sanggup ngelawan si Mister yang abis minum Irex itu.

Tapi, untungnya di perempatan Sarinah, kena lampu merah lagi. Si Mister ada di ujung garis start. Gue akhirnya brenti di sebelahnya. Pas di situ akhirnya gue bisa ngeliat mukanya si Mister yang libidonya lagi tinggi itu. Kalo gue liat, umurnya kayaknya ga jauh beda dari om gue. Sekitar empat puluhan juga. Brewoknya banyak, rambutnya sedikit keriting, jembut sama gambrisnya gue ga sempet liat, soalnya udah keburu ijo dan si Mister langsung ngegenjot sepedanya lagi. Kali ini, gue ga mau kalah dari si Mister. Gue akhirnya langsung tancap gas motor gue. Tapi, gue kalah lagi untuk kesekian kalinya. Dan si Mister pun menghilang dari pandangan gue.

Akhirnya, gue kena macet di Tendean. Pas lagi terjebak macet itulah, tiba-tiba dari kiri si Mister lewat lagi. Ternyata, tadi dia sempet di belakang gue. Gue ngeliat si Mister masih semangat, akhirnya ikut naik ke trotoar. Iye, gue salah, naik motor ke trotoar. Maap!

Setelah kira-kira 100m gue buntutin dia, si Mister brenti, dia ambil minum. Gue juga brenti, ngangkat telfon. Pas gue slese ngangkat telfon, si Mister juga udah slese minumnya. Akhirnya perlombaan antara gue sama Mister berlanjut. Dan hasilnya: gue kalah lagi.

Kali ini gue udah nyerah. Gue udah pasrah dan ga berharap ketemu Mister lagi. Soalnya feeling gue, dia belok kiri ke arah Kuningan, sedangkan gue lurus ke arah Pancoran.

Sesampainya di Pancoran, tepatnya di depan Bidakara, dari kiri ada yang nyalip gue lagi. Bedeh, sedep banget, si Mister back to the track. Gue kali ini berusaha mensejajarkan motor gue di sebelah dia. Terus dia gue panggil, "Mister!"
Dia nengok ke gue.
Gue naikin kepalan kiri gue ke atas sambil teriak, "UOOOHHHH!"
Si Mister naikin kepalan kanannya, dia juga teriak, "YOOOOOOO!"

Dan akhirnya, gue berpisah sama Mister di perempatan itu. Dia lurus ke arah Cawang. Sedangkan gue harus belok kanan ke arah Kalibata.

Pertarungan gue sama Mister pun harus berakhir. Gue ga akan melupakan semangat Mister yang penuh birahi itu dalam menggenjot sepeda. Gue yakin, gue pasti bisa kayak dia. Minimal, gue bisa penuh birahi kayak dia.

Bye, bye, Mister. You're my inspiration.

Friday, April 18, 2008

Cinta?

Dulu, waktu gue kelas satu SMA, suatu hari gue pernah buka agenda punya temen gue, Malo. Emang sebenernya buka agenda orang itu ga baek. Tapi berhubung si Malo ini orangnya suka diekspos, jadi dia cuek aja pas gue liat agendanya. Buat dia semua tentang dia boleh dibuka, kecuali isi pulsanya dia.

Gue juga ga ngerti kenapa dia ga mau diliat pulsanya. Dulu pernah waktu gue lagi megang hapenya terus gue ngecek pulsanya dia. Pas dia tau gue lagi ngecek pulsa hapenya dia, dia langsung noyor gue dari belakang.
"Eh kampret! Ngapain lo ngecek pulsa gue?" tanyanya sambil ngeluarin muka bataknya yang khas.
Gue yang udah terzalimi oleh toyorannya cuman diem aja.

Waktu itu, pas gue lagi liat agendanya. Di dalemnya ada sebuah puisi tentang cinta. Iya, cinta. Najis kan? Gue juga geli sendiri bacanya. Heran, kok bisa ya si batak satu ini bikin puisi. Pas gue selesein baca puisinya, ternyata ujung-ujungnya ga enak. Intinya, jayus.

Tapi, itu terkadang jadi pedoman gue buat urusan cinta mencinta yang rasanya udah kayak kayak permen Nano Nano. Manis, asem, asin, rame rasanya.

Puisinya si Malo itu pun sampe sekarang gue masih inget isinya. Dia berusaha mengartikan sebuah cinta. Kayak gini isinya:
Cinta itu putih,
Putih itu bersih,
Bersih itu suci,
Suci itu mahal,
Mahal itu emas,
Emas itu kuning,
Kuning itu tai,
Jadi, cinta itu tai.

Buat gue saat ini, puisi Malo yang ditulis waktu kelas satu SMA itu bener. Ya, buat gue saat ini, cinta itu tai.

Kenapa?

Hauk deh kenapa. Intinya emang gue lagi males berurusan dengan segala hal yg berbau cinta. Karena buat gue, bau cinta sekarang masih kayak tai. Tapi, mungkin suatu saat, dan gue yakin, kalo bau cinta itu bakalan jadi harum, seharum bunga mawar.

Pret!

Thursday, April 17, 2008

Bahasa Indonesia

Kemaren malem, gue ceting sama adeknya temen gue. Di situ gue dikasih pertanyaan kayak gini:
"Kak, kenapa namanya Bagus sih? Kok ga Good aja, kan biar keren."

Gue bingung mau jawab apaan. Akhirnya gue garuk-garuk kepala, gosok-gosok lubang idung, nguber congek di kuping terus ngeraba-raba gambris. Gue nemuin jawabannya.

"Masih untung dikasih nama Bagus, pake Bahasa Indonesia. Coba kalo pake Bahasa Jawa, jadinya Apik, kan ga keren. Nanti pas orang-orang manggil, jadinya, 'Pik! Pik!' Itu kalo yang kenal, kalo yang ga kenal terus ngedenger itu kan disangkanya manggil babi, 'Pig! Pig!', ga enak kan."

Terus dia jawab lagi,
"Ya tapi kan tetep aja kerenan pake bahasa Inggris kak, jadi Good bukan Bagus!"

Gue mikir lagi. Setelah gue ngupil pake jempol tangan kanan di lobang idung kiri, gue nemuin jawabannya. Emang deh upil itu bener-bener melahirkan inspirasi, makanya di coba ya! Terus gue jawab lagi, lebih tepatnya ngeles.

"Iya, soalnya aku kan orang Jawa, muka juga udah mendukung. Kalo namanya Good malah ga cocok. Nanti kalo ada orang kenalan, kecewa dong, nama Boss Bule, muka Kuli Jawa."

Akhirnya adeknya temen gue diem, mungkin dia udah ngerti jawaban gue. Mungkin.

Kalo dipikir-pikir, Bahasa Inggris itu kayaknya emang udah menjadi sesuatu yang 'keren' di kehidupan kita ini. Kalo ga pake bahasa inggris, brarti itu orang ga keren, ga pinter dan yang pasti: ga gaul kaya Saipul Jamil. Itu menurut gue ya.

Emang sih, Bahasa Inggris itu bahasa Internasional yang hukumnya wajib dimengerti pada era Globalisasi kayak gini. Tapi, apa perlu kita menstatuskan Bahasa Inggris menjadi GolKer (Golongan Keren)? Apa kabar bahasa kita? Mau dimasukkin ke golongan mana? Golongan 'udah basi'?

Tanpa mendiskreditkan orang-orang yang suka memakai Bahasa Inggris sebagai percakapan sehari-hari, termasuk keluarga juga temen gue yang sering gue liat memakai itu, menurut gue, mereka terlalu angkuh buat ngomong Bahasa Inggris. Emm, gimana ya.

Oke gini deh, ini cuman pendapat gue. Kalo salah, ya maap! Menurut gue, mereka ngomong kayak gitu ada suatu tujuan. Dan tujuan itu masing-masing pribadinya beda. Ada yang supaya dibilang pinter. Ada yang supaya dibilang keren. Bahkan ya, ada juga yang cuman ikut-ikutan, istilahnya biar diakui pergaulan. Hehe.

Mereka boleh dibilang pinter, oke lo pinter. Mereka boleh dibilang keren, oke lo keren. Mereka juga boleh minta diakuin, oke lo terakui. Tapi, jangan sampe aja bahasa kita, Bahasa Indonesia, dilupain gitu aja. Dianggep bodoh, dianggep jelek juga dianggep kurang gaul ala Saipul Jamil.

Bahasa Indonesia, bahasa yang pertama kali dipelajarin. Pertama kali kita ucapin. Dari Bahasa Indonesia itulah kita bisa baca. Lo semua bisa baca blog gue, juga karena salah satunya ada Bahasa Indonesia ini. Dari Bahasa Indonesia itulah kita bisa nulis. Lo semua bisa nulis blog masing-masing, juga karena Bahasa Indonesia pada awalnya, belajar huruf pake Bahasa Indonesia (contoh: Ini Budi). Dan yang pasti, lo semua, bisa Bahasa Inggris, karena awalnya emang lo ngerti arti dalam Bahasa Indonesianya.

Jadi, buat orang Indonesia. Tolong lestarikan Bahasa Indonesia. Pergunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Di isi Sumpah Pemuda yang ketiga, ketulis:
"Kami Putra Putri Indonesia, Menjujung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia."

Hidup Indonesia!
Hehe..

(katanya) Lagu jaman bocah

Beberapa hari yang lalu, gue ceting sama temen gue, Anton. Dia ngasih gue beberapa lagu, katanya lagu rap jaman SD dulu. Gue pertama-tama ga tau nih lagunya siapa.

Gue juga sempet lupa siapa yang nyanyi. Tapi, setelah di denger-denger, ternyata...

Hahahahaha!

Sumpah kocak banget! Ni bener-bener jaman gue SD dulu. Waktu masih ingusan, naik jemputan, jajan batagor, pake celana pendek di atas lutut, bawa botol minum, ga tau apa itu bokep, masih percaya kalo ciuman aja bikin hamil, masih nganggep kalo cewek itu dari kecil emang udah disunat makanya ga punya buyung kaya cowok dan masih banyak hal polos bodoh lainnya.

Duh, masa SD, jadi kangen gue. Hehe.

Selamat menikmati lagunya.






Monday, April 14, 2008

Summer Movies 2008

Kurang dari sebulan lagi musim film Box Office dateng. Biasa disebut dengan "Summer Movies". Kaya taun lalu, taun ini pun gue harus mengalokasikan dana gue buat beberapa film itu. Dan gue udah bikin list film yang harus ditonton, ngalahin list belanjaan emak gue.

Yang harus gue tonton itu:
- Iron Man (May 2)
- Speed Racer (May 9)
- Indiana Jones and the Kingdom of the Crystall Skull (May 22)
- Sex and the City: The Movie (May 30)
- Kung Fu Panda (June 6)
- You Don't Mess with the Zohan (June 6)
- The Incredible Hulk (June 13)
- Wall-E (June 27)
- Hancock (July 2)
- The Dark Knight (July 18)
- The X-Files 2 (July 25, working production)
* Tanggalnya merupakan tanggal rilis di Amerika, kemungkinan bisa lebih cepet 2 hari di Indonesia kalo film itu emang bener-bener film yg booming.

Iron Man, gue lumayan penasaran setelah gue liat trailernya. Kayaknya kok keren ya. Tapi kan namanya trailer bisa nipu lah ya.

Speed Racer, pas gue liat trailernya kayaknya kurang oke buat sutradara sekelas "The Wachowski Brothers". Tapi gue tetep penasaran sama film adaptasi, terutama adaptasi dari kartun.

Indiana Jones and the Kingdom of the Crystall Skull, sebenernya gue ga begitu yakin sama film ini. Gue cuman pengen tau kayak apa Indiana Jones pas udah tua. Hehe.

Sex and the City: The Movie, sebenernya gue kurang ngikutin serialnya. Tapi kenapa gue masukin list, soalnya pasti temen-temen gue yang cewek pada ngajakin nonton ini.

Kung Fu Panda, buat gue ga ada salahnya kita nonton kartun. Apalagi film ini, pengisi suaranya Jack Black. Gue berharep bisa ketawa dari film ini, walaupun mungkin ga segila kaya "The Simpsons Movie" taun lalu.

You Don't Mess With the Zohan, ini salah satu film yang gue harap ga telat ditayangin di sini. Gue nunggu aksi begonya Adam Sandler lagi, yang pasti punya ending menyentuh di tiap filmnya.

The Incredible Hulk, gue cuman berharap supaya film ini ga mengecewakan kaya "Hulk" di taun 2003. Walaupun menurut gue Edward Norton mukanya kurang pas buat jadi Bruce Banner, tapi gue yakin dia bisa lebih baik dari Eric Bana.

Wall-E, film animasi kedua di taun ini yang bikin gue penasaran setelah Kung Fu Panda. Gue juga belom liat banyak informasi tentang film ini sih. Tapi gue tertarik aja setelah baca sebagian sinopsisnya.

Hancock, kalo gue baca di sinopsisnya, kalo ga salah ini cerita tentang seorang superhero yang namanya John Hancock (kayanya ga ada hubungannya sama John Hancock yang jadi orang pertama nanda tanganin United States Declaration of Independence), diperanin sama Will Smith. Katanya, sedikit berbau komedi.

The Dark Knight, ini film yang paling gue tunggu di taun ini. Pertama kali film Batman yang ga nyantumin nama Batman itu sendiri di judulnya. Yang paling bikin penasaran dari film ini yaitu Joker, yang diperanin sama Heath Ledger, salah satu aktor hebat menurut gue. Tapi sayangnya dia ga sempet ngeliat premiere dari film ini. Tuhan udah berkata lain. Di samping itu, film ini juga ada perubahan pemeran di tokoh Rachel Dawes. Dawes yang dulu di Batman Begins diperanin Katie Holmes, diganti Maggie Gyllenhaal karena katanya Holmes nolak buat main lagi.

The X-Files 2, di penutup list gue, gue harus nonton film ini. Gue ga tau apa bakalan ditayangin di sini apa enggak. Ya mudah-mudahan ditayangin. Gue bener-bener ngefans sama film yang satu ini. Judulnya sendiri belom resmi. Itu masih working title.

Friday, April 11, 2008

Suntikan Sang Dokter feat. Suster

Buat gue, dari bagian tubuh gue yang seksi ini, yang paling haram untuk diliat orang ada dua. Pertama tentunya si buyung yang ada di depan, yang tau aja kalo ada cewek bohay. Yang kedua, pantat gue. Iya, buat gue pantat gue ga boleh diliat siapa-siapa, kecuali kuman dan bakteri yang ada di closet pas gue boker. Soalnya pantat gue ini belom diasuransi kayak pantatnya jelo (J-Lo).

Tapi, ada satu kejadian di akhir taun 2006 dimana akhirnya kesucian pantat gue dizalimi sama orang. Mestinya ini jadi rahasia gue sama orang yang ngezalimin pantat gue (cewek kok yang ngezalimin, bukan cowok), tapi karena suatu kebodohan, akhirnya cerita ini udah melegenda di kalangan temen-temen gue.

Ceritanya begini,
waktu itu gue lagi mau nonton liga inggris, emyu lawan celsi (MU v Chelsea). Nah, dua jam sebelom pertandingan, gue makan rambutan sampe 20 biji. Rambutan itu ternyata bentuknya kayak biji kita juga ya, bulet berbulu.

Udah, ga usah mikir jorok, balik ke cerita.

Nah puas gue makan rambutan, gue akhirnya makan normal, yaitu makan nasi. Lauk gue waktu itu, gue masih inget banget, ikan balado. Dan, dengan anehnya, gue yang biasanya ga suka pedes, waktu itu ngambil cabenya banyak banget. Jadi makanan gue waktu itu udah kayak bendera, merah putih. Merah cabe, putih nasi, item kulit gue.

Gue stay di depan tivi sambil nonton acara-acara ga jelas di cenel lain. Gue akhirnya bikin kopi. Tapi, baru setengah cangkir gue minum kopi, tiba-tiba perut gue mules. Gue akhirnya berak-berak mencret di kamar mandi. Abis itu badan gue lemes, kayak orang abis em el. Terus gue mutusin mendingan gue ga usah nonton bola, mending gue tidur.

Pas di kamar, perut gue masih ga enak. Malahan, keadaannya makin parah, mual. Gue serasa kayak hamil satu bulan. Padahal gue ga pernah main sama siapa-siapa, makanya gue bingung. Ga lama setelah gue mikir kalo gue hamil, tiba-tiba gue berasa mau muntah. Gue langsung lari ke kamar mandi.

HOEK!
Gue muntah. Sial.
Ga tau kenapa tiba-tiba gue inget adegan aming sama sogy homoan.
HUOEEEKKKKK!
Kampret. Gue tambah banyak muntahnya.

Muka gue udah pucet. Gue akhirnya ngolesin minyak kayu putih di perut gue, terus abis itu gue bisa tidur.

Paginya, pas gue bangun, gue langsung muntah lagi. Kali ini Nyokap gue akhirnya tau kalo gue hamil satu bulan.
Ya enggak laaaahhhhh!

Nyokap gue yang ngeliat anaknya sakit, langsung bikinin gue teh anget. Layaknya seorang Ibu, pasti dia bakalan nanya anaknya kenapa.
"Ko bisa muntah si kamu Gus?" tanya Nyokap gue.
"Kalo aku tau, aku pasti bisa cari cara supaya ga muntah Bu," jawab gue sambil megang perut yang kali ini rasanya sakit banget. Kayak ditusuk-tusuk.
"Sekarang rasanya apa perut kamu?" tanya Nyokap gue lagi.
"Sakit Bu, kayak ditusuk-tusuk," gue masang muka pucet. Minta dikasianin lagi.
"Waduh! Jangan-jangan itu usus buntu! Udah ke dokter aja! Biar kalo bener langsung dibawa ke rumah sakit, langsung operasi!"
"..."

Salah ngomong gue. Gue paling takut sama yang namanya operasi. Apalagi operasi usus buntu, yang pake belek-belek perut. Hiiiiiyyy.

Akhirnya gue dibawa ke klinik 24 jam deket rumah gue dulu sama Nyokap gue. Klinik itu masih sepi, jadi gue langsung masuk ke ruang periksa dokter. Dokternya cewek, mukanya angker, badannya gede, rambutnya gede kayak Nyokapnya Bart Simpsons, mulutnya lebar, perhiasannya banyak. Ini dokter apa Tante Girang sih?

"Kenapa?" tanya tante, eh dokter itu.
"Sakit dok," jawab gue melas.
"Saya juga tau, kalo sehat kamu juga ga mungkin ada di sini."
"Oiya, dokter bener juga. Pinter ya dokter."
"Makanya saya jadi dokter!"
"..."

Dokternya malah bercanda!

"Sakit apa?"
"Perutnya sakit Dok, kayak ditusuk-tusuk, terus muntah-muntah. Saya ga hamil kan ya dok?" jelas gue.
Dokter Girang itu cuman ngeliatin gue, "sana tiduran dulu, biar saya periksa!" katanya.

Gue pun melangkah ke kasur pesakitan. Gue tiduran di sana, dokter itu siap buat nyabulin gue pake pecut sama borgol. Gak lah.

Perut gue diteken-teken sama si dokter girang.
"Coba kamu tarik nafas!" katanya.
"Shhhh," gue narik nafas.
"Sekarang buang nafas!" perintahnya lagi.
"Huffff," gue buang nafas.
"Sakit ga pas buang nafas?" tanya dokter girang.
"Sakit dok," jawab gue jujur.
Dokter itu pindah ke bagian perut gue yang lain, dia nyuruh gue buat narik sama buang nafas lagi.
"Sakit ga?"
"Sakitan yang tadi dok."
"Ya udah, duduk lagi di kursi," perintah sang dokter. Gue pun nurut sebelom dia neken-neken badan gue yang lain.

Dokter itu bikin catetan-catetan ceker ayam di kertas yang ada di mejanya.
"Ini takutnya usus buntu loh kamu," katanya.
"Serius dok?" gue ga percaya.
"Mungkin, tapi bisa juga infeksi usus."
"Yang perlu dioperasi yang mana dok?" tanya gue.
"Ya usus buntu, kalo infeksi usus paling cuman dikasih antibiotik aja," jelasnya.
"Ya udah, infeksi usus aja deh dok!" gue milih.
Dokter girang itu ngeliatin gue lagi, "gini aja deh, sekarang kamu saya kasih obat, kalo besok makin parah, berarti itu bener usus buntu, kalo ga ya brarti emang cuman infeksi usus."
"Setuju!" gue girang, tapi ga kayak dokter girang itu.
"Ya udah, kamu tiduran lagi sana," kata dokter sambil nunjuk kasur pesakitan.
"Hah? Ngapain dok?" gue takut akhirnya beneran jadi korban dokter girang cabul.
"Mau saya kasih obat," katanya.
"Kok pake tiduran dok?" gue masih belom mau nurut.
"Iya kan obatnya suntik."
"..."

Selain operasi, gue juga takut disuntik.

"Tapi kan ga perlu tiduran dok! Lewat tangan juga bisa kan?" tanya gue heran.
"Suntiknya di pantat."
"..."

Dan gue selain takut disuntik, juga malu pantat gue diliat dokter girang.

Akhirnya, gue nurut. Gue udah mau nangis, pantat gue mau diliat sama dokter. Ilang udah kesucian gue. Dokter itu keluar sebentar, pas masuk dia bawa 2 orang suster ke dalem.
"Dok, suster-suster pada mau ngapain?" gue takut bakalan bener-bener dicabulin rame-rame.
"Besok saya ga ada, makanya saya mau ngasih tau suster ini nyuntik di pantat yang pas tusukannya itu gimana, besok mereka yang gantiin saya nyuntik kamu," jelas sang dokter.
"Hah? Emang berapa kali suntiknya dok?" gue panik.
"Tiga dalam tiga hari," katanya sambil ngangkat 3 jarinya. "Satu hari sekali," lanjutnya.
"Apa?" gue keringet dingin.

Dokter Girang itu ngajarin suster-suster cara ngesot yang bener gimana. Enggak, dokter itu ngajarin cara nyuntik di pantat yang bener gimana. Tanpa aba-aba, pantat gue langsung disuntik sama dokter.
Juss!
Gue kaget, mata gue merem melek, udah kayak orang orgasme. Abis disuntik, pantat gue sakit banget, gue ga bisa duduk. Paha kanan gue pegel banget, soalnya emang yang disuntik pantat kanan gue.
"Gimana?" tanya dokter sambil pasang senyum pepsodent.
"Sakit. Pegel."
"Kamu brarti tegang tuh pas mau disuntik, juga kamu belom biasa, besok-besok ga bakalan sesakit ini kok, saya jamin!"
Gue cuman ngangguk terus pulang.

Akhirnya, selama perjalanan pulang ke rumah, di mobil gue cuman bisa nungging. Pantat gue ngadep ke kaca. Gue minta Nyokap jalannya pelan-pelan, terutama pas polisi tidur.

***

Besoknya, gue belom masuk kampus. Gue mesti ke klinik lagi buat nyuntik (caelah bahasanya). Tapi gue bingung sama siapa gue ke sana. Tiba-tiba, temen gue, Lanang, nelfon.
"Gus lo dirumah?" tanyanya.
"Iya, kenapa?" kata gue.
"Gue ke rumah lo yak! Numpang ngadem!"
"Ya udah, tapi anterin gue ke klinik ya Nang."
"Ngapain?"
"Berobat Nang, gue sakit."
"Oh, oke!"

Akhirnya, Lanang dateng ke rumah gue. Gue belom ngasih tau Lanang kalo gue bakal disuntik di pantat. Gue malu. Terus rada siangan, gue dianterin ke klinik. Kali ini, suster yang kemaren udah ikutan nyabulin gue bareng dokter girang langsung nyuruh gue masuk ke ruang praktek. Lanang juga ikut. Huff.

Gue pun melangkah lagi ke atas kasur pesakitan.
"Ngapain lo Gus?" tanya Lanang.
"Nang," panggil gue.
"Iya?"
"Jangan bilang siapa-siapa ya, terutama anak-anak," kata gue.
"Hah? Kenapa?" Lanang heran.
"Pantat gue mau disuntik."
"HUAHAHAHAHAHAHAHA!" Lanang seneng. Gue gedeg.

Suster pun masuk ke ruang praktek. Gue langsung buka celana gue, Lanang berdiri ngeliat pantat gue. Cecunguk.
"Eh, jangan pantat yang itu," kata suster.
"Hah? Emang kenapa sus?" tanya gue bingung.
"Iya, kemaren kan yang kanan. Sekarang yang kiri, biar imbang."
Imbang? Terus, besok yang mana yang mau disuntik biar imbang juga? Masa si buyung? Huaaaaaa! Udah cukup si buyung disuntik pas gue mau disunat aja!
"Nah, terus besok yang mana sus, yang mau disuntik?" tanya gue buat mastiin si buyung aman-aman aja masa depannya.
"Pantat kanan lagi," jawab sang suster.
Gue ngelus-ngelus dada pertanda lega.
"Pantat lo item Gus?" tanya Lanang.
"Kampret!" maki gue.
Juss!
Suntikan kedua. Bener kata sang dokter girang, yang kedua ga begitu sakit lagi.

Besoknya, gue dateng lagi. Kali ini gue udah yakin bisa sendiri, jadi gue dengan pedenya bawa motor ke sana sendirian.
Juss!
Suntikan ketiga. Ga sakit apa-apa. Pantat gue udah mati rasa kebanyakan disuntik.

***

Nah itu ceritanya, yang mestinya ga gue ceritain. Tapi karena kebodohan gue, akhirnya ini bukan lagi rahasia publik. Gara-gara pas taun lalu gue lagi ngumpul sama anak-anak. Gue sendiri yang keceplosan cerita di depan anak-anak.

Gue malu, malu gue ilang.
Tapi, kemaluan gue tetep ada.

Ujian Praktikum (lagi)

Baru dua hari yang lalu gue dipusingin sama yang namanya ujian praktikum Struktur Data, hari ini gue ujian praktikum lagi, kali ini mata kuliahnya: Sistem Basis Data. Nah, ketemu lagi kan sama si data. Kemaren strukturnya, sekarang sistem basisnya, besok? Mungkin besok gue ujian praktikum Organ Reproduksi Data.

Sistem Basis Data ini mata kuliah semester 4. Iye, gue ngulang lagi. Iye, gue geblek ngulang mulu. Tapi gue ganteng kok. Sumpeh de, kemaren aja dosen gue bilang gitu. Pas diabsen sama dia, dia yang bilang sendiri.
"Bagus!" kata pak dosen.
"Iya saya pak!" kata gue sambil ngangkat tangan.
"Oh kamu toh yang namanya Bagus," katanya sambil ngangguk-ngangguk.
"Iya Pak, itu saya!"
"Bagus deh, ganteng, sesuai namanya," kata dosen itu jujur.
Gue senyum mesum.
Ihiy! Sumpeh deh, beneran itu. Tanya aja anak kelas gue pas mata kuliah AOK. Dosen gue, Handi, bilang gitu. Tapi gue juga ga ngerti maksud dia bilang gue ganteng kenapa. Jangan-jangan dia homo lagi. Ahh, peduli amat. Yang penting, ada yang bilang gue ganteng di depan orang banyak. Uhuy!

Sama kayak ujian kemaren, ujian hari ini pun dengan bodohnya gue ga belajar (lagi). Gue padahal udah niat kalo mau beajar dari hari Rabu. Tapi nafsu berkata lain. Akhirnya, gue baru mulai buka bahan buat belajar pas hari kamis jam 10 malem, malem Jumat. Pas gue lagi belajar, tiba-tiba temen gue, Iqbal, nelfon.
"Napa?" kata gue pas ngangkat telfon.
"Eh Gus, udah belajar lo?" tanya Iqbal dari seberang.
"Ni baru mau mulai."
"Serius lo baru mau belajar sekarang?" tanyanya ga percaya.
"Iya," jawab gue dengan optimis.
"Mau begadang lo? Kan bahannya banyak banget."
"Hah? Banyak ya? Iya deh gue begadang," gue mulai panik sama males.
"Iya banyak banget."
"Tapi gue juga ga ada es qi el (SQL) Bal di komputer," gue mulai memelas.
"Hah? Wah parah lo! Lo mau kompail (compile) dimana?"
"Di otak gue," kata gue angkuh.
"Serah lo deh!"
Akhirnya, gue yang ga punya Microsoft SQL di komputer gue cuma baca catetan yang dikasih sama assisten lab. Ngompile di otak gue. Tapi daritadi eror mulu. Yang keluar cuman gambar Luna Maya lagi lesbian sama Terry Putri sambil dipecut Sandra Dewi.
Heehhh.

Ga nyampe satu jam, pandangan gue udah bukan ke catetan lagi. Tapi sekarang gue malah asik ceting sama temen-temen gue. Kasus yang sama kayak gue belajar Struktur Data keulang lagi. Konsentrasi gue teralihkan.
Kampret.

Gue milih tidur, terus belajar besok pagi-pagi buta. Tapi, tau gue kan ya, kalo ga tau brarti lo sekarang jadi tau. Gue baru bangun jam 10, itu pun gara-gara Nyokap gue ngasih tau kalo dia mau pergi.
Mestinya: gue langsung belajar.
Yang gue lakukan: baca koran sambil makan.
Semprul.

Akhirnya, gue baru belajar setelah solat Jumat. Itupun cuman baca-baca ga jelas. Gue belajar cuman sejam, trus langsung berangkat ke kampus. Di kampus, udah banyak temen gue yang megang catetan di tangannya. Gue cuman megang lobang idung gue, nyari upil.
"Far, pinjem catetan dong," kata gue ke Farah, temen gue.
"Nih Gus," Farah ngasih catetannya yang tebel ke gue.
Gue bolak-balik kertas catetannya Farah.
Sayur.
Banyak bener ini catetan.

Gue cuman ngeliat yang paling belakang, yang kodingannya paling aneh, yang mestinya masuk 'Ripley's: Believe it or not'. Gue pun melangkah ke depan lab, di situ udah ada temen gue, si Abud, yang waktu itu ngambil KMK bareng sama gue.
"Halo Bud!" sapa gue sambil nyengir.
"Halo Gus!" Abud nyapa balik.
"Apa kabar Bud?" gue nanya ga penting.
"Kabar buruk setelah ketemu lo," kata Abud.
Kunyuk.

Terus gue duduk di depan Abud, gue lanjutin baca-baca catetannya si Farah. Tiba-tiba ada temen gue dateng, sebut aja namanya Oneng.
"Eh, Gus, pinjem catetannya Farah dong!" kata Oneng dengan muka oon.
"Yah, Neng, gue lagi belajar, bentar ya," gue nahan catetannya Farah.
"Liat dikit aja, lo kan cuma baca yang belakang Gus."
"Oiya ya, bener juga lo Neng," kata gue sambil ngangguk guk guk.
Gue akhirnya ngerobek catetannya Farah yang paling belakang, bagian yang gue baca.
Srek.
"Bagus!" treak Farah yang kaya beruang kutub.
"Ya Far, ada apa?" tanya gue.
"Itu kenapa catetan gue dirobek?!" sang beruang kutub marah.
"Sedikit Far, kan abis ini ga lo pake lagi," gue membela diri.
"Iya, tapi kan jadi berantakan!" lanjut beruang kutub dengan mukanya yang memerah.
"Ya maap," kata gue enteng. Terus gue langsung ngasih catetannya Farah yang lain ke Oneng. Si Farah cuman ngeliat kesel ke gue. Kalo diliat, udah kayak beruang kutub pake blush on merah.

Akhirnya gue pun menjalankan ujian dengan persiapan yang cuman segede upil semut. Emang semut upilan? Upilan, gue pernah nanya kok.

Di dalem ruang ujian itu, seperti biasa, gue masang muka tetep dingin (stay cool). Ketak ketik kibor, pasang muka sok oke. Ngeliat soal, pasang muka sok ngerti. Ngeliat monitor, pasang muka sok asik. Ngeliat temen, pasang muka sok pinter. Tapi beneran gue bisa loh! Ahahahahaha!

Pas ujian slese gue ketemu sama Iqbal di depan lab.
"Eh tompel!" panggil gue sambil ngelus tompelnya yang ada di deket bibir.
"Ape?" tanyanya.
"Gimana? Bisa lo?" tanya gue dengan belagu.
"Bisa lah, lo gimana?"
"Bisa dong! Ya udah gue turun duluan ya!" kata gue sambil mau beranjak dari tempat.
"Mau kemana lo?" tanya si tompel.
"Solat, makasih sama yang di Atas," jawab gue sambil nyengir.
"Solat?" si Iqbal nanya ga percaya.
"Iya solat," kata gue meyakinkan.
"Solat?" tanya Iqbal lagi, kali ini tompelnya kembang kempis kayak idung.
"Iya,"
"Solat?" si tompel masih nanya.
"Iye kampret!" gue mulai kesel.
"Emang udah mandi wajib?"
"Oiya ya," gue baru inget.

Thursday, April 10, 2008

Hadapi mimpi buruk di hari ujian yang ujan dengan senyum semilir, IHIY!

Kemaren, gue ada ujian praktikum mata kuliahStruktur Data. Itu sebenernya mata kuliah gue waktu semester 2. Tapi, berhubung gue ga lulus mata kuliah itu, gue akhirnya ngambil lagi di semester 8 ini. Sampe sekarang sebenernya gue masih ga ngerti kenapa mata kuliah itu dinamain Struktur Data. Emang data ada strukturnya ya? Gue taunya Struktur Reproduksi Manusia doang.

Yang namanya orang menghadapi ujian kan mesti belajar ya, kalo perlu sampe autis semaleman. Tapi enggak buat gue. Gue ga autis, gue masih bisa komunikasi sama orang, masih bisa dibilangin. Tapi gue cuman hiperaktif aja, untungnya ga hipersex. Jadi, kalo orang-orang yang serius mulai belajarnya dari satu minggu sebelomnya, gue selama satu minggu malah tetep asik makan, minum, ngupil, kentut, berak, sama nonton bokep. Orang yang khawatir sama ujian biasanya sehari sebelom ujian belajar serius, tapi gue sehari sebelomnya malah bikin eksperimen pembentukan tokay yang hasilnya sukses ngebentuk tokay jadi kayak sperma. Beneran loh, lucu deh bentuknya.

Pas hari H, gue mulai panik, tapi muka sok asik. Ujian gue emang sore, jadi gue bisa belajar dari pagi. Tapi berhubung otak gue masih pengen berfantasi dalam mimpi, akhirnya gue tidur sampe jam 11 siang. Pas bangun, gue akhirnya lupa kalo ada ujian. Gue tetep asik nonton acara gosip di tipi-tipi, lupa belajar.

Tiba-tiba pas gue lagi cengengesan nonton tipi, gue sadar kalo gue mesti belajar. Cengengesan ge berubah jadi ringisan. Dengan amat sangat terpaksa gue ke kamar gue, nyalain komputer, berusaha mulai belajar.

10 menit kemudian.

Gue lagi asik ceting sama temen gue. Gue buka-buka ef es. Gue buka-buka blog orang. Gue buka baju sampe bugil.

Kampret.
Ga belajar-belajar.

Akhirnya, gue inget omongan senior gue, Thomas, yang satu kelas sama gue di mata kuliah ini.
"Duh, gimana ya ujian nanti Tom?" tanya gue ke Thomas beberapa waktu lalu.
"Ga gimana-gimana Gus, gitu-gitu aja ujiannya," jawab Thomas.
"Maksud gue belajarnya gimana?"
"Belajarnya lo apal mati aja kodingannya."
"Apal mati?"
"Iya apal mati,"
"Gue ga mau mati Tom, gue masih pengen ngerasain kawin sama Luna Maya dulu," kata gue sambil masang muka melas.
"Luna Maya lebih milih mati daripada harus dikawinin sama lo Gus!"
"Ga apa-apa deh, brarti kan gue bisa ngawinin dia tanpa perlawanan berarti," kata gue sambil nyegir semilir.

Apal mati.
Oke, gue akhirnya buka kodingan yang ada, dan gue mulai nulis koding-koding ga jelas itu di kertas. Tiba-tiba, adek gue juga mulai koding, konak dingin-dingin.

Selese gue tulis, gue bawa kertas itu kemana-mana. Biasanya gue yang makan sambil nonton acara gosip, kali ini gue sambil nonton apalan kodingan. Biasanya gue yang boker sambil baca kontak jodoh di koran, kali ini bacanya apalan kodingan. Biasanya, gue mandi sambil nyanyi Sajojo, kali ini gue komat-kamit kodingan. Segala macam yang gue lakukan, diselipin dengan kodingan, sampe pantat gue juga gue selipin kertas kodingan, biar kalo kentut bunyinya bukan 'pret kampret', tapi 'ding koding'.

Akhirnya gue jalan ke kampus. Selama gue jalan ke kampus, mulut gue ga brenti-brenti komat-kamit kodingan. Pas di lampu merah, ada orang yang nanya jalan.
"Mas, numpang nanya, kalo mau ke Senayan ni ke arah mana ya?" tanya orang itu.
"Nanti pas current nunjuk ke N, mas sama aja kayak A," jawab gue.
"Hah? Gimana mas?"
"Iya kalo headnya sama dengan null, brarti head itu sama aja tail sama aja current," jelas gue lagi.
"Mas sarap ya?" kata orang itu sambil jalan pas lampu berubah jadi ijo.

Sampe di kampus, pas jalan dari parkiran. Mata gue ga brenti ngeliat ke kertas kodingan. Mungkin, kalo orang ngeliat gue jalan, disangkanya gue lagi nyari harta karun di kampus.

Di depan lab, gue duduk sambil baca kodingan pake komat-kamit. Temen sekelas gue, yang umumnya adek kelas gue, masang muka ngeri liat gue. Mungkin mereka takut gue santet. Pokonya, ga lama pas gue duduk terus komat-kamit koding, mereka langsung pada masuk ke ruang ujian.
Silit.

Di dalem, pas lagi ujian, akhirnya komat-kamit yang dari tadi gue baca, gue masukin semua. Masa bodo ah mau sesuai soal apa enggak, yang penting gue ngetik-ngetik, yang penting kibor gue bunyi, yang penting gue negliat ke monitor, yang penting gue keliatan pinter bikin minder semua.

Akhirnya, semua apalan mati gue tulis dalam waktu 30 menit.
Bapet, masih lama sampe ujian slese. Akhirnya gue mulai bengong-bengong ga jelas. Sebelah kiri gue, ada senior gue lagi, Arjuna, lagi ngeliat kertas contekan.
Kunyuk.

Kenapa gue ga kepikiran buat ngebet aja ya dari tadi? Bege.

30 menit kemudian.
Sebelah kanan gue, adek kelas gue. Daritadi dia emang tekun banget ngerjain soal ujian. Idung, mata, sama mulutnya udah pada ngumpul di tengah muka, pusatnya di bingkai kacamatanya yang tebel. Khusus mulutnya, dia ga mingkem. Kalo diliat-liat, kayak babi lagi disodomi. Muka dia pun maju sampe cuman berjarak sepuluh sentimeter dari layar monitor. Dia akhirnya berdiri. Iye, die udah slese.
Sundel.

5 menit setelah adek kelas gue yang tadi keluar, Arjuna ikut keluar. Muka dia udah pasrah, kayaknya contekan dia ga ada yang nyambung, ato mungkin yang dia bawa itu list judul bokep yang harus ditonton.

Akhirnya, gue ikut keluar. Pasang muka senyum angkuh, seakan-akan gue bisa ngerjain semua. Pasang nyengir semilir, seakan-akan soal itu gampang banget buat gue. Segampang gue mencret. Padahal, tae kotok!

Monday, April 7, 2008

Pengambilan KMK

Hari ini, akhirnya gue mau pake salah satu foto gue yang dicetak sebanyak 36B (36 buah dada) hari Sabtu kemaren. Gue mau make foto itu buat ngambil Kartu Mata Kuliah (KMK) gue. Gue ngajak temen gue, sebut aja namanya Abud, buat ngambil KMK. Ga disangka-sangka, si Abud ini ternyata ga punya foto yang 3x4, dia punyanya yang 4x6.

"Gus, pinjem satu foto lo dong," kata Abud.
"Buat apaan Bud?" tanya gue.
"Ini, foto gue pengen gue potong, gue butuh ukuran 3x4. Sini makanya foto lo, biar gue cocokin ukurannya," kata Abud sambil nunjukin foto 4x6 yang gambar mukanya kayak penjual kain di Mayestik.
"Nih," gue ngasih foto ganteng gue.
"Masya Allah!" treak Abud.
"Kenapa Bud?"
"Muka lo bener-bener kayak penjahat kelamin, mesum banget Gus muka lo!"
"..."
Cumi rebus.

Akhirnya, si Abud ngukur fotonya jadi seukuran foto gue. Terus dia mulai gunting fotonya sesuai aturan pakai. Sayangnya, si Abud ini, biar punya muka kayak penjual kain Mayestik, tapi tetep aja dia ga jago dalam hal gunting-menggunting, sunat-menyunat. Jadi, hasil guntingan foto dia ga lurus, kanan kirinya ga rata, alias: miring.

"Yah miring Gus," kata Abud sambil ngeliat fotonya.
"Ga apa-apa Bud, otak lo juga udah miring," hibur gue.
"Kayaknya bukan gitu Gus."
"Terus kenapa dong?"
"Yang jadi masalah, gue make foto lo buat jadi patokan ukuran."
"Lah, emang kenapa Bud?"
"Pantat lo miring sebelah soalnya," katanya dengan muka polos.
Gue ngeliat pantat gue, apa bener miring sebelah. Ternyata lurus-lurus aja kok. Rata malahan.

Akhirnya gue sama Abud dateng ke layanan mahasiswa kampus gue. Di situ gue dapet antrian nomor 443, sedangkan saat itu nomor antrian masih nyampe 420.
Kunyuk. Masih lama.
Akhirnya gue nunggu di situ.

20 menit kemudian.
"Nomor empat empat tiga!" kata seorang petugas layanan yang ada di meja nomor 2.
"Ya! Saya mbak!" treak gue, "Ayo Bud, giliran kita nih!" ajak gue ke Abud.
"Yuk. Eh yang jaga si Luna tuh! Asik!" kata Abud penuh birahi.
Luna ini nama samaran, demi menjaga keselamatan dia dari para lelaki mesum yang berkeliaran di kampus gue. Luna, salah satu embak-embak layanan yang oke. Bisa dibilang dia maskotnya bagian layanan mahasiswa. Mukanya manis, kulitnya putih, bodynya juga lumayan lah. Andaikan di layanan mahasiswa ini ada layanan 'yang lain', pasti tiap hari banyak mahasiswa yang dateng ke sini.

Gue dateng ke mejanya Luna.
"Ngambil KMK mbak!" kata gue bergejolak.
"Binus cardnya bawa?" tanya Luna sambil senyum.
"Ini mbak!" gue ngasih foto ganteng gue sama kartu mahasiswa gue yang di kampus gue disebut 'BiNus Card'.
"Ini punya saya juga mbak," kata Abud ga kalah bergejolaknya dari gue. Iler dia sampe netes.
Akhirnya si Luna ke belakang buat ngambil KMK punya gue sama punyanya si Abud.

Tiba-tiba, pas gue lagi nungguin Luna ngambil KMK gue, dateng 3 orang cewek yang juga temen gue. Sebut aja nama mereka Atun, Zaenab sama Nunung.
"Gus, gue nitip dong punya kita juga," kata Atun sambil ngasih 3 Binus card beserta 3 foto mereka.
"Oke!" jawab gue.
Gue liat foto mereka satu-satu. Foto si Atun kayak muka anak SMP yang ga ngerti apa-apa. Fotonya Zaenab, kayak Ibu-Ibu PKK dengan konde menggantung di kepalanya. Foto Nunung...ini nih yang paling ga wajar di antara mereka bertiga. Kalo yang laennya ngasih pas foto yang 'lumayan' wajar, si Nunung malah ngasih fotobox dengan gaya abege yang amat sangat norak. Gue geleng-geleng kepala.

Akhirnya, si Luna ngasih semua KMK yang diminta. Ternyata, foto gue dan foto temen-temen gue ga diperluin. Kampus gue ternyata masih ada cadangan foto kita. Jadi di KMK gue udah ada foto gue pas muka gue masih polos, masih virgin. Itu foto gue pas baru masuk kampus aneh ini.

Jadi, kemaren gue nyetak foto sebanyak 36 itu jadi sia-sia. Ga ada satupun yang dipake. Mungkin ada baiknya gue ngasih ke adek kelas gue yang cewek-cewek buat disimpen di diarynya mereka.

Pas gue jalan balik ke parkiran motor sama Abud, gue ngeliat-liat KMK gue. Gue perhatiin foto gue yang masih ingusan itu. Polos bener, jangan sampe Robot Gedek ngeliat ini, nanti dia bisa napsu sama gue, pikir gue.

Wush!

Tiba-tiba angin berhembus kencang. KMK gue jatoh ke belakang. Gue pun akhirnya mengambil KMK gue yang jatoh. Di saat gue mau ngambil KMK itu tiba-tiba ada sebuah taksi yang mau lewat dengan kecepatan sedang.
"AAAAAAHHHKK!" treak gue sambil ngeliat taksi itu. Muka gue udah siap buat mati.
"Guuuuuussssss!" treak Abud sambil monyong.

Akhirnya.
Ya akhirnya gue ga jadi di tabrak. Taksi itu langsung ngerem terus gue langsung ngindar beberapa saat sebelom gue ditabrak taksi itu. Lagian kalo gue ditabrak, ga mungkin lah gue nulis blog ini. Bege ah.

Saturday, April 5, 2008

Kisah kusut di sekolah (Part 1)

Selain cerita motor, gue juga pengen nyeritain masa-masa gue di sekolah. Syukur-syukur kalo gue masih bisa inget dari pas gue disekolahin ngiler sama emak gue pas berumur 3 bulan.

Intinya sih sama kaya pengalaman naik motor gue. Cerita-cerita bodoh tentang di sekolah. Tapi bedanya, ini ga mesti pengalaman gue. Tapi ada juga hasil wawancara pengalaman temen-temen gue.

Kalo kata lagu Chrisye:
Tiada masa paling indah,
masa-masa di sekolah,
tiada kisah paling indah,
kisah kasih di sekolah.

Kalo kata gue:
Tiada masa paling aneh,
masa-masa di sekolah,
tiada kisah paling aneh,
kisah kusut di sekolah.



1. Lele pun bisa nampar kalo mau

Cerita ini bukan pengalaman pribadi gue, tapi pengalaman temen satu SMA gue, Putra. Dia itu sebenernya satu SMP sama gue, tapi gara-gara epilepsi, pas kelas satu SMA dia dideportasi ke Padang sama bokap nyokapnya. Gue kasian pas tau berita itu.

Beruntung, epilepsi dia ilang pas kelas dua SMA. Dia akhirnya masuk ke SMA gue. Dia dimasukin ke kelas II-3. Di situ, ada anak baru juga, tapi lebih duluan satu bulan daripada Putra. Sebut aja anak itu namanya Nico, karena emang rambutnya mirip Nicolas Saputra waktu pas jadi Rangga di Ada Apa dengan Cinta?

Akhirnya, Putra duduk satu bangku sama dia. Katanya Putra, dia sempet takut pas disuruh duduk sama Nico ini. Soalnya, biar rambutnya kayak Nicolas Saputra, tapi mukanya kayak preman Tanah Abang, jembutnya kayak akar serabut, dan gambrisnya digimbal. Dengan sangat terpaksa, Putra duduk di sebelahnya sambil terus ngebaca ayat kursi dalem hati.

"Eh Co, guru-guru di sini kayak gimana sih?" tanya Putra sok asik. Putra ini emang orangnya sok asik.
"Baek-baek semua kok, tiap pagi kita disuruh ngaji semua," jawab Nico dengan cengiran Tanah Abang.
"Jadi ga pernah ada yang maen tangan ni?" tanya Putra lagi buat mastiin.
"Enggak!" si Nico menjawab dengan mantapnya, semantap preman Tanah Abang nusuk orang.
PLAK!
Ga nyampe 5 detik setelah Nico bilang enggak, tiba-tiba aja anak yang ada di meja sebelah mereka, sebut aja namanya Bams, di tampar sama guru. Masalahnya sepele: GA BAWA BUKU.

Putra langsung shock. Epilepsinya kumat.
Nico tetep masang muka stay cool, layaknya Rangga lagi bacain puisi buat Cinta.

Sang pelaku penamparan Bams itu adalah guru KeMuhammadiyahan. Guru itu, sebutlah namanya Joni, biasa dipanggil lele sama anak-anak. Iya, kumisnya kayak lele.

Sebenernya dia itu punya sosok guru yang beribawa, tapi sayangnya kumis lelenya bikin wibawa dia jatoh ke empang.

Besokannya, Putra ga masuk sekolah 3 hari gara-gara epilepsinya kambuh.
Si Nico, masih tetep masang muka stay cool, buat nyari 'Cinta'nya yang telah ia tinggalkan ke Amerika.
Si Bams, korban penamparan, mulai rajin bawa buku. Isi tasnya jadi penuh sama buku, bahkan buku TTS yang ada gambar model-model kampung pake bikini pun dia bawa.
Pak Joni alias Pak Lele, masih tetep punya kumis lele yang siap matil siapa aja yang ga bawa buku selama pelajarannya.

6 x 6 = 36B

Sebagai mahasiswa, gue harus bersikap apa adanya. Bukan saatnya lagi kalo gue ada keperluan ngerengek sama emak babeh. Gue harus swasembada. Gue harus menuhin keperluan dan kebutuhan itu sendiri, biarpun duit yang ada di dompet pas-pasan. Tapi itu udah prinsip idup gue yang udah didoktrin ke dalem diri gue sendiri dari gue masih kecil. Yaitu, gue ga mau nyusahin orang tua.

Nah, semester ini, gue harus ngambil KMK (Kartu Mata Kuliah) buat nanti ujian gue. Buat ngambil KMK itu, gue harus punya pas foto ukuran tiga kali empat. Di sinilah masalah itu muncul, pas foto gue ternyata abis. Maklum, banyak cewek-cewek minta. Alesannya sih buat data inilah, itulah, tapi palingan buat disimpen di dalem diarynya mereka, terus dibingkai pake gambar loph-loph. Pret.

Kalo gue foto ulang pasti makan biayanya lebih banyak daripada gue cetak foto lagi. Akhirnya gue milih cetak foto gue yang ada di komputer gue. Itupun foto yang gue minta tolong temen gue, si Andy buat motoin.

Dulu, waktu pengambilan gambar tersebut, berkali-kali gue minta ulang foto sama dia. Soalnya, dia emang ga ahli dalam dunia potret-memotret. Alhasil, muka gue jadi keringetan di foto itu, gara-gara gue harus ngejelasin dia berkali-kali cara ngambil foto yang bener itu gimana.
"Jadi ya nyet, lo pegang tu kamera gue, lo arahin ke muka gue. Jangan, jangan satu badan, cukup dada sampe muka gue aja. Udah? Kalo udah lo pencet tu tombol yang ada di telunjuk lo," jelas gue sambil duduk.
Jepret!
"Coba nih liat Gus," kata Andy dengan muka kayak orang abis dipecut.
"Sini," kata gue sambil ngambil kamera gue dari kaki, eh tangannya.
Geblek.
Tu foto ga fokus, fokusnya malah ke tembok di belakang gue.
"Coba lo duduk di kursi deh nyet," perintah gue.
"Ngapain?" tanyanya dengan muka masih kayak abis dipecut tititnya.
"Gue atur pokusnya, nanti lo tinggal jepret aje, oke!"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Andy langsung duduk di tempat tadi gue diambil gambarnya. Gue ngeliat ke dalem kamera gue, gue atur fokusnya. Sip, dapet. Kali ini mukanya Andy udah kayak monyet horny tapi ga punya lawan maen.
"Sip nyet, buruan lo ke sini. Pegang kamera gue, tapi jangan sampe geser ya, fokusnya udah pas!" perintah gue ke monyet horny.
Tanpa berbicara, dia melakukan perintah gue.
Hasilnya: lumayan.
"Tapi ko kurang oke ya kayaknya, ulang deh nyet!"
"Kayanya, masalah oke ga okenya ada di muka lo de, Gus."
"..."
Bapet.
Akhirnya setelah beberapa pengambilan, gue dapet satu yang bener-bener lumayan.

Nah, hari ini, gue bawa foto itu ke tempat percetakan di deket kampus gue. Pas di dalem, percetakan itu lagi rame. Gue ngantri akhirnya. Ga ada kerjaan, gue akhirnya bengong ngeliatin keluar jendela, banyak cewek cakep berseliweran di depan. Terus, ada satu cewek dengan dada bergoyang-goyang lewat. Gue cuman bisa ngiler, untung ga mimisan.
"Mas, mas. Sadar mas. Mana yang mau dicetak?" tiba-tiba mas-mas penjaga percetakan itu nyadarin gue dari bengong gue.
Curut.
Ke gep gue lagi ngeliatin cewek.
"Maap mas, ga sadar. Ada bidadari ukuran 36B lewat," kata gue dengan mata masih kegambar dada 36B.
Mas-mas itu cuma bengong. Akhirnya gue kasih flesdis gue ke dia.

"Yang mana nih mas?" tanyanya pas buka flesdis gue.
"Itu mas, yang paling ganteng gambarnya," kata gue penuh energi sambil nunjuk foto gue yang terlihat kaya abege horny.
Mas-mas itu nengok ke arah gue, "Ganteng ya?"
"Iya mas!" jawab gue masih penuh energi.
"Kayanya enggak de," katanya singkat.
Energi gue langsung ilang.

"Jadinya berapa banyak nih mas tar fotonya?" tanya gue.
"Lo perlunya brapa banyak?"
"Buat hari ini sih cuman satu"
"Satu ya?" tanyanya sambil ngangguk-ngangguk bingung.
"Iya satu, kenapa emang mas?" tanya gue bingung juga.
"Kita ga bisa cuman nyetak satu."
"Terus?"
"Nanti lo gue bikinin 36," katanya sambil nengok ke arah gue.
"Hah 36B mas? Gede dong mas?"
"..."
Mas-mas itu diem lagi. Akhirnya dia ngomong, "36 foto mas."
"Oalah! Maap, maap! Gue kira 36B kayak punyanya bidadari yang tadi lewat," kata gue sambil ngangguk-ngangguk sok asik.

Akhirnya mas itu langsung ngurutin foto gue jadi 6 foto mendatar, 6 foto menurun.
6 x 6 = 36B, eh 36 foto maksudnya.
Sip, cetak!

Naik motor itu menyenangkan! (Part 3)

3. Jack si tukang ojek: lebih dari 40 km/jam.

Kejadian ini baru terjadi 2 minggu yang lalu, pas Jakarta lagi sepi-sepinya gara-gara long weekend dari hari kamis sampe minggu. Nah kejadian ini, hari Jumatnya.

Ceritanya, gue hari itu ga ada kerjaan di rumah, sendirian pula. Emak gue pergi sama kakak gue. Gue udah bete ga ada kerjaan, maksud hati sih emang lagi pengen nyendiri nenangin diri, tapi lama-lama jadi kesepian juga. Ibaratnya kayak monyet ga bisa nemuin kutu. Ga nyambung kan? Emang.

Selesai solat Jumat, gue langsung pulang ke rumah. Baru aja nyampe rumah, tiba-tiba hape gue bunyi.
"Gus," kata suara di seberang, yaitu Nyokap gue.
"Kenapa bu?" tanya gue.
"Kamu buruan ya ke sini, ke Bintaro Plasa, cepet!"
"Kenapa emangnya Bu?" tanya gue dengan muka heran.
"Kita nonton Ayat-Ayat Cinta, katanya kamu mau nonton, ni udah Ibu beliin tiketnya."
Iye, gue nonton Ayat-Ayat Cinta, gue yang minta nonton malahan.
"Ya udah aku naek motor ke sana sekarang," jawab gue penuh semangat yang membara kayak orang ngeden pas boker.
"Ga usah naik motor! Naik angkot aja ato enggak ojek!" kata Nyokap gue ga kalah semangat.
"Hah? Kenapa emangnya? Kan cepetan aku naik motor sendiri?"
"Biar kamu pulangnya bisa bareng Ibu, udah cepet naik ojek, nanti Ibu ganti uangnya!"
"Iya," jawab gue singkat.

Kalo dipikir-pikir, bener juga kata Nyokap gue. Di hari yang panas kayak gini, mending gue naik ojek aja, trus pulangnya bareng Nyokap gue naik mobil. Daripada gue kepanggang kayak sate cacing. Udah gitu dibayarin pula ojeknya, lengkap, hari ini gue bisa menghibur diri tanpa harus mengeluarkan uang. Sungguh orang tua yang penuh pengertian.

Akhirnya gue langsung keluar rumah, jalan ke depan.
Kunyuk.
Panas bener ini. Dan dengan jeniusnya, gue pake kaos warna item pekat. Bagus, sesuai nama gue.

Gue nyampe di pangkalan ojek depan komplek gue.

"Ojek bang!" treak gue ke kumpulan ojeker (tukang ojek) yang lagi ngerubungin dua ojeker ngadu gundu.
Akhirnya salah satu ojeker yang lagi maen gundu itu jalan ke arah gue dengan muka kentang. Soalnya dia lagi mau nyentil biji gundunya (bukan bijinya sendiri atau ojeker yang lain), tapi berhubung ini giliran dia buat ngojek, jadi mau ga mau dia harus meninggalkan arena pertarungan itu.

"Kemane?" tanya ojeker itu sambil masang muka masih kentang. Kali ini kayak kentang goreng.
"Binplas bang!" jawab gue dengan muka terong.
"15rebu ya!" kata dia matok harga.
"Ceban aja de, oke?"
Dia mikir-mikir sebentar, garuk-garuk kepala, bibir komat-kamit, duduk bertapa, akhirnya mulutnya keluar busa warna ijo. Lebay ah.
Dia cuma mikir sebentar, "Iya deh," dia setuju tawaran gue.

Ahahahah!
Baru kali ini gue sukses menawar! Biasanya, mana pernah gue bisa nawar. Biasanya langsung oke aja di patokan harga yang pertama. Iye, gue geblek.

Akhirnya ojeker itu ngambil jaket kulit warna itemnya yang di gantung di pohon. Dengan jaket kulitnya itu, tubuh cekingnya jadi keliatan macho sedikit. Tapi mukanya tetep keliatan kakek-kakek, umur ga bisa nipu, begitu juga muka ojeker ini yang emang udah tua dengan rambut botak beruban.

"Kite lewat jalan belakang aje ye," katanya sambil masang helm di kepalanya.
Belakang? Dududuh! Haram! Ga boleh itu. Laknat!
"Jalan belakang?" tanya gue parno, takut disodomi.
"Iye, lewat komplek belakang, lebih cepet," jelasnya singkat.
"Ohh lewat situ, gue kira apaan," gue lega ga jadi disodomi.

Ojeker itu pun langsung naik ke motor bebeknya. Nyalain motor. Gue juga langsung naik ke atas motornya itu. Cihuy! Gue berangkat!

"Eh, kayenye kite lewat jalan biase aje ye?" katanya sambil nengok ke belakang, ke arah gue.
"Nape emang?" tanya gue yang ga tau kenapa jadi ikutan logat betawi.
"Pan sekarang hari libur, jalanan sepi, lewat situ aja ye?"
"Iyak!"

Ngeng!

Awal-awal perjalanan sih masih nyaman buat gue, angin masih semilir, sepoy-sepoy nimpe, eh nimpa muka gue. Tapi setelah masuk ke jalan raya yang gedean dikit, mulai ni ojeker tua keladi ini menambah gas motornya dengan penuh birahi layaknya nemuin daun muda perawan di depannya.

Wuss! Wuss! Wuss!
Selip sana, selip sini. Tanpa pandang bulu jembutnya, ojeker ini nyelip-nyelip angkot, mobil, sampe metromini yang ada di hadepannya. Miring kiri, miring kanan. Gue cuman bisa berharep supaya dia ga miring ngesot nyosor tanah lewat kolong bis.


"Sepi ye bang? Mobil-mobil cuman dikit!" treaknya,
"Iyeeeeeeeeee!" treak gue lebih kenceng gara-gara jantung gue mompa darah kebanyakan ke mulut gue.

Gue perhatiin spidometer motornya.
Kampret.
Dari pertama gue liat sampe 1 menit gue perhatiin, kagak pernah tu jarum turun dari garis 40. Gue serasa jadi kaya penumpang bis yang ada di film Speed. Bedanya kalo di bis itu ada bom yang bakal aktif kalo spidometer bis nunjuk di angka bawah 50. Nah, kalo keadaan gue, kalo jarum spidometer motor ini di bawah 40, mungkin si ojeker bakal langsung kecepirit kali. Persamaannya: GA ADA. Tapi gue cuman bisa ngebayangin kalo si ojeker ini layaknya Keanu Reeves yang jadi Jack di pelem Speed itu. Mereka sama-sama menjalankan tugas dengan penuh birahi, kayak abis minum pil biru dicampur viagra.

Buat ngurangin rasa parno gue, gue coba inget-inget hal yang lucu.
Ga tau kenapa, tiba-tiba gue kepikiran iklan yamaha jupiter em eksnya komeng. Gue inget bibirnya komeng klewer-klewer kaya lemak kuda nil digeter-geterin. Tu bibirnya komeng bisa kayak gitu gara-gara motornya kekencengan waktu membelah jalanan, juga angin. Motor yang gue naikin udah kenceng. Gue coba mangap. Hap!

HOEK!
Gue masuk angin.
Teori muka klewer-klewer Komeng gagal.
Mungkin gara-gara motornya bukan Yamaha Jupiter MX kali ya?
Gue ga ngiklan. Sumpah.

Akhirnya, gue tiba dengan selamat sentosa penuh nikmat tiada tara.
Fuh!
Makasih Jack, pengalaman pertama memang begitu menggoda. Selanjutnya terserah gue. Yang pasti gue ogah naek ojek lo lagi.
Kapok!